Kearifan Lokal Suku Dayak Menyelesaikan Konflik

Kearifan Lokal Suku Dayak Menyelesaikan Konflik
info gambar utama

Suku yang ada dikalimantan barat ini merupakan suku asli dari pulau kalimantan. Sering terjadinya konflik di daerah kalimantan mulai dari tahun 1770 konflik sosial muncul hingga tahin 1999.

Keadaan setelah konflik sosial ini menarik untuk dipelajari begitu pula dengan upaya menanganinya. Kalbar yang masih kental dengan budaya patut menggali kearifan lokal yang bisa digunakan untuk menciptakan perdamaian maupun untuk menyelesaikan konflik.

Sebuah kearifan lokal yang tumbuh dalam masyarakat Dayak Kanayatn. "Dalam Dayak Selakau, Kanayatn, kita punya mekanisme pamabakng ini merupakan upaya penyelesaian masalah dengan menyerahkannya pada Tuhan, ini dilakukan melalui ritual adat," ujarnya saat menghadiri diskusi mengenai aturan dan tradisi penanganan situasi konflik yang diselenggarakan di Hotel Aston oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Jakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura.

proses aksi damai

proses aksi damai yang dilakukan dewan dayak

Dia menjelaskan masyarakat mengakui nilai-nilai yang sudah tertanam sejak dulu. Pamabakng merupakan sebuah ritual adat yang menunjukkan hubungan antara manusia dan Tuhan.

Selain pamabakng dia juga menyebutkan bahaump. Bahaump merupakan kata lain dari musyawarah, sebuah budaya yang dimiliki tiap suku namun dengan sebutan yang berbeda. Selain itu masyarakat dayak juga memiliki kata yang mempersatukan setiap suku yang ada di kalimantan barat, Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’Saruga, Basengat Ka’Jubata,”.

Artinya bahwa dalam hidup ini kita harus bersikap adil, jujur tidak diskriminatif, terhadap sesama manusia, dengan mengedepankan perbuatan-perbuatan baik seperti di surga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kearifan lokal yang ada di Kalimantan Barat dinilai bisa membantu terwujudnya perdamaian, Legal Advisor ICRC Jakarta, Rina Rusman mengungkapkan ini saat menghadiri diskusi mengenai aturan dan tradisi penanganan situasi konflik.

nilai-nilai terkait hukum perang yang ada di masyarakat bisa mengurangi akibat atau penderitaan dari perang. jika nilai-nilai terkait hukum perang yang ada di masyarakat lokal bisa saling melengkapi Hukum Humaniter Indonesia (HHI) maka perang antar suku bisa cegah dengan kesatuan tersebut.


Sumber: tribun pontianak

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini