Menakar Untung dan Rugi Konsep Cashless Society Indonesia

Menakar Untung dan Rugi Konsep Cashless Society Indonesia
info gambar utama

Teori ekonomi meramalkan bahwa tema ekonomi sebuah Negara akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan sumberdaya yang paling eksis di periode tersebut. Sejarah ekonomi telah tercatat capaian-capaian sukses tema ekonomi tertentu mulai dari ekonomi berbasis tradisional, berbasis pertanian, kemudian menjadi berbasis industri, berbasis perdagangan, berbasis informasi, berbasis kreatifitas dan pada saat ini adalah ekonomi berbasis pada teknologi yang mampu mengkolaborasikan seluruh tema yang pernah ada dan dianut oleh sebuah Negara.

Pada era ekonomi berbasis teknologi dan informasi ini dicirikan dengan adanya arus globalisasi, rantai perdagangan yang semakin pendek, tuntutan efisiensi tinggi, konsep share-economics dibandingkan kapitalisasi perseorangan , dan tentunya cashless society. Beberapa fenomena yang mencirikan ekonomi berbasis teknologi tersebut sebenarnya sangat mudah kita jumpai disekitar kita. Mulai dari semakin eksisnya platform bisnis online, runtuhnya industri konvensional padat modal dan mulai tumbuhnya industri share-economics yang dicirikan dengan membagi profit pada orang lain misal Gojek, Grab, dan Uber untuk jasa transportasi dan Airbnb untuk jasa perhotelan. Tentunya kondisi baru ini mau tidak mau akan merubah pola perilaku konsumen yaitu masyarakat sendiri agar bisa terus hidup berkesinambungan dan terpenuhi segala kebutuhannya. Masyarakat yang sebelumnya harus datang ke toko untuk membeli sesuatu, kini lebih memilih untuk order pada smartphone dan beberapa menit kemudian barang sudah tersedia di depan pintu rumahnya. Selain itu, dahulu masyarakat harus pesan hotel jauh jauh hari dengan segala kerepotan dokumen, kini hanya dengan smartphone, mereka telah memperoleh kamar yang mereka inginkan dengan segela fitur yang sangat bisa disesuaikan. Perubahan-perubahan ini adalah sebuah gelombang yang semakin hari akan semakin besar pengaruhnya pada hal-hal lain.

Kini, pemerintah telah mengarahkan kepada masyarakat pengguna jalan tol, bahwa mulai bulan Oktober nanti seluruh pembayaran pintu tol harus menggunkan e-money. Tujuannya tidak lain adalah efisiensi. Efisiensi baik dalam hal waktu dan energi. Karena pemerintah menilai bahwa antrian pada gerbang tol akan menagkibatkan inefisiensi pada waktu dan energi dan jika didenominasikan tentu akan sangat besar karena jumlahnya sangat masif. Selanjutnya, PT Pertamina juga sudah mempersiapkan pemberlakuan transaksi uang elektronik (e-money) pada tiap stasiun pengisian bahan bakar pertamina. Artinya semakin hari penggunaan e-money akan semakin inklusif.

Namun, terjadi juga polemik pada kasus e-money ini. Jika memang tujuan awal pemberlakukan e-money adalah efisiensi pembayaran, maka bagaimana mengenai biaya administrasi untuk setiap pengian ulang kartu e-money tersebut. Tentu jika teradapt fee khusus top- up, konsumen akan berpikir ulang. Selain itu tinjauan harga, adanya fee tersebut secara tidak langsung akan berdampak psikologis pada masyarkat dengan menganggap harga komoditas yang menggunakan e-money akan jauh lebih mahal meskipun hanya beberapa rupiah saja. Karena sejatinya konsumen adalah pihak yang paling peka terhadap perubahan dan kenaikan harga suatu komoditas. Jangan sampai adanya tujuan baik ini justru menjadi tambahan beban bagi masyarkat. Apalagi komoditas yang diberlakukan e-money adalah yang menyangkut harkat hidup masyarakat luas, missal seperti Bahan bakar Minyak tadi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini