Robo - Robo, Tradisi Pemersatu

Robo - Robo, Tradisi Pemersatu
info gambar utama

Kesukaan saya sebagai warga Indonesia adalah terus hidup bersama seiring dengan proses belajar saya mengenali berbagai budaya dan tradisi yang ada di Indonesia.

Saya lahir dan tumbuh di Kalimantan Barat, yang di diami oleh 3 suku bangsa terbesar yakni Dayak, Melayu dan Tionghua, atau yang lebih tren disebut cidayu (cina-dayak-melayu). Saya sendiri, adalah asli etnis Tionghua yang sampai sekarang tetap terpukau akan budaya sendiri dan budaya suku lain yang ada di Kalimantan Barat.

Belum lama ini saya baru saja menyelesaikan program kampus yakni Kuliah Kerja Mahasiswa di Desa Peniti Dalam 1, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah. Desa ini memiliki penduduk dengan suku Melayu, Tionghua dan Bugis. Kami berkesempatan melakukan pengabdian kepada masyarakat selama1 bulan sepanjang Agustus 2017.

Ada satu hal yang menarik tentang desa ini, yakni tradisinya. Oke, kali ini saya akan perkenalkan sebuah tradisi yang mempererat masyarakatnya, tidak peduli kamu berasal dari suku apa.

Namanya “robo-robo”.

Robo-robo adalah serangkaian dari acara peringatan kedatangan Opu Daeng Menambun dari suku Melayu, Kerajaan Mempawah dahulu. Sekilas info, Opu Daeng Menambun adalah seorang raja di Kerajaan di Mempawah, dan sosoknya dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di Mempawah.

Ritual robo-robo saat ini masih dilakukan oleh keluarga keturunan Kerajaan Mempawah, dimulai dari keberangkatan keluarga besar menggunakan Perahu Lancang Kuning dan Perahu Bidar. Upacara Robo-robo diselenggarakan di Sungai Mempawah dan diperingati tepat pada Rabu terakhir bulan safar 1148 Hijriah atau 1737 Masehi. Ritual dari upacara ini adalah:

  1. Ritual pertama dari upacara ini adalah dikumandangkannya suara adzan dan disusul dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh Pemangku Adat Istana Amantubillah, Kerajaan Mempawah.
  2. Prosesi berikutnya yaitu Ritual Buang-buang.
  3. Ritual terakhir adalah Makan Saprahan

Nah, tradisi robo-robo sarat akan budaya suku Melayu dan nilai keagamaan khususnya agama Islam. Bagi warga keturunan Bugis di Kalbar, robo-robo biasanya diperingati dengan makan bersama keluarga di halaman rumah. Sekarang, di Desa Peniti sudah tidak lagi di diami oleh suku Melayu dan Bugis yang beragama Islam, namun sudah ada beberapa suku lain juga dengan agama berbeda.

Setiap tahunnya, tradisi robo-robo dilakukan dengan meriah. Tahun lalu, Desa Peniti memasak pengkang raksasa bersama-sama dengan masyarakat setempat. Pengkang adalah makanan khas Melayu yang terkenal di Pontianak. Terbuat dari ketan putih dan dimasak dengan batok kelapa, dibalut dalam daun pisang dan diapit oleh bambu dan tali bundung.

Nah, pengkang raksasa yang dibuat tahun lalu itu memiliki ukuran dengan panjang 7 meter dan diameter 1 meter. Kemudian setelah dimasak bersama, pengkang tersebut disantap oleh warga secara gratis.

“Tradisi robo-robo ini salah satunya dapat kita simpulkan sebagai khasanah tradisi budaya yang potensial, sekaligus merekatkan masyarakat untuk saling bersilaturrahim dan menjaga semangat kekeluargaan yang rukun dan damai. Suka cita robo-robo ini tidak boleh melenceng dari nilai-nilai positif yang sudah diwariskan leluhur kita, ini spiritnya" ujar Haerani pada Tribun News. Haerani sendiri adalah seorang pengusaha pengkang yang merupakan generasi ke-4 penerus usaha keluarganya mengolah penganan pengkang sejak 1942.

Budaya makan bersama pada tradisi robo-robo ini selalu dinanti-nantikan warga desa Peniti. Dan tahun ini, tepat tanggal 15 November 2017 nanti warga Desa Peniti Dalam 1 juga akan memperingati tradisi robo-robo dengan makan bersama warga di jembatan besi yang menghubungkan Desa Peniti Dalam 1 dan Desa Peniti Luar. Uniknya, makanan akan digelar sepanjang jembatan dan warga dari semua suku boleh datang dan makan bersama di jembatan tersebut.

Kawan GNFI, makan bersama selalu menyatukan kita. Saya yakin, apapun tradisi dan budayanya, setiap suku pasti memiliki keunikannya tersendiri, dan bersyukurnya, suku di Indonesia selalu merepresentasikan nilai yang mencintai kebersamaan dan kerukunan antar umat.

Ini pengalamanku, bagaimana denganmu?

#AkucintaIndonesia


Sumber: Tribun Mempawah, Antara News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini