Penjualnya Warga AS, Buka Kedai Kopi Indonesia di Portland, Oregon. Seperti Apa Ya ?

Penjualnya Warga AS, Buka Kedai Kopi Indonesia di Portland, Oregon. Seperti Apa Ya ?
info gambar utama

Jika anda berkunjung ke Portland, tepatnya ke St. East Burnside 2327 anda akan sampai pada sebuah kedai kopi bernama "Kopi Coffee House". Ya, benar. Anda tidak salah membaca dan saya tidak salah menulis. Ejaan pada nama kedai tersebut menggunakan bahasa Indonesia dengan kata "kopi".

Pemiliknya bernama Joshua Vineyard, adalah salah seorang diaspora Indonesia yang kini menetap di Portland, negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Dia adalah satu - satunya pemilik kedai kopi Indonesia di bagian barat laut di Amerika Serikat.

Joshua atau yang akrab disapa dengan Xua, adalah seorang musisi, dan seperti wawancaranya di thechapmag.com yang mengatakan bahwa kopi adalah sebuah sesuatu yang mampu memperpanjang semangat dari sebuah kreatifitas. Dan tantangan bagi Xua yaitu memadukan budaya kopi Barat dan Asia, namun tentu saja dengan penyajian yang berkualitas dan mampu bersaing dengan kedai kopi lainnya.

"Di sini kami menyajikan kopi jahe dan kopi susu setiap hari. Idenya datang ketika saya ke Flores untuk mendaki di Kelimutu, saya mendaki sepanjang malam dan ketika bangun, suasananya masih gelap. Nah di puncak Kelimutu itu ada perempuan yang menjual kopi jahe dan saya terus-terusan beli karena campuran rasanya yang sangat enak," jelas Joshua pada VOA Indonesia.

Selain ke Flores, pria yang akrab disapa Xua ini juga mengunjungi Banyuwangi dan Yogyakarta untuk menyaksikan proses pembuatan kopi luwak serta menikmati kopi dengan berbagai campuran rempah seperti cengkeh dan kapulaga.

Terinspirasi dari rasa unik kopi di Indonesia dan Asia inilah, Xua dan partnernya asal Amerika, Nacko memutuskan untuk membuka "Kopi Coffee House" di tahun 2015. Ide ini juga didorong oleh kenyataan bahwa wilayah Barat laut Amerika memang terkenal dengan budaya kopinya, sehingga "Kopi Coffee House" mencoba memadukan budaya kopi di wilayah ini dengan budaya kopi Asia.

"Sejauh ini orang-orang sangat responsif dan sangat suka dengan kopi kami, menu-menunya memang berbeda jika dibandingkan dengan kedai kopi lain di Portland yang biasanya menyajikan kopi itu-itu saja, jadi orang sangat menghargai kita yang menyajikan kopi dengan cara yang berbeda dan kita juga memperkenalkan orang sini dengan kebudayaan yang tidak terlalu dikenal di Portland," sambung Joshua.

Adrian Miner, seorang pelanggan "Kopi Coffee House" menyebut bahwa dirinya sangat menyukai kopi jahe racikan Joshua itu.

"Saya pesan kopi jahe beberapa kali di sini. Saya memang sangat suka teh jahe dan kopi, jadi ketika ada minuman yang merupakan kombinasi keduanya, saya menyukainya," sebut Adrian.

Selain menyajikan kopi, kedai ini juga menjual makanan khas Indonesia seperti roti, nasi ayam dan gado-gado. Suasana Indonesia makin terasa di cafe ini karena sering kali, musik berbahasa Indonesia mengalun di dalamnya.

"Saya suka kopinya, sangat enak. Pemiliknya juga ramah dan tempat ini juga menyenangkan, sangat cocok untuk bersantai," ujar Patrick Pinston, salah seorang pelangan di "Kopi Coffee House".

Joshua mengakui, strategi bisnisnya memang untuk bisa berbeda dengan kedai kopi lain yang ada di Portland, namun tentunya dengan kualitas yang tak kalah bagus.

"Kami adalah satu-satunya orang Asia yang berbisnis kedai kopi di Portland, tapi kami juga tidak akan ada tanpa adanya kedai kopi lain, karena mereka sangat baik dan berkualitas, jadi strategi kami adalah menyajikan kopi dengan kualitas yang sama, namun dengan resep Asia. Kami tidak merasa ini kompetisi ya, karena kami berbeda dan kami juga berbagi sesuatu yang berbeda pada publik," kata Joshua menutup wawancara dengan VOA.

Dari 2 sumber tadi kita yakin bahwa, Indonesia memang negerinya inspirasi. Tentu saja harus dibarengi action dan perencanaan, segala hal dari Indonesia bisa kamu manfaatkan sebaik mungkin sehingga jadilah, a good news from Indonesia. Apakah kamu juga pembawa kabar baik itu ?
Sumber: voaindonesia.com | thechaptermag.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini