Oleh: Ahmad Cholis Hamzah.

Berkecimpung di dunia pendidikan tinggi seperti penulis, terkadang memiliki rasa kecewa terhadap mutu pendidikan tinggi di Indonesia, dimana perguruan-perguruan tingginya belum bisa mencapai ranking tinggi di tingkat global, jauh di bawah beberapa perguruan tinggi – jangankan dari Amerika Serikat dan Eropa tapi dari negara-negara tetangga sendiri.

Sering juga muncul rasa galau kenapa teman-teman dosen atau yang sudah menjadi Guru Besar tidak pernah menulis di media, membuat buku atau melakukan penelitian di tingkat global – yang tidak hanya penelitian biasa, tapi penelitian yang berisi inovasi-inovasi baru. Belum lagi membaca data dari Kementrian Dikti yang menyebutkan ada banyak perguruan tinggi yang ditutup karena tidak memenuhi persyaratan minimal menjadi sebuah perguruan tinggi. Meskipun demikian tentu hal-hal tersebut diatas tidak menyurutkan hati penulis untuk tidak  bangga pada alma mater dimana penulis punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi sampai menjadi sarjana.

Mahasiswa-mahasiswa Malaysia | thewire.in
Mahasiswa-mahasiswa Malaysia | thewire.in

 

Beberapa bulan sebelum tulisan ini di buat, penulis secara tidak sengaja bertegur sapa dengan seorang pria yang tegap (umurnya dibawah penulis) dengan beberapa anak gadisnya di ruang tunggu Terminal 2 Bandara Internasional Juanda Surabaya. Pria tersebut ternyata seorang Jendral Angkatan Darat Kerajaan Malaysia, seorang Panglima di institusi pendidikan militer seperti Lemhanas di Indonesia.  Penulis bertanya dalam rangka apa di Surabaya, beliau menjawab baru saja mendampingi putrinya diambil sumpah sebagai doker gigi di Universitas Airlangga- almamater penulis. Dengan rasa heran penulis bertanya: “with due respect General (dengan segala hormat)….kenapa anda memilih FKG Unair. Beliau menjawab “because it is the best”. Tentu keheranan penulis bertambah “really….?”, kenapa tidak ke UK atau Australia yang umumnya orang-orang Malaysia bangga kalau studi di sana.

Pada tanggal 26 Agustus 2017, penulis berkesempatan pergi ke Kuala Lumpur Malaysia dengan Rektor, Wakil Rektor dan beberapa Dekan dan kolega penulis dari Ikatan Alumni Universitas Airlangga (UA) untuk menghadiri pertemuan dengan alumni Universitas Airlangga yang orang Malaysia, sekaligus melantik Ketua dan Pengurus IKA UA –Malaysia.

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

 

Rasa heran penulis tentang kenapa orang-orang Malaysia itu mau belajar di Universitas Airlangga terjawab ketika sekitar 100 warga negara Malaysia alumni Universitas Airlangga hadir dalam penghelatan itu. Sebelum acara sambutan-sambutan, mereka dengan bangganya menyanyikan Hymne Universitas Airlangga yang mereka hafal sejak masuk bangku kuliah, padahal di Hymne itu ada lirik: “Belajar Untuk Nusa, Indonesia yang Kucinta….” . Sampai Rektor UA dalam sambutannya sambil bergurau mengatakan bahwa untuk alumni UA dari Malaysia lirik “Indonesia yang Kucinta” itu bisa dirubah bilamana menyanyikan hymne itu dengan “Malaysia yang Kucinta”.

Dalam pertemuan itu hampir semua alumni UA menyatakan kebanggaan mereka belajar di Universitas Airlangga. Kebanggan itu juga ditunjukkan di kartu nama mereka yang menyebutkan sebagai lulusan Universitas Airlangga. Memang umumnya orang-orang dari negara jajahan Inggris seperti Malaysia, nama alumni perguruan tingginya di cantumkan setelah atau di bawah nama, misalnya Dr. Abdullah, University of Airlangga, University of Putra Malaysia (UPM). Mereka dengan bangganya menyebutkan nama Universitas Airlangga itu di urutan pertama di kartu namanya.

Seorang alumni senior (seorang dokter) dalam acara tersebut menjelaskan bahwa sejak 1970 hingga sekarang Alumni UA dari orang Malaysia sudah cukup banyak. Mereka menduduki posisi penting dan strategis, mereka menduduki posisi penting dan strategis, misalnya sebagai pejabat tinggi di Istana Agong (raja), politisi parlemen di negara bagian, sebagai direktur rumah sakit dibeberapa negara bagian, Lembaga Akreditasi Rumah Sakit, pejabat penting di media, di kantor Imigrasi,  bahkan dia mengatakan ada alumni UA yang menjadi penasehat senior kesehatan Presiden Mugabe di negara Zimbwabe Afrika.

Dia mengatakan sekarang ini kalau akreditasi kesehatan dan rumah sakit mesti di-cek mereka alumni darimana dan alumni dari Universitas Airlangga akan jadi prioritas. Dia melanjutkan testimoninya bahwa studi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu terlalu lama, namun program Universitas terjun kedesa membuat alumni Kedokteran UA tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi di masyarakat.

Dalam pertemuan itu beberapa alumni mengutarakan keinginannya agar Indonesia atau Universtas Airlangga membuka kesempatan lebih banyak warga Malaysia yang diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Universitas Airlangga.

Ini membuktikan kepada publik beberapa perguruan tinggi kita di mata publik mempunyai daya tarik yang tinggi di Malaysia.  "Jadi dari sisi pendidikan Indonesia sudah bagus kualitasnya.

Beberapa alumni sambil bercanda mereka mengatakan, tidak ada alumni Unair di Malaysia yang jadi `bajingan`. Ada juga yang masih ingat bahasa Jawa Surabaya, atau ingat kode 3 T, yaitu Tempe , Tahu dan Telor – makanan utama mereka di tempat kos di Surabaya. Jadi mereka tidak hanya tertarik studi tetapi juga belajar budaya di Indonesia.

Tentu tulisan ini dari perspektif penulis sebagai alumni Universitas Airlangga yang berkisah tentang alumni nya yang ada di Malaysia. Tapi sebenarnya banyak juga warga Malaysia itu yang belajar di berbagai Perguruan Tinggi ternama seperti UI, UGM,ITB, IPB dan lain-lainnya dimana para alumninya juga banyak menduduki posisi penting di negaranya.

Karena itu yang membanggakan bagi penulis bukan UA-nya saja tetapi Indonesia. Bangga karena warga negara lain sangat cinta dengan perguruan tinggi di Indonesia.

Sangat naïf bagi penulis sendiri kalau hanya complain tentang almamaternya, sementara orang Malaysia malah bangga menjadi manusia penting hasil didikan Indonesia.

 

*) Ahmad Cholis Hamzah, alumni Universitas Airlangga, University of London, Ketua Departemen Kajian Internasional dan Pemberdayaan Alumni Global, Ikatan Alumni Universitas Airlangga, dosen di STIE PERBANAS, STIESIA dan Wakil Rektor Universitas Sunan Giri Surabaya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu