Kabar Baik dari Ainun

Kabar Baik dari Ainun

berfoto dengan latar bangunan adat untuk ritual pemakaman orang meninggal di Tana Toraja

Namaku Ainun, Aku lahir di tanah Jawa, menghabiskan masa balitaku di tanah Papua, menyelesaikan sekolah dasar di Sulawesi, dan tumbuh besar kembali ke Jawa. Sejak kecil keluargaku memang hidup berpindah-pindah, dan ini karena tuntutan kerja orang tuaku yang memebawaku menjelajahi separuh Indonesia. Mungking terdengar melelahkan harus berpindah-pindah, apalagi harus merapikan barang-barang, dan berpisah dari teman-teman. Tapi dari sana Aku mendapat keuntungan, dan tentu Aku merasa sangat beruntung. Beruntung bisa melihat keindahan yang ada disetiap sudut Indonesia, dan tentunya tidak ketinggalan kesempatanku berinteraksi dan hidup di dalam budaya dan adat yang berbeda dengan tempat kelahiran dan tempat asal orang tuaku.

Foto-foto lawas di dalam album membantuku mengingat kejadian saat Aku pertama kali bertemu orang-orang di papua yang mengenakan baju adat mereka, “koteka”. Ibu-ibu asli papua (sebutannya Mace) yang berjualan dari rumah ke rumah, mengenakan Noken yang merupakan tas asli Papua yang terbuat dari rajutan anggrek, kayu atau benang, dan yang paling menonjol adalah tas ini bisa melebar atau dalam bahasa jawanya memelar. Biasanya Mace-Mace berjualan singkong menggunakan Noken berbentuk tas selempang dengan ujung Noken dikaitkan diatas kepala sehingga singkong bergerada disisi lain dari Noken di bagian punggung, sambil meneriakkan “Tingkong.. Tingkongg..”.

Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan tidak kalah serunya dengan Papua, hidup berdampingan dengan orang Makassar yang kebanyakan berwatak keras. Belajar bahasa Makassar “Mangkasara’ ”, menulis dengan huruf Lontrak, menyanyikan lagu daerah berjudul Angin Mamiri, dan juga pada kesempatan pentas busana di sekolah Aku mengenakan Baju Bodo, yaitu baju adat untuk wanita di Makassar.

Setiap berangkat dan pulang sekolah Aku berlangganan dengan Daeng Tajuk. Daeng adalah sebutan untuk orang yang lebih dewasa di Makassar, tapi sekarang ini kebanyakan di Makassar sebutan Daeng digunakan untuk supir becak. Adapun penggunaan kata Daeng juga merupakan nama yang digunakan oleh suku Makassar. Dalam tradisinya nama Daeng biasa disematkan setelah nama asli, jadi siapa namaku jika Aku orang Makassar? Meskipun tumbuh dalam lingkungan orang Makassar, Ibuku tidak lupa mengajarkan lagu-lagu Jawa yang merupakan tempat kelahiranku.

Tak lelo.. lelo.. lelo ledung

Cep menenga, aja pijer nangis

Anakku seng ayu rupane

Yen nangis ndak ilang ayunee..

Hayoo jangan nangis yaa, nanti cantiknya bisa hilang. Ini sepenggal lagu nina bobo dalam bahasa jawa, judulnya Lelo Ledung.

Selain lagu Lelo Ledung Aku juga dinyanyikan lagu-lagu jawa yang lain, jadi selain belajar bahasa, adat dan lagu Makassar Aku juga tetap belajar lagu dan budaya Jawa. Setiap sore biasanya ada orang berjualan dengan berjalan kaki, mereka akan teriak “ jalanggkote, ee jalangkotee..” jalangkote ini makanan ringan khas Makassar, kalau di Jawa mirip dengan pastel. Selain itu keluargaku menyukai travelling. Kami tinggal di Makassar dan hampir setiap kesempatan libur kami berwisata, wisata budaya dan wisata alam. Beberapa daerah yang bersebalahan dengan Makassar menjadi tujuan utama kami, seperti Soppeng, Maros, Toraja, Pare-Pare, dan Manado. Dua tempat yang paling berkesan adalah Soppeng dan Toraja.

Soppeng adalah kota kecil dengan pemandangan yang luar biasa, disetiap dahan pohon di sudut kota kita bisa menemukan kelelawar atau biasa disebut Pa’niki dalam bahasa Makassar, ada pula yang menyebutnya Kalong. Menjelang malam, bukan hanya hari menjadi gelap dan suhu bertambah dingin, tapi ada pentas diatas langit tepat ditengah alun-alun kota, ratusan kelelawar terbang memutari lapangan seperti orang berbondong-bondong mengelilingi ka’bah.

Lanjut menuju Toraja, kota cantik nan asri dengan nuansa adat yang sangat kental. Bentuk rumah adat yang merupakan rumah panggung dengan ornamen unik bagian atapnya melengkung seperti perahu, bagian depan rumah akan dihiasi patung kepala kerbau yang menandakan status sosial masyarakat Toraja, serta dihiasi dengan sederetan tanduk kerbau dibagian atas pintu masuk, rumah adat ini bernama Tongkonan. Tidak jauh dari deretan rumah adat ada bongkahan-bongkahan batu yang berbentuk lonjong menjulan tegak dari tanah yang merupakan batu Menhir (batu yang berdiri tegak), peninggalan zaman Megalitikum. Batu-batu ini merupakan bentuk pemujaan terhadap roh para pendahulunya. Selain rumah adat dan batu-batu berjejer rapi, satu hal yang paling mencuri perhatian adalah tebing dan dinding-dinding batu disana penuh dengan lubang-lubang, ada pula yang terlihat seperti teras diatas tebing.

Tidak lain tidak bukan adalah kuburan masyarakat Toraja. Budaya Toraja ini tergolong sangat unik, orang yang sudah meninggal tidak dikuburkan ditanah, melainkan ditaruh di dalam Goa. Peletakan kuburannya pun tidak sembarangan, posisi ketinggian makam bergantung pada status sosial orang yang meninggal tersebut. Jika yang meninggal adalah petinggi suku, atau bangsawan maka letak makamnya akan semakin tinggi dari permukaan tanah. Adapula kuburan yang diletakkan pada pohon yang sangat besar, kuburan ini khusus untuk bayi. Pohon ini terlihat sedikit menyeramkan dengan dahannya yang sangat rindang dan batang besarnya yang nampak berlubang-lubang.

Keunikan yang tiada habisnya, keramahan masyarakat adat serta perjuangan untuk mencapai tujuan dalam perjalanan dan hidup berdampingan dengan beragam budaya Indonesia adalah hal yang sangat menyenangkan. Kita akan belajar melihat dan mengerti alasan dari suatu tindakan dari sudut pandang yang berbeda. Kabar baiknya Aku masih punya banyak hal untuk diceritakan, mulai dari beradaptasi dengan adat dan budaya baru, mengenal budaya pemakaman orang meninggal menurut adat Suku Toraja, mengenal apa itu kerbau bule di Toraja, melihat bagaimana nenek moyang kita mempersatukan Indonesia dengan kapal kayu terbesar buatan suku Bugis, kapal Pinisi namanya. Dan semakin kita mencoba mengeksplor keragaman Indonesia, semakin banyak kebaikan yang akan kita temukan. Dengan ini semoga Kita bisa menjadi bagian dari kabar dan hal baik yang ada di dalam tubuh Indonesia.

Ainun Fitriyah

Selamat membaca :)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pelangi di Perumahanku Sebelummnya

Pelangi di Perumahanku

Garin Nugroho, Sutradara Pembawa Budaya Indonesia Kepada Dunia Selanjutnya

Garin Nugroho, Sutradara Pembawa Budaya Indonesia Kepada Dunia

Ainun Fitriyah
@ainunfit

Ainun Fitriyah

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.