Minyak kelapa sawit Indonesia semakin terang dan dicari pebisnis mancanegara terutama Pakistan. Dibuktikan dengan partisipasi Indonesia di Pakistan International Trade Fair (PITF) 2017, yang diselenggarakan  26-29 Oktober 2017 di Karachi Expo Center, Pakistan. Indonesia mampu menguasai kebutuhan produk minyak sawit di Pakistan. Hal tersebut karena didukung kebijakan tarif ekspor Indonesia yang dinilai lebih kompetitif sehingga menjadi pendorong tingginya minat pembeli sawit di Pakistan.

Dubes RI untuk Pakistan H.E Iwan S. Amri mengatakan, Pakistan merupakan importir ketiga terbesar edible oil di dunia dengan jumlah mencapai 2,6 juta metrik ton, dan sebagian besar impor edible oil dipenuhi dalam bentuk minyak sawit dengan jumlah 2,2 juta metrik ton pada 2016. Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa pemerintah memberi dukungan yang sangat kuat terhadap industri kelapa sawit Indonesia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
pekerja di kebun kelapa sawit (© kelapasawit.ptnasa.net)
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
pabrik kelapa sawit (© thehindubusinessline.com)

Di Pakistan, edible oil menstimulasi pertumbuhan berbagai industri mulai dari minyak goreng, makanan, hingga sabun. Sementara sumber impor utama Pakistan untuk produk edible oil adalah Indonesia dan Malaysia. ‎Posisi dominan Indonesia, di pasar sawit Pakistan perlu dipertahankan‎. Minyak sawit dan turunannya sebagai komoditi ekspor utama Indonesia ke Pakistan berkontribusi pada devisa negara sebesar 1,4 miliar dolar AS.

Pada 2015 dan 2016, produk sawit Indonesia rata-rata menguasai 80% lebih dari kebutuhan Pakistan. Produk olein dan RBD Palm Oil (PO) asal Indonesia lebih banyak diminati industri pengolahan Pakistan. Sebagai perbandingan, Pakistan mengimpor olein Indonesia sebanyak 1,06 juta ton dan RBD PO berjumlah 978 ribu ton pada 2016. Sedangkan, impor olein dan RBD PO dari Malaysia sebesar 241.961 ton dan 99.184 ton.

Indonesia dapat meningkatkan pangsa pasarnya asalkan dapat memperbaiki struktur tarif untuk produk minyak sawit mentah atau CPO. Diperlukan upaya bersama dalam memperkuat diplomasi sawit Indonesia di luar negeri. Permasalahan yang dihadapi sawit Indonesia berbeda-beda dan unik di tiap negara tujuan ekspor, sehingga diperlukan suatu upaya terpadu diplomasi sawit Indonesia di negara-negara tujuan ekspor utama.

Saat ini Pakistan dan Indonesia sedang dalam proses evaluasi kesepakatan Preferential Trade Agreement (PTA) yang diresmikan pada 2013. Dalam pertemuan pertama Agustus 2016, kedua negara memberikan daftar masalah mengenai pelaksanaan PTA selama tiga tahun pertama. Indonesia dan Pakistan sepakat mengambil langkah-langkah baru guna mengatasi masalah tersebut.

Setelah penandatanganan PTA, total volume perdagangan kedua negara adalah 1,6 miliar dolar AS di tahun pertama dan mencapai 2,1 miliar dolar AS pada 2015. Pakistan telah menjadi importir minyak sawit terbesar keempat dari Indonesia. Pelaku industri sawit Indonesia dan Pakistan juga berpandangan bahwa komoditi sawit dapat menjadi salah satu instrumen yang mempererat hubungan bilateral RI-Pakistan. Interaksi dagang antara pelaku sawit kedua negara dapat membuka interaksi bisnis lainnya, seperti investasi atau perdagangan komoditi ekspor lainnya yang menguntungkan kedua negara.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
membentuk kerjasama Indonesia dan Pakistan (© img.okeinfo.net)


Sumber: industry.co.id | industri.bisnis.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu