South-South Cooperation: Menganalogikan Indonesia sebagai Makhluk Berbudi

South-South Cooperation: Menganalogikan Indonesia sebagai Makhluk Berbudi
info gambar utama

Jika ditanya mengenai Association of Southeast Asian Nations atau ASEAN, kita akan kompak menjawab bahwa itu adalah asosiasi negara-negara di Asia Tenggara. Namun jika ditanya mengenai South-South Cooperation, apa jawaban kita? Apa yang kita tahu?

Pertama kali mendengarnya saya juga terheran-heran, apakah itu masih bagian dari ASEAN, atau mungkin organisasi di bawah naungan PBB? I have no idea. Lalu seolah menjawab rasa penasaran saya, Kementerian Luar Negeri bersama Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Keuangan dan BAPPENAS mengadakan seminar dan talkshow mengenai South-South Cooperation di Bandung, tepatnya tanggal 9 Oktober 2017 bertempat di Gedung Merdeka. Sepulang dari sana, barulah tabir kebingungan saya tersingkap dan rasanya saya harus menulis ini agar lebih banyak lagi orang yang tahu apa itu South-South Cooperation..

Semudah namanya, South-South Cooperation adalah kerja sama antar negara-negara di bagian Selatan, yang notabene merupakan negara berkembang bahkan banyak diantaranya yang masih tergolong negara miskin di dunia. South-South Cooperation, atau yang dalam Bahasa disebut Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) berdiri sejak tahun 2010. Gerakan ini sebetulnya sudah terinisiasi sejak Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 silam, dimana perhelatan akbar tersebut menjadi titik awal solidaritas di antara negara berkembang untuk mencapai kemandirian.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Dengan motto “Better Partnership for Prosperity”, KSST memiliki fokus utama dalam menyelesaikan masalah infrastruktur, pembangunan ekonomi, perlindungan sosial, pendidikan dan kesehatan, pangan dan energi, lingkungan dan perubahan iklim, tata kelola pemerintahan, dan lainnya. Saat ini, KSST telah menjadi wadah penting bagi negara-negara dunia ketiga untuk saling bertukar informasi, pengalaman, maupun peningkatan pengetahuan.

Yang keren di sini adalah Indonesia mengambil peran sebagai aktor penting dalam perjalanan KSST. Bagaimana tidak, alih-alih mejadi negara yang banyak dibantu, Indonesia justru lebih getol memberi bantuan pada negara-negara lain sesuai dengan motto KSST Indonesia yakni “No one left behind”. Tercatat selama tahun 2016 saja, kurang lebih ada 51 program yang diberikan Indonesia dalam bentuk proyek-proyek bantuan, dukungan peralatan, program magang, seminar, lokakarya, kunjungan belajar, pelatihan, dan pengiriman tenaga ahli kepada negara-negara seperti Fiji, Chad, Solomon Islands, St. Vincent & The Grenadies, New Caledonia, Vanuatu, Marshall Islands, Palau, Nauru, Tonga, Tuvalu, Samoa dan masih banyak lainnya. Kalian pernah dengar nama negara-negara tersebut? Sama, I don’t even know several of them exist. Tapi itulah anggota South-South Cooperation, negara-negara kecil yang tidak banyak muncul di media kita saat ini, bukan negara hits yang lazim orang jadikan destinasi wisata Instagramable.

Saya masih ingat ketika talkshow berlangsung, saya bertanya bagaimana Indonesia membantu negara recipient dengan tanpa mengintervensinya untuk menyerupai karakteristik Indonesia, misalnya dalam urusan pangan dimana makanan pokok kita adalah nasi dan di negara Palestina belum tentu sama. Lalu Bapak Fikry Cassidy selaku Ketua Tim Koordinasi Nasional KSST menjawab, bahwa setiap program dari Indonesia dipilih berdasarkan prinsip demand driven, yaitu sesuai dengan kebutuhan negara penerima bantuan. Indonesia tidak pernah memaksa suatu negara untuk menerima bantuan yang mereka tidak butuhkan, sebaliknya Indonesia juga tidak memaksakan diri untuk membantu pada bidang-bidang yang kita belum punya spesialisasinya. “Kalau di sana tidak tumbuh anggur tapi bisa tumbuh jeruk, ya kita kirim jeruk, lalu cari apa lagi yang bisa tumbuh disana dan kita punya bibitnya.” Begitulah kira-kira contoh yang diberikan oleh narasumber lain, Bapak Yulius Purwadi.

Prestasi Indonesia di kancah internasional seperti KSST dilatarbelakangi oleh peningkatan status ekonomi Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah (middle-income country) dan menjadi bagian dari G20 yang menguasai 85% ekonomi dunia. Status ini akan terus meningkat sehingga pada 2030 Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia. Selain itu, melalui KSST Indonesia dapat mempromosikan kepada dunia kepentingan luar negeri bangsa Indonesia yang bertujuan untuk turut serta menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sesuai tujuan Indonesia dalam Pembukaan UUD ’45. Maka tidak salah jika kontribusi Indonesia dalam KSST dapat dianalogikan sebagai cerminan sikap dari mahkluk hidup yang berbudi luhur dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan dari negara yang dibantu. Sepakat bahwa kita selaku Warga Negara Indonesia juga harus bersikap demikian?

Beberapa program unggulan KSST Indonesia:

  • International Workshop on Cyber Crime and Digital Forensic for Palestinian Police Officers and International Workshop on Public Order Management for Asia Pasific Countries
  • Knowledge Sharing Program for the Egyptian Official Development Assistance (ODA) Management
  • Enterpreneurship Boot Camp: International Workshop on Enterpreneurship for Asia Pasific
  • Sharing Best Practices and Experience on Women and Leadership
  • Organization of Islamic Conference Workshop on Vaccine Management

“...Kami akan memperkuat peran Indonesia dalam kerja sama global dan regional untuk membangun saling pengertian antar peradaban, memajukan demokrasi dan perdamaian dunia, meningkatkan kerjasama pembangunan Selatan-Selatan, dan mengatasi masalah-masalah global yang mengancam umat manusia...” – Presiden Joko Widodo dalam Nawa Cita #1.

“Mempunyai dasar negara yang menyebutkan bahwa kita merupakan warga dunia dan tidak hidup sendiri maka kita (bangsa Indonesia) memiliki keinginan untuk memelihara perdamaian dunia dan kesejahteraan umum. Ini adalah suatu panggilan mengingat Indonesia memiliki kemampuan sehingga harus ikut menjaga hubungan antar negara.” – Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Terbaik Asia Tahun 2007 dan 2008 (by Emerging Market) dan ‘The 100 Most Powerful Women’ versi Majalah Forbes.

“Banyak Warga Negara Indonesia menganggap bahwa mereka tinggal di negara terbelakang. Padahal di luar sana kita dipandang sebagai negara yang hebat, yang beberapa tahun ke depan bisa menjadi negara maju, salah satu negara yang pertumbuhan ekonominya sangat cepat dibanding negara lain. Jadi jangan pesimis pada negeri sendiri.” – Yulius Purwadi, Lecturer and Reseacher of Parahyangan University

“Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana Indonesia telah menghargai masyarakat Kirgizstan. Dengan memberikan bantuan ini untuk kami, setiap keluarga dapat hidup layak dan anak-anak serta cucu mereka tidak akan mengenal apa itu miskin.” – A. Kydyrmaev, Kepala Kyrzyg Scientific Research Institute of Livestock and Pastures)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar


Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini