Siapa Sangka, Ternyata Nelayan di Kecamatan Ini Gunakan Panel Surya Untuk Melaut

Siapa Sangka, Ternyata Nelayan di Kecamatan Ini Gunakan Panel Surya Untuk Melaut
info gambar utama
Adopsi teknologi panel surya di Indonesia bisa dibilang masih kurang populer meskipun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan menargetkan untuk bisa memasang 250 ribuan panel surya di wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) pada tahun 2018. Pun inisiatif tersebut dilakukan untuk kebutuhan listrik perumahan dan bukan untuk faktor-faktor produksi seperti kendaraan ataupun pabrik. Namun pemandangan berbeda terjadi di Brondong, Lamongan yang rupanya ratusan nelayan telah menggunakan panel surya untuk kebutuhan melautnya.

Sebagaimana diberitakan Mongabay Indonesia April lalu, bahwa ternyata belasan perahu di wilayah tersebut terlihat ada yang janggal. Kejanggalan tersebut tampak dari adanya panel-panel energi surya. Panel-panel tersebut dipasang di tangkai kayu atau bambu untuk menopang.

Pertanyaan pun muncul, untuk apa gerangan panel tersebut dipasang di kapal? Rupanya panel tersebut digunakan untuk mengisi daya ke aki setrum untuk penerangan kapal saat melaut malam hari.

Inisiatif sederhana ini terjadi secara mandiri dari kalangan nelayan sendiri. Padahal sebagian besar nelayan tidak mengerti soal teori ramah lingkungan ataupun jargon lainnya. Motivasi satu-satunya untuk menggunakan panel ini adalah karena praktis. Sebab para nelayan menilai, aki-aki yang diisi dayanya melalui listrik rumahan mudah rusak karena kerap harus dibongkar pasang dari perahu.

"Sekarang enak gak perlu cabut pasang ngisi aki di rumah atau toko setrum aki. Aki ditaruh di perahu saja,” ujarsalah seorang nelayan bernama Nurkholis.

Nurkholis menjelaskan bahwa aki yang digunakan untuk menyimpan energi panas matahari itu memiliki daya 70 ampere. Sejak menggunakan dua tahun lalu menggunakan solar panel, Nurkholis mengaku tidak pernah kehabisan daya untuk lampu-lampu penerangan yang dipasang di perahunya. Sehingga sangat membantu saat melaut di malam hari.

Padahal sebelumnya, untuk mengisi daya penerangan kapal dirinya bergantung dari listrik PLN. Namun aki harus dicabut dan diisi daya dengan biaya sekitar Rp 15.000 sekali setrum. Cara ini bukannya memberi solusi namun malah memberi masalah baru berupa umur aki yang semakin pendek. Menurut Nurkholis, daya aki menjadi cepat habis dan aki cepat rusak karena sering bongkar pasang. Sementara sekarang, aki bisa diisi daya dan digunakan menempel di kapal tanpa harus dibongkar pasang.

Memang, modal awal untuk membeli panel surya tersebut cukup tinggi yakni sekitar dua juta rupiah. Tapi investasi ini dianggap sepadan. Sebab kini dirinya menjadi lebih mudah untuk melakukan isi daya aki secara mandiri.

Tren menggunakan panel surya ini terjadi secara alamiah dari mulut ke mulut antar nelayan. Nurkholis sendiri memulai akibat melihat saudaranya sudah menggunakan panel berwarna biru itu untuk mengisi daya penerangan. Berkat tren ini pula persediaan panel di toko semakin banyak sehingga harganya semakin murah.

Dirinya juga menjelaskan bahwa kini di Brondong menjadi semakin mudah untuk memasang panel surya karena sudah terdapat montir. Sehingga nelayan tidak perlu kesulitan untuk melakukan instalasi.

Pengalaman serupa untuk menggunakan panel surya juga dilakukan oleh Dhoifi dan Abdul Fatah yang menyebut teknologi ini sebagai lampu matahari. Dhoifi bahkan sudah jauh lebih lama menggunakan panel surya dibandingkan Nurkholis. Dirinya sudah menggunakan panel surya sekitar 4 tahun, saat diberitakan oleh Mongabay Indonesia, dirinya baru ganti panel surya baru yang ukurannya lebih besar. Tujuannya agar bisa memanen energi matahari lebih banyak.

“Saya baru ganti dua minggu lalu. Volume aki sekarang dua kali lebih besar,” jelas Dhoifi di Pelabuhan Sedayulawas, Brondong.

Biaya pembelian satu set panel surya baru yang dikeluarkan oleh Dhoifi sekitar 2,2 juta rupiah. Keluhan yang sama saperti yang dialami Nurkholis (repot buka pasang aki) membuatnya mulai menggunakan panel surya. Apalagi jika tegangan listrik naik turun tidak stabil, aki akan mudah rusak. "Toko pengecasan gak laku sekarang," katanya.

Menurut Dhoifi, di wilayah tersebut sudah terdapat 200 nelayan yang menggunakan sistem panel surya untuk penerangan kapalnya. Rata-rata pemicunya adalah karena mereka sudah mengetahui bahwa menggunakan panel surya ternyata lebih mudah untuk mendapatkan energi.

Fenomena yang terjadi di Brondong tentu saja menarik. Sebab selama ini pola pikir penggunaan panel surya hanya terbatas pada kelistrikan perumahan atau perkantoran maupun pembangkit listrik skala besar. Namun ternyata penggunaan panel surya di kecamatan ini terjadi secara alamiah karena adanya inisiatif nelayan untuk mencari solusi sederhana atas masalah kualitas sumber energi yang mereka butuhkan. Meski masih sebatas energi mikro untuk penerangan. Walau begitu, hal ini menjadi aspek penting dalam faktor produksi saat nelayan melaut.

Panel surya di dunia saat ini merupakan salah satu sistem sumber energi yang diprediksi akan semakin murah biayanya. Selain skala produksinya yang semakin masif, teknologi panelnya pun juga dianggap terus menerus meningkat dalam hal efisiensi. Tercatat sejak ditemukan pertama kali oleh Bell Labs tahun 1954, panel surya telah mengalami peningkatan efisiensi hingga 20 persen lebih di tahun 2016.

Lalu, jika kalangan nelayan telah melihat manfaat penggunaan panel surya, apakah masih ada alasan lain untuk tidak mencoba beralih memanfaatkan energi matahari yang terus menerus melimpah. Bagaimana menurutmu?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini