Sutradara Indonesia Garin Nugroho meraih penghargaan khusus di ajang Singapore International Film Festival (SGIFF) ke-28 di Marina Bay Sands Grand Theatre, Singapura, Minggu (3/12).

Garin meraih Honorary Award atas kontribusinya yang besar pada perfilman Asia, khususnya di Indonesia. Dia menerima penghargaan itu dari Yuni Hadi sebagai Direktur Eksekutif SGIFF dan sutradara film asal Indonesia lainnya, yaitu Mouly Surya.

Sutradara kelahiran Yogyakarta tersebut dianggap berhak memperoleh penghargaan tersebut karena, telah berhasil melahirkan karya-karya yang penting bagi perkembangan film Indonesia, mulai dari 'Cinta dalam Sepotong Roti' (1991) hingga 'Satan Jawa' (2017). Dia dianggap berhasil dalam memperlihatkan kecintaannya pada Indonesia, masyarakat, dan kebudayaan Jawa, melalui karya film yang puitis dan reflektif. 

"Ya kita semua tahu bahwa Garin Nugroho adalah sosok yang cukup penting, dia salah satu sutradara terkenal, tapi lebih dari itu, ia juga lawak mendapat pengakuan," kata Pimpaka Towira selaku Programme Director dari SGIFF 2017.

Menurut penyelenggara SGIFF, film-film yang dihasilkan Garin Nugroho memiliki gaya yang unik dan kaya dari segi estetika. Garin juga dinilai mampu menyampaikan isu sosial yang terjadi di negaranya ke khalayak dunia lewat karyanya.

"Ia memiliki gaya tersendiri yang bisa kita lihat dalam karyanya. Tidak hanya untuk Indonesia, namun juga untuk penonton di seluruh dunia, filmnya mengangkat tema-tema sosio-politik. Ia juga menjadi guru bagi banyak sineas muda Indonesia. Saya rasa banyak orang-orang yang terpengaruh oleh karyanya" ujar Pimpaka .

Yuni Hadi berkata sangat mengejutkan bahwa SGIFF kini segera menjadi pusat bagi para produser dan sutradara film independen di Asia Tenggara. Mereka saling bertukar ide dan energi kreatif yang telah telah menginspirasi kawasan tersebut.

Seperti yang dilansir detik.com, SGIFF tahun ini telah menginjak usia ke-28 tahun. Digelar sebagai salah satu dari rangkaian Singapore Media Festival selama 11 hari, yakni dari 23 November hingga 3 Desember 2017. SGIFF 2017 sendiri mengambil tema 'History of Tomorrow: Indonesia Cinema After the New Order' yang fokus pada perkembangan industri film di Indonesia pasca reformasi.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu