'Run for Manhattan' : Di Balik Sebuah Pernyataan Artistik

'Run for Manhattan' : Di Balik Sebuah Pernyataan Artistik

Town Hall NYC (2014) by Made Wianta © The Jakarta Post

Tahun 1980an di masa awal karirnya yang berjudul seri Karangasem, Made Wianta, Sang Maestro seni Bali modern, menjelajahi seni alam bawah sadar Bali. Yang pertama dan bisa dibilang hanya beberapa seniman yang bisa melakukannya.

Pada akhir era milenium, Made Wianta mengumpulkan dua ribu pemuda di Pantai Sanur yang memegang kain sepanjang dua ribu meter Diana tertuliskan kata “Damai” ditulis dalam semua bahasa di dunia. Tiga tahun kemudian, foto-foto besar yang dilukisnya dengan darah dipemerkan di Gaya Galeri di Ubud, Bali. Menjadi jeritan panjang rasa sakit dari tragedi bom Kuta.

Baru-baru ini, ia menciptakan sebuah instalasi fantastis dengan menggunakan pipa knalpot mobil, yang sekarang dipajang di Singapura.

Made Wianta telah menjadi pelukis yang terekspresi melalui titik-titik warna, geometri dan goresan kaligrafi yang menjadi pencurahan energi kreatif tanpa henti. Menjadi persediaan akan kekuatan ekspresif dari abstraksi warna.

Dia telah bangkit menjadi salah satu tokoh paling membanggakan dalam dunia seni Indonesia dan Bali. Lalu, tiba-tiba, ia menghilang dari panggung seni. Karya-karyanya yang selalu di tunggu, tidak terdengar lagi di kalangan seni. Tidak ada pemberitaan tentang pameran yang ia rencanakan atau pula pertunjukan teater yang sebelumnya ia siapakan di Amerika Serikat. Seolah-olah dia pergi.

Beberapa orang tahu alasan di balik ketidakhadiran yang sangat mendadak ini, dan lama diam. Itu bukanlah kematiannya, walaupun itu bisa juga terjadi.

Di kampung asalnya, Apuan di Baturiti, Bali, yang selalu berusaha ia tinggalkan, tetapi selalu gagal, Wianta mengalami kecelakaan sepeda motor, yang menyebabkan ia mengalami stroke. Ia lumpuh total.

Seniman Indonesia yang paling aktif tak dapat bergerak. Tapi tidak dengan energinya, Wianta masih ada, kalau tidak di tubuhnya, pasti di dalam pikirannya. Dia akan muncul kembali dari kegelapan masa itu. Dia akan menjadi kreatif sekali lagi.

Dengan perawatan medis yang tepat, pijat, makanan yang teratur dan cinta dari keluarganya, selama dua tahun secara perlahan ia mulai bisa mengendalikan anggota badan dan tangganya. Wianta selalu mendambakan untuk menjadi kreatif lagi, ia selalu berdia untuk itu. Dan akhirnya keriduannya itu terjadi.

Wianta menarik perhatian Ciptadana Artspace di Ciptadana Center. Ia memutuskan untuk mengadakan pameran retrospeksi karyanya di Jakarta yang berlangsung sampai 8 desember.

Pameran ini meruapakan sebuah undangan dari berlalunya waktu, karena Wianta harus berusaha akan kesembuhannya sehingga dia dapat membuat gambar Karangasem yang fantastis sekali lagi seperti dimasa awal karirnya.

Pameran yang berjudul “Run for Manhattan” ini Bukanlah hanya sebuah kata, tapi berpacu pada garis ekspresi kreatifnya saat ia mengalami stroke.

Apa itu Run?

Sebelumnya Wianta perhatian akan kondisi pulau bernama Run yang kecil dan terpencil di pulau Maluku. Tempat itu bisa dibilang merupakan tempat sejarah yang paling terbengkalai di negara ini atau mungkin di dunia.

Mengapa begitu penting?

Karena jika saja Run tetap menjadi bagian dari kerajaan Inggris di abad ke-17, mungkin saja New Amsterdam, sebuah pemukiman di ujung pulau Manhattan akan terus menjadi milik Belanda, dan tidak akan ada New York hari ini.

Pada abad ke-17, Belanda memiliki kekuatan maritim yang pertama. Saat itu Inggris muncul, namun masih tertinggal. Kedua kerajaan tersebut bertempur di Maluku, dan Belanda memutuskan bahwa Run adalah tempat yang lebih berhara daripada New Amsterdam, sebuah perairan yang hanya megekspor bulu.

Jadi Belanda setuju untuk mengorbakan New Amsterdam untuk mengklaim kontrol akan pulau Run dalam perjanjian Breda. Siapa yang bisa menduga bahwa negara bagian Eropa terutama Inggris di Amerika Utara akan menjadi bagian dari kekuatan dunia tiga ratus tahun kemudian.

Wianta telah lama menyadari pentingnya pulau Run. Dia masih bermimpi membuat instalasi pala dan cengkeh yang besar di depan gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York sebagai peningat akan ketidakadilan dan ketidakberesan sejarah.

City of Destruction (1997) by Made Wianta | The Jakarta Post
City of Destruction (1997) by Made Wianta | The Jakarta Post

Jika anda mengunjungi pameran Wianta, kemungkinan besar anda akan takjub, oleh”Run for Manhattan” tentu saja. Ekspersi yang tertuang dan dinamika yang menakjubkan menyertai seluruh karirnya.

Anda tidak hanyamelihat bagaimana Wianta telah membuat seni Bali modern, tapi juga mengerti mengenai ekspresi yang tertuang yang akan menimbulkan banyak pertanyaan karena dibuat dengan kontemporer.

“Run for Manhattan” bukan hanya sebuah pernyataan artistik, tapi juga melihat bagaimana seniman mengambil bagian dari sejarah. Wianta, seniman yang menemukan bentuk dan warna. Kami semua menunggu kejutan luar biasa yang memilki lebih banyak bentuk, warna dan menimbulkan pertanyaan.


Sumber: The Jakarta Post

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mantan Personil The Pussycat Dolls Ini Keturunan Indonesia Sebelummnya

Mantan Personil The Pussycat Dolls Ini Keturunan Indonesia

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.