Sekelumit Cerita Tentang Sejarah “Ojek” di Indonesia. Yuk Cari Tahu!

Sekelumit Cerita Tentang Sejarah “Ojek” di Indonesia. Yuk Cari Tahu!
info gambar utama

Ojek, siapa yang tidak tahu dengan profesi yang satu ini? Sebagai salah satu moda transportasi yang paling gampang ditemui, ojek merupakan salah satu pilihan yang tepat di tengah kemacetan dan keriuhan jalan raya. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan ojek menjadi alternatif utama ketika jalanan padat merayap dengan kendaraan roda empat. Hingga kini ojek terus bertahan, bahkan berevolusi dengan teknologi dan merambah dunia digital menjadi ojek online.

Namun, bagaimana awal mula ojek muncul di Indonesia? Tanpa kita sadari, ojek pun mengalami metamorfosis baik dari segi alat, pengguna, maupun Sistem kerja yang ada. Ojek mengalami perkembangan yang begitu signifikan, dan siapa sangka bahwa awal mula kemunculan ojek justru berasal dari sebuah desa kecil di Pulau Jawa?

Sepeda adalah awal mula moda transportasi ojek (boombastis.com)
info gambar

Dilansir dari historia.id, ojek telah berkembang di Indonesia sejak tahun 1969 di pedesaan Jawa Tengah. Kondisi jalan desa yang tidak memungkinkan untuk dilalui mobil menyebabkan sejumlah orang menawarkan ojek sepeda pada penduduk desa. Kala itu, sepeda yang digunakan sebagai moda ojek adalah sepeda – sepeda pada zaman sebelum perang dunia II. Sepeda – sepeda tersebut dikenal sebagai sepeda yang kuat dan kekar, yang kemudian digunakan pengojek untuk membonceng orang ataupun mengangkut barang titipan penumpang.

Lain di Jawa Tengah, lain pula di Jakarta. Ojek sepeda muncul pada tahun 1970 di Pelabuhan Tanjung Priok, seiring dengan adanya larangan terhadap bemo, becak dan lain – lain masuk ke lokasi pelabuhan. Dari sanalah, orang – orang yang memiliki sepeda mendapat kesempatan untuk menawarkan jasa pengangkutan. Dari Tanjung Priok, ojek menyebar ke berbagai kawasan seperti Ancol, Kota dan Harmoni. Ojek sepeda makin populer karena ongkosnya yang lebih murah dan sangat bisa diandalkan untuk perjalanan dengan jarak tempuh yang dekat.

Ojek Sepeda, masih eksis di beberapa kawasan di Jakarta (guguskata.com)
info gambar

Seiring berjalannya waktu, evolusi pun dimulai. Di saat warga Jakarta makin menggilai ojek sepeda, penduduk di Jawa Tengah mulai berinovasi. Kemunculan sepeda motor menjadi medium bagi penduduk desa untuk meng-upgrade jasa pengangkutan ojek, dari sepeda ke sepeda motor. Kala itu, sepeda motor yang digunakan adalah motor buatan Jepang dengan mesin 90cc. “Kita boleh pilih diboncengkan oleh pemiliknya yang bertindak sebagai sopir atau mengemudikan sendiri dengan membayar sewa yang notabene lebih sedikit dari memakai sopir,” tulis Kompas 9 Juni 1971.

Ojek sepeda motor berkembang hingga ke Jawa Timur. Sejumlah petani yang tertarik dengan profesi ini akhirnya tergiur untuk mengambil pekerjaan sambilan sebagai pengojek. Tempat yang umum menjadi pangkalan adalah pemberhentian bus, pertigaan, atau pun perempatan. Dengan tarif yang bisa dinegosiasi, pamor ojek pun makin menjadi. Hal ini berlanjut hingga ke Jakarta. Tahun 1974, seorang cukong membeli 20 sepeda motor dan membuat usaha ojek motor di Ancol. Sejak saat itu,ojek mulai ramai bermunculan di berbagai kota, semakin masif dari waktu ke waktu dan merambah ke berbagai wilayah.

Asal Mula Nama “Ojek”

Lalu, bagaimana dengan penamaan “ojek” itu sendiri? Terdapat sedikitnya dua versi yang ditemukan mengenai asal mula nama ojek. Versi pertama mengatakan bahwa kata ojek berawal dari kata “objek” yang kemudian dijadikan kata kerja dengan logat jawa menjadi “ngobjek” dan mengalami penurunan menjadi “ngojek” dan akhirnya profesi tersebut dinamai “ojek.” Sementara itu, W.J.S Perwadarminta mengartikan ojek sebagai sepeda yang ditaksikan, mengacu pada perkembangan awal ojek yakni sepeda yang digunakan sebagai alat pengangkutan.

Versi yang kedua menyatakan bahwa istilah ojek atau ojeg ini bermula pada dekade 1960-an di daerah pinggiran Jakarta. Kala itu ada seseorang yang menggunakan motor gede dengan membonceng orang lain di jok belakang, yang kemuian hilir mudik menantar dan menjemput orang di berbagai lokasi pinggiran Jakarta. Ia pun akhirnya dijuluki dengan kalimat “naik Oto duduk ngajejek,” yang akhirnya diakronimkan menjadi ojek. Sejak saat itu, kata ojek atau ojeg menjadi populer dan disematkan pada siapapun yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua untuk mengangkut penumpang.

Ojek Online (cms.kabar3.com)
info gambar

Walaupun pernah menjadi polemik sehubungan dengan pandangan bahwa sepeda motor bukanlah termasuk jenis angkutan massal dan penggunaannya sebagai sarana transportasi bertentangan dengan peraturan lalu – lintas, pertumbuhan ojek motor dari hari – ke hari menjadi makin pesat. Bahkan hingga hari ini, evolusi ojek motor bahkan merambah dunia digital. Keberadaan fasilitas ojek online dengan berbagai fasilitas pelayanan yang kekinian membuat pamor ojek tidak bisa terhindarkan. Tersebar dimana – mana, ojek masih menjadi primadona.


Sumber: historia.id || sejarahri.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini