Saat ini sumber daya manusia (SDM) menjadi semakin penting, berkat perubahan paradigma faktor utama produksi yang tidak lagi di dominasi oleh produk fisik dan berubah menjadi produk-produk kreatifitas manusia. Pendidikan menjadi semakin krusial dan lapangan kerja semakin kompetitif. 

World Economic Forum (WEF) kemarin (13/9) melansir laporan Global Human Capital Report 2017 yang mengkaji kualitas sumber daya manusia di 130 negara. Dalam laporan tersebut tercantum seberapa berkualitas tiap-tiap golongan umur lewat empat elemen indikator human capital, yakni capacity (kapasitas kemampuan pekerja berdasarkan melek huruf dan edukasi), deployment (tingkat partisipasi pekerja dan tingkat pengangguran), development (tingkat pendidikan dan partisipasi pendidikan), dan know-how (tingkat pengetahuan dan kemampuan pekerja serta ketersediaan sumber daya).

Berdasarkan empat indikator tersebut WEF kemudian melakukan pemeringkatan untuk mencari negara-negara mana yang telah berhasil membangun sumber daya manusianya dengan baik. Indonesia dalam daftar tersebut menempati peringkat 65 dari 130 negara. Ini artinya Indonesia berada di tengah-tengah peringkat dunia. Namun meski berada tepat di tengah, penilaian Indonesia dianggap masih berada di atas rata-rata dunia. 

Peringkat tersebut diraih Indonesia berdasarkan capacity yang berada di peringkat 64 dengan nilai 69,7. Nilai ini didasarkan pada tingkat buta huruf dan kemampuan berhitung yang telah mencapai nilai 99,7 di golongan umur 15-24 tahun. Hal ini kurang lebih sesuai dengan klaim pemerintah yang beberapa waktu lalu melansir bahwa Indonesia hampir 100% bebas buta huruf. 

Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa buta aksara di Tanah Air tersisa 3,4 juta orang. Angka ini tampaknya juga terlihat dalam kajian WEF yang menjelaskan bahwa kesadaran literasi dan kemampuan berhitung di kisaran umur 55-65+ masih kurang dari 90%. 

Indikator selanjutnya yang menentukan adalah deployment. WEF menilai Indonesia berada pada peringkat 82 dunia dengan skor 61,6. Nilai ini didasarkan pada nilai-nilai penyerapan sumber daya manusia dan tingkat pengangguran di berbagai jenjang umur cukup tinggi. Bahkan di golongan umur paling produktif, 25-54 tahun, Indonesia masih berada di peringkat 99 dunia dengan angka partisipasi mendapat nilai sebesar 77,9. Di peringkat ini negara Burundi menempati peringkat pertama. 

Dalam hal development, indikator ini menjadi indikator terbaik menurut WEF untuk Indonesia. Kondisi pendidikan di Indonesia mendapatkan skor 67,2 dan menempati peringkat 53 dunia. WEF menilai bahwa Indonesia telah mampu membuat partisipasi pendidikan dasar mencapai nilai 92,9. Namun penilaian lain dalam hal kualitas pendidikan dasar, Indonesia mendapat nilai cukup rendah, dengan skor 54,8. Dalam peringkat ini Finlandia menempati peringkat pertama sebagai negara terbaik. 

Indikator terakhir know-how, dalam penilaian pos ini Indonesia mendapat nilai 50,2 dengan peringkat 80. Penilaian ini berdasarkan tingkat penyerapan sumber daya manusia berkemampuan tinggi yang mendapatkan nilai 9,9. Sementara Indonesia mayoritas telah mampu menyerap sumber daya manusia kemampuan menengah. Peringkat pertama di indikator ini adalah negara Swiss. 

WEF dalam kesimpulannya, menemukan bahwa dalam indeks ini rata-rata negara-negara di dunia ternyata hanya menggunakan 62% potensi dari sumber daya manusianya. Dengan kata lain sebesar 38% potensi telah terabaikan atau sia-sia. Dengan hanya terdapat 25 negara saja yang telah memanfaatkan potensi sumber daya manusia hingga angka 70%. 

Sementara tiga Negara terbaik yang telah mampu memaksimalkan potensi human capital pada tahun 2017 ini adalah Norwegia, Finlandia dan Swiss. Negara-negara tersebut dinilai merupakan negara yang memiliki komitmen besar terhadap pendidikan dan intensif mengembangkan kemampuan sumber daya manusia di berbagai sektor. Sehingga tidak heran jika negara-negara tersebut menjadi negara yang memiliki kekuatan ekonomi tinggi.

Di Asia Timur dan Pasifik, WEF mencatat bahwa Singapura (peringkat 11) menjadi negara yang terbaik disusul dengan Jepang (peringkat 17) dan Korea Selatan (peringkat 27). Ketiganya merupakan negara di Asia Timur yang memiliki komitmen terhadap peningkatan potensi manusia lewat pendidikan. 

Founder dan Executive Chairman WEF, Klaus Schwab menjelaskan bahwa laporan ini merupakan upaya untuk memberikan sebuah alat ukur bagi para pemimpin negara agar bisa memberikan kebijakan yang baik. Tujuannya adalah agar semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuannya dalam era revolusi industri keempat. Sehingga mampu untuk membuka kesempatan di zaman emas perkembangan dan potensi umat manusia. 

Kualitas sumber daya manusia dalam pandangan WEF tidak hanya penting bagi produktifitas bagi masyarakat tetapi juga memiliki fungsi dalam institusi politik, sosial dan sipil. Sehingga memahami kualitas sumber daya manusia dan kapasitasnya menjadi sesuatu yang penting bagi pemerintah, pelaku bisnis dan pelaku pendidikan sebagai pemangku kepentingan (stakeholder) dalam melakukan investasi dan pengembangan.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu