Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan Indonesia dikejutkan dengan berseliwerannya berita tentang doktor termuda di Indonesia Grandprix Thomryes Marth Kadja lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Sorotan pun banyak ditujukan kepada Grandprix. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa keberhasilan Grandprix juga terdapat andil dari promotornya yang juga ternyata seorang ilmuwan yang relatif muda, Dr. rer. nat. Rino Rakhmata Mukti.

Rino Rakhmata adalah dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB yang juga lulus sarjana tingkat 1 (S1) di kampus yang sama. Namun untuk jenjang S2 dan S3 pria kelahiran Jakarta 25 April 1977 merupakan lulusan University Teknologi Malaysia dan Technische Universitat Munchen di Jerman. Berkat bimbingannya  seorang Grandprix mampu menjadi doktor termuda di Indonesia. 

Rino merupakan contoh ilmuwan Indonesia yang memutuskan untuk kembali pulang ke Tanah Air meskipun mendapatkan tawaran menggiurkan menjadi ilmuwan dengan kemapanan di luar negeri. Namun berbagai fasilitas kemudahan rupanya tidak menarik minatnya, sebab baginya, menjadi peneliti yang mandiri adalah cita-citanya sejak lama. 

Nama Rino mulai dikenal saat dirinya berhasil melakukan penelitian materi Zeolit yang merupakan materi yang dibutuhkan dalam penyulingan minyak bumi. Menariknya materi ini didapatkan dari gabah atau sekam padi yang tentu saja jumlahnya melimpah di Indonesia dan bahkan tidak termanfaatkan dengan baik. 

“Harga perkilogram Zeolit kalau di luar (negeri) sekitar US$ 100-200, padahal kita bisa memproduksinya sendiri dengan mudah dari bahan alam,” jelas Rino seperti dikutip dari laman Ristek Dikti.

Bahan ini bahkan disebut juga dapat menjadi sumber energi alternatif yang dapat terbarukan. Itu sebabnya Rino akhirnya mendapatkan perhargaan DAAD-Fraunhofer Technopreneur Award 2016 yang merupakan penghargaan hasil kerjasama Indonesia dengan Jerman. Penghargaan ini adalah upaya kerjasama untuk meningkatkan kualitas ilmuwan. Di tahun yang sama, Rino juga mendapatkan penghargaan dari Achmad Bakrie Award di tahun 2016 untuk kategori peneliti muda. 

Kesuksesan Rino bukanlah tanpa perjuangan, sebab baginya tidak ada hari libur dalam meneliti. Kecintaannya sebagai peneliti bahkan membuatnya lebih memilih menjadi ilmuwan ketimbang meniti karir sebagai pengajar.

Pengalamannya yang panjang di dunia penelitian itulah yang kemudian ditularkan dan diajarkan kepada anak didiknya di Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Di sana setiap mahasiswa peneliti akan dilatih untuk meningkatkan kualitas penelitian. 

Rino bersama Grandprix Thomryes Marth Kadja, Doktor termuda di Indonesia [kanan] (Foto: ristekdikti.go.id)
Rino bersama Grandprix Thomryes Marth Kadja, Doktor termuda di Indonesia [kanan] (Foto: ristekdikti.go.id)

“Kami melatih mahasiswa untuk peka dan tekun dalam meneliti. Bimbingan itu sendiri dimulai dari penemuan ide, problem statement, eksperimen di laboratorium, hingga menulis jurnal,” ungkapnya Rino yang juga co-promotor dari program ini .

Berkat didikan program PMDSU inilah yang kemudian meluluskan sosok seperti Grandprix. Dirinya bahkan juga mengajak mahasiswa Indonesia lain untuk bisa seperti anak didiknya itu. 

“Saya ingin mahasiswa saya yang lainnya, bisa menjadi penemu-penemu seperti Grandprix dan Erna (Erna Febriyanti, mahasiswa yang juga menerima PMDSU),” pesan Rino.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu