Pesawat Prototype Anak Bangsa Yang Bernama N219 "Nurtanio"

Pesawat Prototype Anak Bangsa Yang Bernama N219 "Nurtanio"

Pesawat N219 Buatan PT DI © republika online

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Indonesia Joko Widodo juga secara sah menamai pesawat N219 buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan nama Nurtanio. Pesawat transport nasional N219 diujiterbangkan dari Pangkalan AU Halim Perdana Kusuma, berkapasitas 19 orang dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi CASR Part 23.

Dalam acara hari itu juga turut hadir Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, yang diberitakan dari okezone.com mengatakan bahwa kehadiran pesawat N219 ke depannya bisa berperan dalam mewujudkan konektivitas udara Indonesia sebagai sarana pendukung. Pesawat ini juga dapat menjadi solusi distribusi logistik nasional untuk mendukung program jembatan udara logistic yang dalam aplikasinya, pesawat ini diharapkan menjadi penyambung tol laut yang berorientasi pada pengangkutan logistik dan penumpang bagi daerah pedalaman. Hal tersebut untuk mengurangi biaya yang mengakibatkan harga komoditas yang tinggi di daerah pedalaman. Namun implementasinya masih membutuhkan proses panjang. Dibutuhkan total jam terbang oleh purwarupa pesawat N219 selama 340 jam untuk mendapatkan type certificate (TC).

Foto: Trio Hamdani (Okezone)
Foto: Trio Hamdani (Okezone)

Type certificate sendiri adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPP) Kementerian Perhubungan. Uji terbang ini dilakukan untuk menjamin keselamatan pesawat N219 sebelum digunakan untuk melayani penerbangan. Rencananya pesawat ini juga akan diproduksi massal oleh PT DI setelah mendapatkan Sertifikasi pada 2018.

Nama “Nurtanio” sendiri dipilih oleh Presiden, diambil dari nama Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo yang lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923 – meninggal di Bandung, 21 Maret 1966 pada umur 42 tahun, yang gugur dalam sebuah penerbangan ujicoba. Nurtiono pun menjadi tokoh dalam Perintis Industri Penerbangan Indonesia.

Sertifikatnya baru akan keluar tahun 2018 dan diproduksi masal pada 2019, namun pesawat ini sudah dilirik oleh beberapa negara tetangga seperti Vietnam, Laos, Myanmar bahkan Afrika.

Dari laman yang sama pula, ternyata N219 mempunyai 6 aspek penting dalam rangka pengembangan industry penerbangan nasional yaitu pesawat yang dibangun atas kebutuhan riil terkait dengan penerbangan perintis (design by demand), wahana bagi pengembangan generasi baru engineer penerbangan, pesawat dengan TKDN yang tinggi, pesawat yang dibangun 100% oleh engineer dalam negeri tanpa bantuan asistensi dan teknisi asing, program pesawat yang mampu mendorong tumbuhnya UKM dirgantara yang bisa menyuplai kebutuhan produksi (misalnya INACOM) maupun dari sisi engineering (IAEC), dan pesawat yang relative unggul dikelasnya.


Sumber: okezone.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bangun Tiga Infrastruktur Untuk Tingkatkan Konektivitas Transportasi Sukabumi Sebelummnya

Bangun Tiga Infrastruktur Untuk Tingkatkan Konektivitas Transportasi Sukabumi

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS Selanjutnya

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS

Julian Alsen
@julian

Julian Alsen

Hadapi & Menangkan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.