Indonesia Siap Melawan Plastik dengan Singkong dan Rumput Laut

Indonesia Siap Melawan Plastik dengan Singkong dan Rumput Laut

Ilustrasi "singkong dan rumput laut" vs plastik © Diedit oleh #KotakAjaib dari pixabay dan unsplash

“Kita menyadari bahwa sampah plastik dan microplastik merupakan ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati perairan saat ini. Sampah laut telah menjadi isu nasional, regional, dan global, dimana jika hal ini terus dibiarkan, dapat mengakibatkan ancaman polutan yang lebih besar dan dapat menganggu kesehatan kita karena mengkonsumsi ikan yang telah memakan sampah plastik tersebut. Dengan demikian, permasalahan sampah plastik menjadi salah satu hal yang penting untuk kita pecahkan, karena sampah ini membawa kerusakan terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan, perekonomian, dan kesehatan manusia”, ujar Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan, saat membuka diskusi pekan kedua COP 23 UNFCCC 2017 (13/11) di Paviliun Indonesia, Bonn, Jerman.

Pernyataan tersebut dikutip dari siaran pers nomor SP.347/HUMAS/PP/HMS.3/11/2017 oleh PPID Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dirilis baru-baru ini. Opini dari menko Kemaritiman tersebut selaras juga dengan kondisi data lapangan, melalui laporan penelitian yang dirilis pada tahun 2015 oleh Universitas Georgia, Amerika Serikat, bahwa lautan Indonesia merupakan tempat ditemukannya sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. Selain itu lansiran BBC Indonesia juga menyebutkan bahwa "penelitian lain oleh Conservancy tentang pasar ikan menyebutan dari data di seluruh dunia, 28% ikan Indonesia mengandung plastik".

Wow, sungguh mencengangkan, plastik konvensional (lazimnya terdiri dari zat-zat kimia polimer tak mudah terurai) yang notabene merupakan simbol kemudahan dalam dunia industri kemasan, nyatanya justru menjadi malapetaka besar bagi Indonesia dan juga dunia dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Lalu, apakah Indonesia diam saja? Jangan dikira demikian ya, karena masih melalui event yang sama, Luhut B. Pandjaitan menyatakan bahwa Indonesia bertekad untuk mengurangi sampah plastik sebanyak 70% di tahun 2025.

Bagaikan gayung bersambut, ternyata inovator-inovator Indonesia juga telah siap untuk menyongsong komitmen tersebut. Kali ini penulis akan menghimpun tiga inovasi produk kantong plastik yang digawangi oleh perusahaan-perusahaan Indonesia, dan harapannya produk-produk biodegradable tersebut menjadi pioneer dalam kontribusi pengurangan limbah plastik di alam. Apa saja dan siapa saja sih mereka?

1. AVANI Eco

Perusahaan pertama adalah PT. Nirwana Alam Hijau, yang memiliki nama dagang Avani, sebuah perusahaan kemasan asal Denpasar, Bali. Mereka memiliki komitmen untuk menyediakan solusi alternatif bagi permasalahan limbah plastik dengan menawarkan inovasi Avani Eco. Avani Eco adalah sebuah kantong kemasan yang 100% dapat diuraikan dan aman bagi lingkungan. Memanfaatkan salah satu bahan pangan yang tersedia melimpah di Indonesia: Singkong, sebagai bahan dasarnya, mereka menyulap kantong kemasan (mirip plastik) yang biasanya susah diuraikan, menjadi bahan yang ramah lingkungan dan bahkan aman dikonsumsi.

Berikut profil Avani Eco yang penulis himpun dari kanal Youtube AFP news agency

2. Ecoplas

Perusahaan kedua ini masih memanfaatkan bahan yang serupa dengan sebelumnya, yaitu zat tepung. Dalam keterangan yang penulis dapatkan dari web PT. Tirta Marta menerangkan bahwa produk Ecoplas adalah bahan biodegradable yang terbuat dari tapioka. Memiliki fokusan sebagai rujukan standar kantong belanja yang akan terurai dengan sendirinya selama satu minggu. Wah, menakjubkan bukan? Karena faktanya kantong plastik konvensional akan dapat diuraikan minimum 40 tahun dengan mempertimbangkan kondisi paparan sinar matahari dan mikroba pengurai di alam.

Penasaran profil dari perusahaan ini? Yuk kita simak cuplikan berita dari salah satu televisi swasta berikut tentang perusahaan asal Tangerang ini

3. Evoware

"Our products are eco- friendly, biodegradable or even edible and healthy for the body. We use seaweed as our raw material. Our impact is not just on the environment but also on the livelihood of seaweed farmers. To achieve that, we always put in our heart the two core values: INNOVATION and COLLABORATION" - (dikutip dari web Evoware)

Dari kutipan tersebut telah jelas perbedaan produk dari perusahaan ini dari dua produk sebelumnya. Bahkan, seperti yang penulis kutip dari dailymail, perusahaan ini juga telah diakui sebagai start-up asal Indonesia yang memiliki fokusan mengubah plastik konvensional menjadi kemasan biodegradable berbahan dasar rumput laut yang dapat dikonsumsi. Dan karena bahan dasarnya yang berlimpah di Indonesia, maka produk ini menjadi aset masa depan yang potensial untuk memerangi permasalahan limbah plastik berlebih, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara inovator unggul dalam hal produk ramah lingkungan.

Penasaran dengan profil perusahaan asal Jakarta tersebut? Yuk simak video ketiga berikut

Itulah ketiga produk milik perusahaan-perusahaan asal Indonesia yang memiliki fokusan untuk memerangi penggunaan kemasan plastik konvensional berlebih demi memenuhi komitmen bersama dalam pengurangan sampah plastik di Indonesia sebanyak 70% di tahun 2025. Tertarik untuk memikirkan hal serupa? Yuk, brainstorming bersama!!!

#KotakAjaib

Sumber:

  1. AFP News Agency. 2017. Cassava carrier bags: Indonesian tackles plastic scourge. diakses pada tanggal 23 November 2017 pada tautan https://www.youtube.com/watch?v=dXklBP53VT4
  2. Evoware World Youtube channel. 2017. Evoware – Edible Sachet and Food Wraps to End Plastic Waste. diakses pada tanggal 23 November 2017 pada tautan https://www.youtube.com/watch?time_continue=2&v=24T6ruz1GhU
  3. Liputan Metro TV tentang PT. Tirta Marta. di-reupload pada tahun 2013 oleh kanal Youtube MIS TM. Ernst and Young Entrepreneur - Sugianto Tandio (PT.Tirta Marta). diakses pada tanggal 23 November 2017 pada tautan https://www.youtube.com/watch?v=iAT-HgLWWro
  4. PPID Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui siaran pers nomor SP.347/HUMAS/PP/HMS.3/11/2017 yang dimuat dalam http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/874 (diakses pada tanggal 23 November 2017)
  5. Redaksi BBC Indonesia. 2016. Lautan Indonesia, Penyumbang Sampah Terbesar Kedua di Dunia. dalam http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/01/160111_sampah_jakarta (diakses pada tanggal 23 November 2017)
  6. Redaksi dailymail. 2017. Have your packaging and eat it too: New edible substitute for plastic could combat waste around the world (and you'll never guess what it's made of). dalam http://www.dailymail.co.uk/news/article-4969030/Indonesian-company-Evoware-makes-edible-seaweed-packaging.html (diakses pada tanggal 23 November 2017)

Pilih BanggaBangga64%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau14%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Film "Marlina" Kembali Menangi Penghargaan di Polandia Sebelummnya

Film "Marlina" Kembali Menangi Penghargaan di Polandia

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia Selanjutnya

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.