Kedai Kopi Bukti Aceh Aman Dikunjungi

Kedai Kopi Bukti Aceh Aman Dikunjungi

Bersama Komunitas ©@Aceh Aviation

Nyaris 12 tahun perdamaian Aceh dengan Indonesia telah berlalu. Sepertinya kalimat berlalu ada baiknya saya ubah menjadi berlanjut. Mungkin ketakutan pengunjung di awal perdamaian menjadi lumrah. Bahkan hingga saat ini, masih banyak masyarakat di luar sana yang berpikiran bahwa Aceh belum aman untuk dikunjungi. Jelas-jelas ini adalah persepsi yang keliru. Beberapa event berskala nasional hingga internasional telah berhasil diselenggarakan di Aceh. Hingga dalam waktu dekat ini, Sabang akan menjadi tuan rumah perhelatan Sail Sabang 2017. Event tahunan ini sendiri tentunya akan diikuti oleh banyak peserta dari mancanegara. Meski demikian, kegiatan-kegiatan tersebut rasanya belum juga menggugah pemikiran masyarakat. Terutama masyarakat yang belum pernah berkunjung ke Aceh.

Sebenarnya sudah banyak tulisan maupun referensi yang menjelaskan bahwa Aceh sangat layak dan aman untuk dikunjungi. Melalui tulisan ini coba saya siratkan bahwa Aceh sungguh aman terutama bagi pelancong. Aceh sebagai daerah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, juga terkenal sebagai daerah pemasok kopi dunia. Kualitas kopi yang harum dan nikmat membuat produk kopinya terkenal seantero dunia. Apakah ini berlebihan? Menurut saya tidak. Terkenalnya kenikmatan kopi Aceh dapat kita buktikan sendiri bila berkunjung ke Nanggroe Aceh Darussallam. Selain terkenal dengan sebutan Serambi Mekkah, Aceh juga terkenal dengan Negeri 1001 kedai kopi.

Tidaklah berjumawa jika saya katakan bahwa Aceh adalah Negeri 1001 kedai kopi. 6 tahun terakhir saya tinggal di Aceh. Minum kopi menjadi sebuah budaya khas orang Aceh. Baik yang berada di dataran tinggi maupun yang berada di daerah pesisir. Hampir semua wilayah Aceh terdapat kede kupi (warung kopi). Selain untuk menikmati secangkir kopi, kede kupi kerap dijadikan sebagai wahana untuk bersilaturahmi. Kede kupi juga tak jarang dijadikan sebagai tempat bertemu pelaku-pelaku bisnis di Aceh. Bahkan pelajar dan mahasiswa juga sering mengunjungi kede kupi sekedar untuk duduk santai hingga mengerjakan tugas dari bangku pendidikannya.

Kede kupi juga merupakan barometer penopang demokrasi di Aceh. Beberapa diskusi terkait demokrasi dan politik juga sering diselenggarakan di kede kupi. Bahkan kede kupi juga sering dijadikan sebagai media berkumpul untuk menyampaikan informasi berita kepada masyarakat. Kede kupi juga kerap dijadikan sebagai tempat untuk nonton bareng siaran sepakbola atau acara lainnya. Ini adalah sedikit bukti bahwa masyarakat Aceh terbuka akan perkembangan dunia luar.

Bagaimana korelasi budaya minum kopi, kedai kopi dan Aceh aman untuk dikunjungi?

Kegemaran masyarakat Aceh untuk minum kopi bukan hanya dilakukan hanya pada pagi hari. Masyarakat Aceh juga minum kopi siang, sore bahkan pada malam hari. Lantas kenapa harus di kedai kopi? Menurut pandangan saya, masyarakat Aceh tetap ingin menjalin silaturahmi dengan banyak orang tanpa mengganggu banyak orang. Kede kupi bisa memfasilitasi hal tersebut. Bahkan ada orang-orang yang menjadikan kede kupi sebagai sarana tempat kumpul keluarga. Kebanyakan kede kupi di Aceh tidak hanya menjajakan kopi saja. Berbagai penganan ringan maupun berat juga disandingkan disana. Sehingga tidak sedikit masyarakat yang menghabiskan waktunya di kede kupi.

Kede kupi di Aceh beroperasi hingga tengah malam. Bahkan ada yang buka hingga 24jam. Siapa saja bisa bebas berkunjung ke kede kupi dengan catatan menghargai norma-norma yang berlaku. Tetap mengedepankan budaya sopan santun dan menghargai orang lain. Beberapa warung kopi kenamaan di Kota Banda Aceh bahkan lebih ramai dikunjungi pada malam hari. Semakin malam semakin ramai. Sehingga muncul persepsi di masyarakat bahwa kede kupi merupakan sarana hiburan masyarakat Aceh. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa Aceh tidak punya hiburan mewah seperti bioskop. Tetapi Aceh mempunyai sarana hiburan alam yang tak kalah menjual seperti pantai, panorama bawah laut, kuliner, budaya, wisata tsunami hingga keindahan alam lainnya. Sehingga tidak cukup rasanya satu hari saja untuk berkunjung ke satu daerah di Propinsi Aceh. Ke-malam-an tiba di tujuan, kede kupi di Aceh juga sangat aman dan nyaman digunakan untuk menunggu pagi. Selain dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan mushola, kebanyakan kede kupi dilengkapi dengan wifi juga sarana televisi. Ramainya kede kupi hingga larut malam sejatinya telah mencitrakan bahwa Aceh sangat aman untuk dikunjungi. Siapa saja bebas untuk berlalu lintas pergi dan kembali dari sebuah kede kupi bahkan sampai menjelang pagi.


Sumber:

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang67%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Memahami Narasi Rohani dari Wayang Purwa Yogyakarta (Dumadining Gunung Merapi) Sebelummnya

Memahami Narasi Rohani dari Wayang Purwa Yogyakarta (Dumadining Gunung Merapi)

Ini Perbedaan Jalur dan Lajur, Sudah Tahu? Selanjutnya

Ini Perbedaan Jalur dan Lajur, Sudah Tahu?

henri sinurat
@henrisinurat_9

henri sinurat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.