“Back To Cultures” ; Karena Indonesia tanpa Bhinnekaan Budaya, Bagaikan Tubuh tanpa Roh

“Back To Cultures” ; Karena Indonesia tanpa Bhinnekaan Budaya, Bagaikan Tubuh tanpa Roh
info gambar utama

Apa yang terlintas dalam benak sebagian besar masyarakat baik dalam maupun luar negeri mengenai keindahan Indonesia? Kebanyakan orang terkesan dengan eksotisme alamnya, kuliner dan rerempahannya, sumber daya alam yang kaya, dan tentu termasuk heterogenitas budaya masyarakatnya. Penulis secara pribadi merasa “merinding” apabila membayangkan bagaimana luar biasanya Indonesia. Tetapi yang lebih utama bukanlah tampilan luar itu sendiri, tetapi apa yang kita rasakan sebagai Bangsa Indonesia.

Kekayaan budaya dan tradisi menjadi nama tengah dari Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke di Timur Indonesia memiliki tradisi dan filosofi kehidupan bermasyarakatnya sendiri. Untuk merasakan betapa luar biasanya warna-warni budaya nusantara bisa kita rasakan dengan cara yang sederhana; menonton Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia. Penulis sendiri mengalaminya saat menonton Upacara HUT ke-72 RI Agustus 2017 lalu. Kebetulan, presiden kita Bapak Joko Widodo menyelenggarakannya dengan cara yang unik dan istimewa; para jajaran kabinet dan tamu undangan menggunakan baju adat khas daerah-daerah seluruh Indonesia. Khas Indonesia? Yang manakah budaya Indonesia? apakah Indonesia memiliki budaya otentiknya sendiri? Tentu tidak, ke-otentikan Indonesia terdapat pada heterogenitas budaya dan masyarakatnya. Karena Indonesia adalah keberagaman, maka hasilnya adalah tayangan di televisi penuh dengan warna-warni pakaian adat. Banyak Orang memuji terobosan baru presiden kita ini. Tetapi hal utama yang harus kita pahami adalah makna di baliknya.

Sebagian besar pemuda di zaman penulis hidup, telah kehilangan esensi Kekayaan bangsa Indonesia. Hal ini sedikit menyakitkan, tetapi beginilah faktanya. Masyarakat kita kini mengalami salah kaprah mengenai pandangan dan pemaknaan tentang apa itu budaya. Tari-tarian, pakaian adat, candi, makanan, ialah produk kebudayaan. Kebudayaanlah yang melahirkan produk-produk itu. Pagelaran pesta budaya sering diadakan tanpa mengetahui makna dari kostum dan atribut yang digunakan sehingga terlihat Kebudayaan kini hanya sekadar benda-benda kesenian yang nampak eye catching dan menggugah untuk di unggah di media-sosial.

Maka dari itu, janganlah kita batasi makna kebudayaan Indonesia sebatas pada produk-produk kesenian yang dihasilkan kebudayaan, karena kebudayaan lebih dari itu. Ia berupa Jiwa dari kehidupan bermasyarakat tiap suku dan tradisi berbagai daerah di Indonesia. Penting sekali bagi kita generasi yang hidup di zaman milenial kembali menelisik kebudayaan lewat kearifan lokal. Indonesia memiliki banyak sekali suku bangsa dengan segala keunikan, tradisi, dan nilai-nilai yang mereka hidupi. Inilah mengapa penulis menekankan agar kita kembali pada Cultures, kebudayaan-kebudayaan kita; karena kebudayaan Indonesia tidak hanya satu. Karena jika kebudayaan merupakan jiwa bangsa, maka Roh dan Jiwa Indonesia adalah kebhinekaan. Indonesia menolak homogenitas kebudayaan, dan menuntut kehadiran harmoni di antara heterogenitas berbudaya. Seperti halnya sebuah pohon, beragam-ragam kebudayaan sebagai Akar Jiwa Bangsa dan masyarakat bersatu padu menopang Sang Batang Fondasi Indonesia (Pancasila) agar tetap kokoh. Keberagaman adalah keotentikan Indonesia yang menjadikannya unik dan kaya di mata dunia.

Untuk menjaganya tidaklah rumit, hanya diperlukan penghargaan akan ke-Bhinnekaan. Inilah salah satu contoh kesederhanaan di balik Kekayaan budaya negara kita. Setiap orang merupakan komponen kebhinnekaan, pewaris pusaka Nusantara yang satu sama lain saling menginspirasi dalam kehidupan berbangsa bernegara. Kebhinnekaan budaya Nusantara ini adalah harta yang tak ternilai harganya bagi negara kita. Warna-warni budaya Nusantara kita adalah Jiwa dan Kehidupan dari NKRI.

Kemudian setelah kembali merefleksikan opini penulis mengenai luar biasanya Indonesia dalam artikel ini, penulis kembali merinding. Merinding karena takjub.


Sumber Referensi:

https://nationalgeographic.co.id/berita/2017/09/membangkitkan-roh-pusaka-indonesia-demi-kelestarian-lingkungan#

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini