Ada Apa Dengan Malam Satu Suro, Ingin Tahu?

Ada Apa Dengan Malam Satu Suro, Ingin Tahu?
info gambar utama

Dalam kepercayaan masyarakat jawa, satu Suro memiliki banyak pandangan, hari ini dianggap keramat terlebih bila jatuh pada jumat legi. Untuk sebagian masyarakat pada malam satu suro dilarang untuk ke mana-mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain.

Satu suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura, masyarakat jawa biasa menyebutnya Suro di mana bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah, karena Kalender jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam).

Masyarakat jawa biasa memperingati satu Suro pada malam hari setelah magrib, pada hari sebelum tangal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.

Dalam pandangan Islam, Muharram atau Suro adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Namun ketika bertemu dengan tradisi Jawa, hal-hal yang berbau mistis pun dihubung-hubungkan dengan malam yang dianggap sakral itu.

Biasanya di beberapa daerah di jawa memiliki tradisi atau ritual malam satu suro, dibawah akan dijelaskan sebagian kecil ritual masyarakat jawa:

Ritual ngumbah keris
info gambar

Ngumbah Keris Malam Satu Suro

Salah satu ritual paling popular saban malam satu suro adalah ngumbah keris (mencuci keris). Ritual ini adalah tradisi mencuci/membersihkan keris pusaka bagi orang yang memilikinya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ngumbah keris menjadi sesuatu kegiatan spiritual cukup sakral.

Malam satu suro dianggap keramat dan benda-benda pusak yang dimiliki oleh orang-orang tertentu itu juga dikeramatkan, makaperlu dirituali di malam 1 Suro, agar kekuatan gaibnya bertambah.

Kirab Kerbau Bule
info gambar

Kirab kerbau bule di Keraton Surakarta

Kraton Solo-Sukarta atau kasunanan Surakarta memiliki tradisi malam satu suro yaitu Kirab Kebo Bule ini merupakan ritual. Ritualnya, sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat, yaitu Kebo Bule Kiai Slamet. Konon kerbau ini bukan sembarang kerbau.

Dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, leluhur kebo bule adalah hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II. Maka dari itu, kebo bule ini dianggap sebagai pusaka keraton. Adapun kirab itu sendiri berlangsung tengah malam, tergantung ‘kemauan’ dari kebo Kyai Slamet.

Uniknya, dalam kirab ini, orang-orang sekitar Keraton akan berjalan mengikuti kirab. Mereka saling berebut dan berusaha menyentuh tubuh kebo bule. Tak cukup menyentuh, bahkan orang-orang tersebut terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang kotoran. Bila kotoran jatuh, mereka saling berebut mendapatkannya.

Orang-orang itu beranggapan bahwa kotoran tersebut sebagai tradisi ngalap berkah, atau mencari berkah Kiai Slamet.

Tirakatan Malam Satu Suro

Tirakat dari kata ‘Thoriqot’ atau Jalan, yang dimaknai sebagai usaha mencari jalan agar dekat dengan Allah. Tirakatan ini digelar setiap malam satu Suro oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan di mana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Tapa Bisu Tahun Baru Islam Satu Suro

Ritual lain adalah Tapa Bisu atau mengunci mulut. Sesuai namanya, Ritual ini dilakukan dengan cara diam, tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual. Ritual ini juga bisa dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya.

Seperti tradisi Tapa Bisu yang di lakukan di kota Yogyakarta misalnya. Mereka melakukan untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan harapan diberikan yang terbaik untuk Kota Yogyakarta.


dikutip dari beberapa sumber

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini