Momen-Momen Terbaik Ekonomi Indonesia

Momen-Momen Terbaik Ekonomi Indonesia
info gambar utama

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu Negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu Negara. Dalam bekerjanya, pembangunan ekonomi selalu dikaitkan dengan keberhasilan suatu pemimpin Negara dalam menjalankan amanah rakyatnya. Disini, dapat dicermati bahwa pembangunan ekonomi cenderung lebih komplek dan multidimensi, sehingga pemangku jabatan yang bertugas untuk membangun ekonomi menuju kearah yang positif terkadang tidak mampu mewujudkan hasil sempurna dari pembangunan tersebut. Hal tersebut sangatlah lumrah, mengingat kompleksitas dari indikator pembangunan yang sangat banyak dan beragam. Terkadang, sangat mungkin tema pembangunan satu dengan yang lain saling bertolak belakang, bahkan membentuk suatu anomali pembangunan. Misal, pada suatu pemerintahan sebuah kebijakan dapat berjalan dengan efektif dan berbuah baik, namun berganti kepengurusan kebijakan yang diteruskan dan sama diimplementasikan menjadi kurang efektif dan tidak berbuah baik. Oleh sebab itu, perlu rasanya mengetahui capaian-capaian apa saja yang sudah didapatkan oleh perekonomian Indonesia, sehingga menjaid tolak ukur dan referensi untuk menyikapi masalah yang mungkin terjadi.

Berikut adalah momen-momen terbaik ekonomi Indonesia :

1. Rupiah Menguat di tahun 2012

(© https://market.bisnis.com/)

Intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia di penghujung tahun 2012 mampu memicu penguatan rupiah. Hal ini dilakukan karena bank sentral tidak mau mata uangnya melemah terlalu jauh. Intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah dengan jalan Bank Indonesia secara langsung masuk ke pasar. Pada saat momen demand dolas AS di pasar masih tetap dan cenderung konstan di transaksi pasa non-deliverable forward Singapura yaitu saat rupiah masih tetap mencoba ke level 9.800 per dolar AS, maka dengan tepat Bank Indonesia masuk dan mengawal ketat mata uangnya, sehingga rupiah tidak jadi naik dan ditutup dibawah 9.700 per dolar Amerika di penghujung tahun.

Selain itu, kinerja ekonomi yang baik tidak menjadi masalah ketika terjadi terdepresiasi Yen hingga di atas 86 per dolar AS karena harapan stimulus dari pemerintahan Jepang yang baru, maka secara otomatis memicu apresiasi mata uang regional. Banyak perkiraan kemungkinan pada saat itu para pelaku pasar meminjam mata uang Yen dan mengalihkannya dalam aset mata uang regional. Selain itu, Won Korea menguat 0,15 persen menjadi 1.070,53, peso Filipina naik 0,29 persen ke 41,005 dan bath Thailan juga terapresiasi 0,1 persen menjadi 30,61 per dolas AS

2. Indonesia Peringkat 3 di antara Negara G-20 (setelah India dan tiongkok)

Para delegasi G-20 saat Hamburg Summit (© https://en.wikipedia.org/wiki/2017_G20_Hamburg_summit)

Dalam sejarah, pada masa pemerintahan SBY adalah kali pertama Indonesia masuk dalam kelompok Negara G-20. Pada masa pemerintahan sebelumnya sama sakali Indonesia tidak masuk kelompok ini.

G-20 sendiri adalah kelompok negara-negara dengan pendapatan tertinggi di dunia. Dari Asia tenggara, hanya Indonesia saja yang menjadi anggota G-20. Masuknya Indonesia dalam G-20 dikarenakan banyak hal yang salah satu utamanya adalah pertumbuhan ekonomi.

Di asia, kondisi Indonesia sejak 2004 dianggap setara dengan Jepang, Korea Selatan, India dan China. Sementara di dunia, kita disetarakan dengan Amerika, Uni Eropa, Kanada dan negara besar lainnya. Jika dilihat dari negara yang Indonesia dianggap setara maka, Indonesia tegolong dalam negara maju. Padahal jika dilihat dalam kajian leteratur menurut Worlbank, Indonesia masih tergolong negara dengen Upper-midlle income. Artinya secara tidak langsung Indonesia dalam aspek perekonomiannya sudah disetarakan dan mengalami lompatan jauh menyamain negara-negara High Income.

3. Porsi Penduduk MISKIN Terus Menurun

urban poverty (en.tempo.co)

Menurut data Badan Pusat Statistik, dalam statistik angka kemiskinan menggambarkan dengan jelas bahwa sejak tahun 1970 sampai terakhir Maret 2017 porsi penduduk miskin terus menurun. Diketahui pada tahun 1970 saja jumlah orang miskin desa dan kota adalah sebanyak 70 juta orang, kemudian berangsur pada akhir 1984 menjadi 35 juta penduduk. Pada awal tahun 2000 an jumlah penduduk miskin menurun signifikan yaitu sebesar 19,14 persen dari total populasi penduduk Indonesia dan data terbaru yaitu pada bulan maret 2017 penduduk yang tergolong miskin adalah sebesar 10,64 persen atau sejumlah 27 juta penduduk. Memang dari segi populasi masih tergolong banyak orang miskin, namun dari angka perkembangannya Indonesia dinilai mampu untuk konsisten menurunkan angka kemiskinan. Angka kemiskinan yang turun tersebut adalah dari dimensi moneter atau yang biasa disebut dengan miskin karena pendapatannya dibawah garis kemiskinan.

4. Perkembangan Pesat Infrastuktur

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Sejak dimulainya REPELITA pada masa pemerintahan presiden Soehartosampai pada konsep MP3EI oleh pemerintahan Presiden SBY dan terakhir adalah program Nawacita pemerintahan Presiden Jokowi, infrastruktur selalu mendapatkan porsi untuk dikembangkan. Jika merujuk pada data indeks daya saing infrastruktur yang dikeluarkan oleh Global Competitiveness Index, Indonesia yang pada tahun 2011 menduduki peringkat 90 untuk daya saing infrastruktur, sekarang pada tahun 2017 naik menjadi peringkat 60. Mengutip wawancara kompas (10/08/2017) dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, menyebutkan bahwa upaya pemerintah untuk meningkatkan daya saing Indonesia dari Negara lain cukup membuahkan hasil. Menurutnya, pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama, merupakan pilihan yang logis dan strategis dalam meningkatkan daya saing Indonesia sekaligus untuk mengejar ketertinggalan. Pada tahun 2017 ini terdapat 35 wilayah pengembangan strategis (WPS) yang dicanangkan untuk meningkatkan daya saing serta mengurangi disparitas antarwialyah.

Pada pemerintahan saat ini ada empat sub sektor proyek infrastruktur yang kini tengah digenjot pengerjaannya, yaitu konektivitas, ketahan air dan pangan, perumahan, serta infrastruktur pemukiman.

Konektivitas meliputi pembangunan 1.851 kilometer jalan tol, serta pembangunan 2.650 kilometer jalan baru dan 30 kilometer pembangunan jembatan baru. Hingga saat ini yaitu tahun 2017, panjang jalan tol yang telah dioperasikan mencapai 581 kilometer.

Ketahanan air dan pangan meliputi pembangunan 65 waduk dan bendungan serta satu juta hektar pembangunan jaringan irigrasi baru, sementara yang sudah terbanguan adalah 26,55 persen yang telah terbangun dari target satu juta hektar

Terakhir, untuk subsektor perumahan yaitu dari target Program Nasional Sejuta Rumah yang dicanangkan setiap tahunnya, pada tahun 2015 sudah terbangun 699.770 unit rumah dan pada tahun 2016 tercatat terbangun 805.169 unit rumah.

Upaya-upaya tersebut yang kemudian mengantarkan Indonesia menduduki peringkat ke-22 dalam indeks laporan Pertumbuhan dan Pembangunan Inklusif 2017 (Inclusive Growth and Development Report) yang dipublikasikan oleh World Economic Forum pada Januari 2017 yang lalu. Untuk diketahui peringkat Indonesia diatas Negara-negara ASEAN lain seperti Vietnam (25), dan Filipina. Sementara untuk Thailan (12) dan Malaysia (16) masih di atas Indonesia. Meskipun data menyebutkan angka yang cukup baik, namun akan sangat memungkinkan jika peringkat Indonesia akan terus merangsek naik, karena proyek yang direncanakan masih dalam progress pengerjaan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini