Industri digital di Indonesia terus menerus mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi. Bahkan tidak cukup beradaptasi para pelaku bisnis juga terdesak untuk berubah mengikuti teknologi digital. Namun hal ini menjadi masalah karena di Indonesia jumlah sumberdaya digital dinilai masih kurang dari kebutuhan industri. Itu sebabnya Telkom Indonesia melalui Digital Innovation Lounge (DILo) di sepuluh kota di Indonesia mengadakan peretasan maraton atau Hacking Marathon yang juga dikenal dengan Hackathon.

Dalam acara Hackathon ini, DILo mengajak para pemuda-pemudi di Indonesia yang memiliki kemampuan dalam membuat program untuk menunjukkan kebolehannya. Mereka ditantang untuk bisa menyelesaikan sebuah masalah melalui aplikasi digital dalam waktu 24 jam non-stop. 

Acara DILo Hackathon Festival sendiri pada tahun ini memasuki edisi ketiga yang diadakan secara serentak di 10 kota di Indonesia. Kota-kota tersebut antara lain Aceh, Solo, Tangerang Selatan, Balikpapan, Denpasar, Bandung, Yogyakarta, Bogor, Medan dan Malang. Di setiap kota rata-rata diikuti oleh 20 tim yang beranggotakan 3 orang. Sehingga setidaknya dalam 24 jam ini akan ada 200 aplikasi tercipta lewat 600 anak muda Indonesia. Dari puluhan aplikasi tersebut nantinya akan dipilih 3 aplikasi dari 3 tim terbaik dari masing-masing Kota yang akan kembali di seleksi untuk diikutsertakan di dalam kegiatan Exhibition Indigo Day.

Dalam sambutan pembukaan DILo Hackathon Festival edisi Malang, Manager Bussiness, Government and Enterprise Service Telkom Regional V, Mei Hendra Darma mengungkapkan bahwa acara ini merupakan ajang untuk menunjukkan bahwa anak muda Indonesia mampu untuk bekerja profesional. Sehingga di masa mendatang, mereka akan mendapatkan kesempatan-kesempatan mengembangkan startup ataupun berpartner dengan berbagai pihak termasuk Telkom Indonesia. "Semoga tidak berhenti sampai di sini saja sehingga bisa berpartner dengan Telkom," ujar Hendra. 

Sementara itu, salah satu pihak juri, co-founder komunitas startup asal Malang, Stasion, Amar Alpabet mengungkapkan bahwa hackhaton ini akan menjadi momen bagi para ahli koding muda untuk menunjukkan kemampuannya. "Hackathon ini menjadi trigger apresiasi dan show off bagi apa yang bisa dilakukan kawan-kawan.  Jadi ini penting untuk menunjukkan siapa saja pelaku industri digital di sini," ujarnya.

Ia pun menuturkan bahwa talenta digital di kota Malang sebenarnya cukup baik, namun belum terdata dengan baik sehingga ekosistemnya tidak bisa tertata dengan baik. Lewat hackhaton ini Amar berharap agar para pelaku industri satu sama lain mengenal. 

Amar pun berharap lewat kompetisi ini para ahli koding yang datang dari berbagai kota di sekitar Malang akan bisa menghasilkan aplikasi yang solutif. Sehingga aplikasi yang dibuat tidak sekadar konsep tetapi bisa langsung dipakai.  "Dibandingkan sebelumnya, para peserta kali ini bukanlah orang-orang kemarin sore yang sekadar mencoba-coba. Ini akan menjadi keunggulan tersendiri karena akan bisa menjadi prototype produk yang bisa dibawa ke tingkat nasional," jelas Amar.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu