Rujak Uleg: Makanan Khas yang Disulap Menjadi Festival

Rujak Uleg: Makanan Khas yang Disulap Menjadi Festival
info gambar utama

Kangkung, tauge, kacang panjang, mentimun. Semua direbus lalu dihidangkan dengan lontong, tahu goreng, tempe goreng, plus cingur. Hidangan tadi lantas dicampur dengan bumbu manis nan pedas. Sedappppp..........

Jika kawan ingin merasakan kelezatan makanan di atas, cobalah sekali-kali bertandang ke Surabaya dan mencicipi makanan khasnya. Rujak uleg. Demikian namanya. Dikatakan rujak uleg karena memang bumbu rujak ini dimasak dengan cara diuleg di atas cobek. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bumbu di antaranya adalah kacang tanah, gula aren, petis, cabai, dan terasi. Bumbu inilah yang menjadi sumber kenikmatan rujak uleg. Tidak hanya sayuran, rujak uleg juga ada versi buahnya. Mangga muda, kedondong, bengkoang, dan belimbing adalah buah-buahan yang sering digunakan. Rujak uleg buah biasanya terasa lebih manis.

Di warung-warung di Surabaya para penjual menyebut rujak uleg mereka dengan sebutan rujak matengan dan rujak campur. Rujak matengan tak lain dan tak bukan adalah rujak uleg sayur. Disebut matengan karena sayur-sayur tersebut direbus terlebih dahulu hingga mateng (matang). Sementara rujak campur adalah gabungan rujak uleg sayur dan buah. Para pembeli seringkali mengatakan kepada penjual, “lombok 3” atau “lombok 2”. Maksudnya adalah jumlah lombok (cabai) yang diminta pembeli untuk dijadikan bumbu rujak. Dengan demikian pembeli bisa mengatur level pedasnya rujak uleg sesuai selera.

Rujak uleg akan semakin nikmat dengan kehadiran bahan pelengkap, yakni lontong, tahu dan tempe goreng, dan tak ketinggalan tentunya adalah cingur (mulut) sapi. Harga seporsi rujak uleg berkisar Rp 17.000,00 – Rp 20.000,00. Kalau ditambah cingur bisa mencapai Rp 40.000,00, bahkan ada yang menjualnya sampai Rp 60.000,00. Tidak murah memang. Jika kawan ingn mencicipi rujak uleg tanpa membayar alias gratis, datang saja ke Surabaya pada bulan Mei saat diselenggarakannya festival rujak uleg. Sesuai dengan namanya dalam festival tersebut para peserta yang terbagi dalam kelompok-kelompok berlomba memasak rujak uleg. Mereka yang menjadi peserta adalah pegawai beberapa instansi tertentu, siswa-siswi sekolah, tamu kehormatan dalam dan luar negeri, serta peserta umum. Menariknya adalah para peserta tidak boleh mengenakan pakaian “normal”, melainkan harus berdandan dengan kostum tertentu. Ada yang mengenakan pakaian adat, kostum ala karnaval, berdandan bak tokoh pewayangan ataupun super hero luar negeri, bahkan berdandan seperti setan. Para peserta juga diminta mempersiapkan yel-yel. Kreativitas pemilihan kostum dan pembuatan yel-yel termasuk dalam kriteria penilaian. Selama me-nguleg rujak para peserta tak henti-hentinya heboh meneriakkan yel-yel mereka ataupun bergoyang mengikuti alunan musik.

Peserta festival yang mengenakan kostum setan ala perayaan Halloween
info gambar

Festival rujak uleg adalah festival tahunan yang diselenggarakan sejak 2002 sebagai rangkaian kegiatan perayaan HUT Surabaya yang jatuh setiap 31 Mei. Festival ini begitu semarak karena diikuti oleh ribuan peserta. Belum lagi pengunjung yang hadir. Semua tumplek blek di jalan Kembang Jepun. Bagi para pengunjung, selain ingin melihat keseruan para peserta memasak rujak uleg, acara ini juga merupakan kesempatan bagi mereka untuk bisa menyantap rujak uleg secara gratis. Begitu selesai dimasak dan dinilai rujak-rujak uleg hasil olahan peserta memang dibagikan ke para pengunjung.

Berbeda pada tahun-tahun sebelumnya pada festival rujak uleg 2017 yang diselenggarakan Mei lalu pihak penyelenggara berinovasi dengan menambah catwalk. Para peserta pun dapat berlenggak-lenggok di atasnya memamerkan kostum yang mereka kenakan. Ya, mirip fashion show. Tujuan diselenggarakannya festival rujak uleg adalah untuk melestarikan kebudayaan khas Surabaya yang dalam hal ini adalah makanan. Festival ini sekaligus untuk mengenalkan apa itu rujak uleg kepada generasi-generasi modern, sehingga ke depannya mereka bisa turut melestarikannya. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini selalu menyempatkan hadir dalam festival rujak uleg. Beliau memberikan sambutan di awal dan selanjutnya nguleg bumbu rujak. Bukan sembarang nguleg karena cobek yang digunakan berukuran super besar, yakni berdiamater 1.5 meter. Begitu bumbu-bumbu sudah siap di cobek, Risma pun dengan cekatan me-nguleg-nya diikuti oleh para undangan.

Tri Rismaharini mengulek rujak bersama para undangan di cobek super besar
info gambar

Rujak uleg kini bukan lagi sekedar berlabel makanan khas Surabaya. Berkat tangan dingin pihak-pihak tertentu, label makanan khas Surabaya tersebut naik kelas menjadi festival kuliner yang semarak. Rujak uleg pun semakin dikenal. Bukan hanya oleh warga Surabaya, melainkan juga warga asing. Ya, ada cukup banyak wisatawan mancanegara yang berseliweran di festival ini. Beberapa di antaranya bahkan menjadi peserta.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini