House of Sampoerna: Membingkai Sejarah Rokok Kretek dan Kegigihan Para Wanita

House of Sampoerna: Membingkai Sejarah Rokok Kretek dan  Kegigihan Para Wanita
info gambar utama

Kalau Kudus punya Djarum dan Kediri punya Gudang Garam, maka Surabaya punya Sampoerna. Pabrik dari perusahaan penghasil rokok kretek ini berlokasi di Jalan Krembangan yang termasuk dalam kawasan kota tua. Tepat di depan pabrik terdapat museum rokok yang dikenal dengan nama House of Sampoerna.

Ketika menjejakkan kaki di halaman depan House of Sampoerna pengunjung akan melihat 4 pilar besar. Jika diperhatikan dengan seksama keempat pilar tersebut sebenarnya berbentuk rokok. Begitu masuk ke dalam pengunjung seketika “disambut” oleh aroma tembakau yang cukup tajam. Ya, nama saja museum rokok. Wajar jika menonjolkan aroma tembakau sebagai daya tarik. Dari pintu masuk lantas belok kiri pengunjung dapat melihat replika warung yang dilengkapi dengan rantang makanan, wajan, tempeh, dan toples-toples yang di antaranya berisi kacang-kacangan dan permen. Warung ini dulunya merupakan milik Liem Seeng Tee, founding father Sampoerna dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Tak jauh dari replika warung terdapat kumpulan tembakau yang ditampung dalam besek. Dipajang pula 2 sepeda tua yang dulunya dikendarai Liem kala merintis usahanya. Jika pengunjung ingin mengetahui seperti apa rupa Liem dan istrinya, pengunjung bisa melihatnya di bagian kanan ruangan. Di area tersebut memang terpampang foto Liem dan Siem dalam ukuran yang cukup besar. Ada pula foto-foto keluarga mereka berdua dari masa ke masa.

Replika warung makanan milik pasutri Liem dan Sieng
info gambar

Masih di lantai 1, masuk ke ruangan selanjutnya para pengunjung diajak untuk melihat foto-foto jajaran direksi Sampoerna. Lalu di ruangan terakhir pengunjung kembali bisa melihat replika warung. Jika di ruangan sebelumnya replika yang dipamerkan ialah replika warung makan, maka di ruangan terakhir ini replikanya berupa warung rokok tempo dulu. Di ruangan ini pula terdapat pajangan-pajangan menarik lainnya, seperti replika dokar serta 1 set perlengkapan marching band. Dulunya tim marching band Sampoerna termasuk tim yang berjaya karena berhasil meraih penghargaan hingga kancah internasional. Namun, semenjak 1991 aktivitas marching band dihentikan dan timnya pun bubar.

Satu set replika perlengkapan marching band binaan Sampoerna. Pada masanya tim marching ini pernah berjaya.
info gambar

Jika di lantai 1 pengunjung bisa melihat aneka pajangan, maka di lantai 2 pengunjung bisa berbelanja suvenir, seperti gelas dan kaos. Bukan hanya sebagai tempat belanja suvenir, ada hal lebih menarik bahkan mungkin paling menarik dari museum ini yang bisa pengunjung saksikan dari lantai 2. Ya, apalagi kalau bukan aktivitas melinting rokok yang dilakukan oleh para pekerja wanita. Aktivitas ini hanya bisa disaksikan pada jam-jam tertentu di hari kerja. Saya yang saat itu baru pertama kali menyaksikannya langsung merasa terheran-heran sekaligus kagum. Terheran-heran karena para wanita tersebut bekerja dalam kecepatan yang amat super kala melinting rokok. Tangan mereka begitu cekatan mulai dari mempersiapkan isi rokok, melintingnya, hingga mem-pack-nya. Dalam hati saya berpikir, apakah mereka tidak merasa stressed dan jenuh melakoni rutinitas tersebut hampir setiap hari? Ketika mendengar penjelasan dari tour guide yang saat itu mendampingi, jujur saya kaget. Bayangkan, mereka ditarget untuk menghasilkan 325 batang rokok per jamnya! Wajar saja jika gerakan tangan mereka begitu cepat.

Di sisi lain saya merasa kagum dengan para pekerja wanita tersebut. Mereka mau bekerja dengan total dan gigih. Tidak nampak raut lelah di wajah mereka, meskipun pekerjaan yang mereka jalankan cukup berat. Semangat para pekerja wanita inilah yang pantas kita tiru. Lokasi kerja para pelinting rokok ini berada di gedung di sisi kanan museum. Ketika saya melewati depan gedung tersebut terdengarlah lagu-lagu dangdut yang saya yakin bertujuan untuk menghibur para pekerja agar tidak jenuh bahkan stressed. Selama menyaksikan aktivitas melinting rokok para pengunjung tidak diperbolehkan memfoto ataupun merekam. Ini demi melindungi privasi para pekerja sekaligus agar tidak menganggu konsentrasi mereka.

Sumber: dokumentasi pribadi dan diolah dari berbagai sumber

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini