World Economic Forum (WEF) pada 26 September yang lalu melansir laporan terbaru tentang Global Competitiveness Index (Indeks Daya Saing Global) untuk tahun 2017-2018. Dalam laporan tersebut WEF menempatkan Indonesia di peringkat 36 meningkat dari peringkat 41 di tahun sebelumnya. Lalu, setelah Indonesia ada diperingkat itu? apa selanjutnya? 

Sejatinya sebagaimana dijelaskan oleh WEF bahwa indeks tersebut semata adalah sebuah panduan untuk pengambil kebijakan dan sebuah alat ukur. Sehingga apa yang terpampang dalam laporan tersebut tidak serta merta menjadi solusi bagi tingkat daya saing sebuah negara melainkan menjadi ibarat peta. Itu sebabnya, terdapat beberapa hal yang perlu diketahui tentang konsep-konsep dan tren yang meliputi indeks tersebut. 

WEF melansir, setidaknya terdapat empat hal yang perlu dipertimbangkan, didiskusikan dan dihadapi. Yakni tentang  paradox produktifitas; revolusi industri keempat; meningkatnya ketimpangan pendapatan; dan juga peningkatan masif populasi kelas pekerja. 

(Foto: p2tel.or.id)
(Foto: p2tel.or.id)

1. Paradox produktifitas (Productivity paradox)

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan WEF menjelaskan bahwa saat ini produktifitas secara global mengalami pertumbuhan namun tidak secepat sebelumnya dan cenderung melambat. Hal ini menurut WEF adalah sebuah paradox karena dunia saat ini sedang mengalami inovasi teknologi yang sangat cepat. Lalu bagaimana mungkin teknologi-teknologi baru itu tidak menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi? Pertanyaan inilah yang banyak dipertanyakan oleh para ahli ekonomi beberapa dekade terakhir. 

WEF menjelaskan bahwa kemungkinan terdapat beberapa penjelasan. Pertama, bahwa inovasi-inovasi terbaru tersebut memang tidak membuat kita produktif. Mesin pembakaran dalam, dan mesin domestik, seperti mesin cuci di rumah, ternyata lebih mampu untuk membuat kita lebih produktif.

Telah banyak argumen yang menjelaskan bahwa inovasi-inovasi saat ini hanya memberikan kesan keren semata (cool and nice to have). Kita mungkin akan terlihat lebih keren bila memiliki ponsel pintar yang memiliki fitur tertentu seperti Augmented Reality misalnya. Namun itu tidak serta merta membuat kita produktif. 

Penjelasan kedua adalah, inovasi saat ini membuat pekerjaan orang-orang menjadi usang. Bayangkan jika kamu menghabiskan lima tahun mempelajari bagaimana prosedur akuntansi dan hal-hal terkait lainnya. Lalu kemudian hampir dalam waktu sekejap, semua hal tersebut bisa dilakukan oleh mesin otomatis dan kemampuanmu menjadi sia-sia. Hal ini terjadi tidak hanya untuk para akuntan misalnya tetapi juga diberbagai profesi lainnya. 

Penjelasan lainnya tentang mengapa produktifitas menurun adalah dari sisi investasi. Bahwa bisa jadi kita melakukan kesalahan investasi meski tingkat bunga saat ini sangat rendah namun investasi yang dilakukan tidak produktif atau tidak menghasilkan. 

Penyebab produktifitas rendah lain adalah menuanya generasi di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Saat populasi menua, tentu saja hal ini membuat produktifitas menurun. Sehingga proporsi orang-orang yang tidak produktif menjadi meningkat. 

Penjelasan yang terakhir tentang rendahnya produktifitas adalah mungkin saja kita tidak mengukur GDP (Gross Domestic Product) dengan benar. Sebab selama ini GDP merupakan alat ukur yang paling sering digunakan untuk melilhat tingkat produktifitas sebuah negara. Oleh karena itu, untuk mengukur tingkat produktifitas dengan akurat kita harus mengukur GDP dengan cara yang tepat. 

Selama ini, GDP mengukur nilai dari barang dan jasa yang diproduksi dalam sebuah negara selama satu tahun. Cara ini akan efektif ketika ekonomi kita memproduksi barang seperti mobil atau sayur-mayur yang kita bisa lipat gandakan harga sayurnya sejumlah sayur yang diproduksi. 

Namun di dunia saat ini, banyak inovasi yang mampu memproduksi sesuatu dengan gratis tanpa angka.Sebagai contoh, nilai layanan yang diberikan Google berikan pada penggunanya atau kontribusinya pada GDP dapat dikatakan adalah nol karena layanan-layanan tersebut disediakan secara gratis. Namun di saat yang sama, Google berhasil membuat hidup jauh lebih mudah. Kita tidak lagi perlu ke perpustakaan untuk mencari buku atau dokumen berjam-jam. Produktifitas yang telah kita dapatkan dengan menggunakan mesin pencari milik Google sama sekali tidak terhitung. 

Inilah yang banyak terjadi dengan inovasi-inovasi saat ini dan bisa jadi banyak aspek produktifitas GDP saat ini yang tidak terdeteksi padahal ekonomi sebenarnya mengalami pertumbuhan jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. 

(Foto: linnbenton.edu)
(Foto: linnbenton.edu)

2. Revolusi industri keempat (The fourth industrial revolution)

Kemunculan teknologi-teknologi disruptif saat ini sangatlah cepat. Jika kembali ke 10 tahun ke belakang, iPhone belumlah lahir. Kita telah melihat perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan, material baru, biologi sintetis, big data dan teknologi-teknologi on-demand. Semua hal tersebut berhasil mengubah tatanan bisnis menuju tingkat yang benar-benar baru. 

Banyak diantara inovasi-inovasi tersebut tidak muncul di beberapa negara yang sebelumnya bahkan memproduksi teknologi secara monopoli (menguasai hampir seluruh teknologi di dunia). Saat ini bukan lagi hanya negara seperti Amerika Serikat ataupun Eropa yang melakukan inovasi, revolusi industri yang baru telah mampu menctiptakan peluang-peluang untuk berbagai negara di dunia. Sebuah tren yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat penting untuk diperhatikan. 

(Foto: thinglink.com)
(Foto: thinglink.com)

3. Meningkatnnya ketimpangan pendapatan (Growing income inequality)

Selama 40 tahun terakhir telah terjadi kesamaan pola yakni pendapatan penduduk yang tinggal di negara-negara berkembang terus mengalami pertumbuhan lebih cepat dari pada mereka yang tinggal di negara-negara maju. Itu artinya ketimpangan pendapatan dalam tingkat global telah berkurang. 

Namun, meskipun kabar baik di atas terjadi, WEF juga melihat menigkatnya ketimpangan pendapatan di beberapa negara. Ketika pendapatan di Tiongkok semakin dekat dengan pendapatan Amerika Serikat, penduduk Amerika secara relatif pendapatannya semakin menjauh. Ini terjadi karena konsekuensi dari Revolusi Industri Keempat, yang melenyapkan pekerjaan-pekerjaan kelas menengah. 

Hal ini terbilang cukup berbeda dengan revolusi industri sebelumnya yang secara mendasar memberikan keuntungan bagi para orang miskin. Orang-orang berpindah dari pekerjaan agrikultur bergaji rendah menuju pekerjaan dengan gaji layak di kota. Dan revolusi industri sebelumnya mengalami perubahan yang lambat, itu artinya, meskipun orang-orang kehilangan pekerjaan, mereka akan bisa mendapatkan pekerjaan lain di tempat lain. Mereka memiliki waktu untuk beradaptasi.

Namun kini, itu tidak terjadi karena perubahan teknologi saat ini begitu cepat dan para kelas menengah yang mengalami dampaknya. Sehingga terjadi konsekuensi politik yakni meningkatnya gelombang populisme, Trump, Brexit, Le Pen dan bangkitnya neo-fasisme dan gerakan kiri di Eropa adalah beberapa contoh. 

(Foto: kmhdi.org)
(Foto: kmhdi.org)

4. Peningkatan masif populasi kelas pekerja (A massive increase in the working population)

Tren keempat yang didiskusikan oleh WEF dalam laporan daya saing adalah tentang adanya 4 milyar orang yang sebagian besar di Asia masuk ke pasar kerja dunia dalam beberapa dekade terakhir. Orang-orang ini adalah tenaga kerja berkemampuan tinggi, terlatih dan teredukasi, dan mereka mengambil pekerjaan dari negara-negara berkembang. Hal ini juga berkontribusi pada populisme, yang kerap mendengungkan "Kita kehilangan pekerjaan pada orang asing." Akibatnya seluruh dunia semakin tertutup pada perdagangan, melawan globalisasi, dan berkembangnya neo-nasionalisme. 

Menurut WEF empat hal ini adalah konsep dan juga teran yang harus diperhatikan di masa-masa mendatang untuk menjawab seberapa kompetitif sebuah negara. Negara yang produktif dan tumbuh yang kemudian meningkatkan tingkat pendapatan dan bisa jadi meningkatkan kualitas kehidupan. 

"Adalah hal yang vital untuk mengubah kebijakan ketenagakerjaan saat ini. Kita perlu memadukan antara fleksibilitas dengan keamanan pekerjaan (job security), meskipun keduanya semakin tidak padu satu sama lain. Strategi-strategi yang banyak dilakukan di berbagai negara adalah dengan mengurangi keamanan pekerjaan agar tetap bisa kompetitif. Kebijakan-kebijakan telah melucuti hak-hak pekerja untuk tujuan fleksibilitas dalam hal ketenagakerjaan. Dan ini adalah sebuah kesalahan," ujar Xavier Sala'i Martin, Professor Ilmu Ekonomi, Columbia University. 

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Apakah empat tren di atas terjadi di Tanah Air?

Artikel ini merupakan terjemahan dan suntingan dari "4 reasons why your country should be more competitive" yang dipublikasikan oleh World Economic Forum pada 27 September 2017.

Ada 1 komentar

Ayo ikutan juga