Indonesia Akan Bangun Dua Laboratorium Kesehatan Ikan Kelas Dunia

Indonesia Akan Bangun Dua Laboratorium Kesehatan Ikan Kelas Dunia
info gambar utama

Sebanyak dua kandidat laboratorim acuan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) di bidang kesehatan ikan disiapkan. Hal itu diyakini akan berdampak positif bagi peningkatan daya saing produk perikanan budidaya Indonesia.

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, OIE tentu telah mempertimbangkan Indonesia sebagai negara produsen perikanan budidaya terbesar ke dua dunia. Indonesia memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan pangan global di masa mendatang.
Kedua laboratorium tersebut adalah Laboratorum Kesehatan Ikan pada Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi untuk deteksi penyakit Koi Hervest Virus (KHV) dan Laboratorium Kesehatan Ikan pada Balai Perikanan Budi daya Air Payau (BPBAP) Situbondo untuk rujukan penyakit udang.

OIE memfasilitasi kedua laboratorium tersebut melalui "Twinning Program". Seperti untuk uji KHV, BPBAT Sukabumi bekerja sama dengan National Research Institute of Aquaculture Fisheries Research Agency (MIE-Jepang) sebagai laboratorium induk.

Sedangkan untuk penyakit udang, BPBAP Situbondo bekerja sama dengan Laboratorium Akuakultur Universitas Arizona, Amerika Serikat, sebagai laboratorium induk.

Slamet menuturkan, keberadaan laboratorium dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit di lintas batas ke negara lain. Keberadaan laboratorium juga akan dapat memfasilitasi akses perdagangan internasional. Misalnya Indonesia dapat mengeluarkan sertifikat bebas KHV dan penyakit udang yang terdaftar di OIE dalam perdagangan koi dan udang dunia.

Terakhir, kata dia, negara-negara di kawasan Asia Pasifik dapat mengambil keuntungan dengan melakukan pengujian ke laboratorium acuan di Indonesia. Dia mengungkapkan, isu penyakit dalam bisnis akuakultur telah secara nyata mengakibatkan hambatan perdagangan dalam siklus perdagangan perikanan global saat ini.

Dirinya mencontohkan, merebaknya penyakit KHV pada ikan mas, termasuk ikan hias koi, menurunkan transaksi bisnis perdagangan komoditas ikan koi di dunia, termasuk Indonesia.

Menurut data KKP, tahun 2016 produksi ikan hias koi nasional tercatat sebanyak 404.329.000 ekor. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring upaya pemerintah yang terus mendorong penguatan daya saing usaha budi daya ikan hias nasional.


Sumber: News KKP

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini