Eksistensi Sejarah Di Tengah-Tengah Modernitas

Eksistensi Sejarah Di Tengah-Tengah Modernitas
info gambar utama

Belanja tidak harus melulu barang baru lho. Belanja apa ya kira-kira yang bisa membuat puas meskipun tidak baru tapi juga tidak pasaran? Belanja barang antik jawabannya. Meskipun bekas, harganya dapat menjulang tinggi lebih mahal daripada barang-barang baru yang diproduksi secara masal.

Jika anda tertarik untuk menghabiskan waktu berbelanja barang antik atau sekedar menghabiskan waktu berjalan jalan selagi mengunjungi kota Solo yang akrab dengan taglinenya The Spirit of Java anda dapat mengunjungi Pasar Triwindu yang terletak di Jl. Diponegoro, Keprabon, Banjarsari, Kota Surakarta.

Memang kebanyakan yang dijual di Pasar Triwindu adalah perabot pelengkap alat rumah tangga seperti meja, kursi, piring, lampu gantung, dan banyak lagi pilihan lainnya. Tapi anda juga dapat menemukan pakaian tradisional disini.

Pasar ini memang menjual perabot antik asli yang memang sudah ada sejak berabad-abad lalu, spesialnya para penjual disini juga menerima pesanan jika anda menginginkan model serupa. Para penjual tersebut mampu membuatkan perabot baru yang hampir sama persis dengan aslinya hanya dengan mencontoh modelnya.

Perabot yang terdapat di Pasar Triwindu ini tidak hanya berasal dari Kota Solo ataupun Indonesia saja lho. Ternyata banyak juga barang-barangnya merupakan peninggalan masyarakat Cina dan Eropa yang berkunjung ke nusantara berabad-abad lalu.

Untuk barang-barang yang didapat dari Kota Solo, menurut penjual di Pasar Triwindu didapat dari abdi dalem zaman dulu atau para keturunan ningrat yang tinggal di pedalaman desa. Biasanya para abdi dalem menjual barang-barang dengan harga yang relatif murah karena mereka tidak begitu tahu harga pasar. Beruntung para penjual di Pasar Triwindu ini paham betul mengenai harga barang antik sehingga mereka dapat menjualnya kembali dengan harga yang berkali lipat lebih mahal.

Pasar Triwindu sendiripun telah berumur puluhan tahun. Pertama kali didirikan pada tahun 1939 sebagai peringatan 24 tahun pemerintahan Mangkunegaran VII. Sayangnya pasar tersebut menjadi tidak begitu terawat. Saat masa pemerintahan Walikota Joko Widodo pada saat itu bangunan Pasar Triwindu yang dulunya kumuh dan kotor kini dibangun dan renovasi menjadi bangunan kokoh bertingkat sehingga membuat pengunjung dapat dengan leluasa dan nyaman saat melakukan proses berbelanja ataupun sekedar melihat-lihat.

Saat anda memasuki kawasan Pasar Triwindu ini akan kental sekali suasana vintage yang dibawa oleh Pasar Triwindu ini sebagai konsep yang memang cocok sekali dengan apa yang ditawarkannya sebagai dagangan. Suasana dengan warna coklat dari perabot yang terbuat dari kayu juga besi-besi yang terlihat berkarat dimakan usia yang justru menambah daya tariknya. Perabot zaman dulu semacam teko-teko blirik sontak membawa setiap pengunjungnya mengenang zaman Si Doel Anak Betawi Asli. Tidak tertinggal setrika arang yang sudah jarang sekali ditemukan sebagai pelengkap perabot rumah tangga zaman sekarang.

Lorong di Pasar Triwindu | Foto by ayuvitaa
info gambar
Perabot berbahan keramik | Foto by ayuvitaa
info gambar
Hiasan rumah dan rambut | Foto by ayuvitaa
info gambar
Lampu gantung hias antik | Foto by ayuvitaa
info gambar
Lampu hias antik semi kontemporer | Foto by ayuvitaa
info gambar


Perabot kayu | Foto by ayuvitaa
info gambar
Salah saFoto by ayuvitaatu toko yang ada di Pasar Triwindu |
info gambar
Koleksi peralatan masak antik | Foto by ayuvitaa
info gambar

Sumber: Pariwisata Solo

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini