Di Balik Kisah Kenduri Suro di Gebang Kidul: Merajut Bhineka di Era Maya

Di Balik Kisah Kenduri Suro di Gebang Kidul:  Merajut Bhineka di Era Maya
info gambar utama

Di tahun baru Islam 1439 Hijriah ini, masyarakat Jawa menyelenggarakan berbagai macam upacara adat untuk menghadapi bulan Suro. Budaya mengadakan syukuran dengan acara selamatan yang berwarna-warni di setiap daerah menjadikan tahun baru Islam lebih bermakna. Sebuah daerah bernama Gebang Kidul di Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar juga menyelenggarakan sebuah ritual budaya yakni berdoa bersama dengan Takir Plonthang. Berbicara tentang budaya bertalian dengan bahasa. Takir dalam tradisi Jawa Kuno berarti ‘Tatak anggen Mikir’ sedangkan Plonthang berasal dari kata ‘plenthang’ yang bermakna silang. Secara semiotika, simbol ini untuk menolak bala. Takir plonthang digunakan agar manusia memiliki keyakinan yang teguh dan memohon kepada Yang Maha Agung, Tuhan Semesta Alam, untuk menolak segala keburukan yang dapat dating menimpa. Oleh karenanya, takir ini dibuat dari daun pisang yang dapat lebur dan menyatu dengan bumi jika sudah selesai ritual.

Takir Plonthang untuk Kenduri Suro
info gambar

Ritual budaya di Gebang Kidul diselenggarakan pada 10 Muharram. Secara tradisional budaya ini memang berasal dari budaya Jawa Kuno namun pada 10 Muharram 1439 ini adalah kali pertama dimulainya lagi dengan melibatkan nilai-nilai Islami untuk menyelenggarakan ritual tersebut. Hal ini digagas oleh Ketua Takmir Masjid Baitul Mu’min, Bapak Supartono dengan berdiskusi dengan sesepuh setempat Mbah Kholil untuk melakukan kegiatan uri-uri budaya yang merupakan akulturasi budaya Islam dan Jawa di era Mayaini. Tahukah kawan, membuat budaya juga pasti memiliki tujuan luhur. Oleh karena itu, mengetahui kebudayaan juga merupakan lahan pembelajaran untuk tahu betapa tinggi budaya kita kala itu.

Ada yang mengganjal, ya… karena ini baru pertama kali bagi warga di Gebang Kidul. Tujuan mulia dibalik menghidupkan kebudayaan ritual Suran ini adalah untuk memakmurkan masjid dan menyatukan warga. Oleh karenanya, masyarakat dari berbagai golongan yang berbhineka dapat berkumpul sesuai instruksi perangkat desa untuk membawa takir Plonthang sejumlah sanak famili di rumah untuk berbondong-bondong ke masjid dan berdoa.

Di era maya ini, yang bisa dilakukan dengan cepat adalah informasi. Pada mulanya, ide yang muncul dari pemandangan perayaan Suro di berbagai daerah menjadikan Takmir Masjid hanya memiliki waktu terbatas untuk mengkondisikan masyarakat Gebang Kidul. Dengan mengaktifkan remaja-remaja di lingkungan melalui wadah remaja masjid, informasi melalui whatsapp dan BBM (Blackberry Messenger) pun digunakan untuk mempercepat penyebaran informasi. Selebaran berisikan pemberitahuan pengadaan syukuran Suran dengan membawa takir Plonthang juga ditempel di papan pengumuman masjid berikut contoh gambar takir Plonthang dan filosofi maknanya. Dalam waktu tak kurang dari dua hari, masyarakat yang menunaikan puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) juga dalam waktu yang terbatas dapat mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk tasyakuran.

Masyarakat yang Mulai Berkumpul membawa Takir Plonthang
info gambar

Pada malam minggu, setelah Isya’, sedikit demi sedikit masyarakat berdatangan membawa takir Plonthang. Banyak yang hadir banyak pula yang tidak hadir namun hal itu tidak mengurangi kekhusukan dalam berdoa memohon keselamatan dan kelebihbaikkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Takmir Masjid dan menjelaskan sisi filosofi Islami dari syukuran Asyura tahun ini. Masyarakat Gebang Kidul yang baru pertama kali menyelenggarakan ini menjadi lebih tahu makna setiap apa yang dibuat. Takir Plonthang yang berisikan nasi gurih, sambal goreng, serondeng, telur dadar, dan mie memiliki makna semiotik tersendiri seperti wadah yang terbuat dari daun pisang adalah simbol dari alam lebur kea lam. Daun pisang yang dapat dengan mudah hancur bila dibuang menjadi simbol yang bisa diterima untuk menggunakan bahan organik sehingga smpah organik dapat dengan mudah diurai dalam tana. Serondeng memiliki filosofi pada jaman bau dari gorengan parutan kelapa dapat tercium sampai ke nirwana sehingga apa yang kita minta dalam doa bisa pula didengar melalui serondneg tadi. Telur dadar, sambal goreng, dan mie dalam takir plontang adalah simbol dari bersatunya semua kalangan baik yang baik dan yang buruk, yang muda dan yang tua, yang kaya maupun yang miskin untuk berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa keselamatan dalam pergantian tahun Islam ini.

Akulturasi yang sengaja dilakukan adalah penetapan pengadaan syukuran Suran yakni pada tanggal 10 Muharram setelah puasa sunnah Asyura adalah pemikiran yang bijak untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya Jawa namun tidak meninggalkan nilai-nilai Islami. Mensyiarkan kebaikan memang perlu pemikiran dan keikhlasan apalagi tetap berpijak pada ilmu dan pengetahuan yang sudah ada, harus diadaptasi secara bijak dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan fitnah dan perpecahan umat. Era maya memang membawa banyak bencana bagi mereka yang salah menggunakannya tetapi era Maya juga seharusnya dapat membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia.

Demikian kawan sepenggal kisah kenduri Suro di Gebang Kidul yang sedang merajut kebhinekaan dengan tali-tali agama dan budaya hingga suatu kelak nanti menjadi suatu keindahan dalam perdamaian dan kerukunan manusia Indonesia. Budaya mengajarkan kita agar bijak meski berwacana namun jangan sampai era Maya tidak mengembangkan dan menghidupkan budaya dan masa jayanya. Sepenggal gurit untuk pecinta budaya.

Suran: Ngangsu Saran

Ing tlatah Gebang Kidul

Ora ana barang kang pinunjul

Ana uri-uren mangan takir kembul

Tekan dalan nganti kali tanpa bajul

Mangeti Sura kaya wali sanga

Luhur budine lan wijaksana

Ngelmu mlebu budaya

Ngemu madu nadyan rung riyaya

Sura iki ayo Suran

Nguri – uri kasusastran

Kawruh ing bebasan

Uga pada ngangsu saran

Kutha cilik ing Jawi Wetan

Layone para kesatriyan

Donga dinonga ing kabecikan

Mugi prayogi kita lan liyan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini