28 Oktober merupakan harinya para pemuda di Indonesia. Sebab pada tanggal ini diperingati peristiwa penting yang mengobarkan semangat para pemuda di Indonesia untuk memerdekakan diri dari Kolonial Belanda, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dalam momen tersebut ada tiga hal yang dideklarasikan oleh para pemuda yakni tentang tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan. Namun ada satu hal yang kerap kali tidak diingat dalam momen sumpah pemuda, yakni penetapan lagu kebangsaan, Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman untuk pertama kalinya.

Di momen sumpah pemuda tahun 1928 itulah pria kelahiran Purworejo, Wage, 9 Maret 1903 memainkan biolanya sambil melantukan Indonesia Raya sebagai bentuk kecintaannya pada tanah air. Saat itu nama Indonesia belum resmi digunakan karena Belanda masih menggunakan nama Hindia Belanda sebagai nama resmi namun Supratman telah menggunakan judul Indonesia Raya untuk lagu yang ia ciptakan di tahun 1924 itu.  

Monumen WR Supratman di depan teks lirik Indonesia Raya (Foto: Bagus DR/GNFI)
Monumen WR Supratman di depan teks lirik Indonesia Raya (Foto: Bagus DR/GNFI)

Perjuangan untuk menampilkan sebuah lagu di saat itu perlulah perjuangan. Termasuk kongres sumpah pemuda ke-2 yang saat itu sangat ketat diawasi oleh pasukan Belanda. Itulah mengapa lirik Indonesia Raya pertama kali tidak memiliki satupun kata merdeka. Selain saat itu Indonesia memang belum merdeka, Belanda juga sangat ketat melarang adanya kata-kata "merdeka" dalam setiap forum apapun.

Perjuangan Supratman tidak hanya dalam bentuk lagu tetapi juga novel maupun sajak-sajak pedas mengkritik kolonial. Namun pria yang semasa mudanya sempat bermain musik bersama kelompok jazz bernama Black White itu hidup dalam kemiskinan meski memiliki cita-cita yang luhur tentang Indonesia. 

Bahkan Supratman yang kemudian dinobatkan sebagai salah satu tokoh pahlawan nasional, tidak banyak dikenal kisah hidupnya karena dirinya wafat dalam usia yang muda yakni 35 tahun di hari jawa yang sama, Wage dan tepat 7 tahun sebelum Indonesia merdeka.

Rumah terakhir WR Supratman yang kini menjadi museum di jalan Mangga 21, Surabaya (Foto: Bagus DR/GNFI
Rumah terakhir WR Supratman yang kini menjadi museum di jalan Mangga 21, Surabaya (Foto: Bagus DR/GNFI

Melihat masa meninggal Supratman, tentu saja saat lagu Indonesia Raya dimainkan dalam momen kongres sumpah pemuda kedua, Supratman tidak akan menyangka kalau lagunya akan menjadi lagu kebangsaan. Sebab dirinya telah meninggal dunia sebelum Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Namun rasanya Supratman memiliki impian yang kuat tentang sebuah kemerdekaan. 

"Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka," ucap Supratman menjelang akhir hayatnya. 

Kini, WR Supratman dikebumikan di Surabaya dan rumah terakhirnya diabadikan sebagai sebuah museum. Di rumah tersebut terdapat memorabilia semasa hidup Supratman. 

Berkat karya Supratman, Indonesia memiliki lagu kebangsaan yang kini kita kenal. Lagu yang dilantukan di setiap peristiwa-peristiwa penting dunia seperti upacara ataupun saat menjuarai kompetisi. Liriknya yang begitu menceriminkan kecintaan pada Indonesia membuat hati para pendengarnya bergetar. 

Selamat hari sumpah pemuda para pemuda-pemudi Indonesia. Selamat berkarya, dan capailah cita-cita yang mulia untuk Indonesia.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu