Bali Democracy Forum menjadi bagian dari penyataan sikap Indonesia terhadap pernyataan presiden Amerika Serikat tentang ibu kota Israel. Dihadapan 400 delegasi dari 103 negara dan 151 mahasiswa-mahasiswi dari 61 negara, Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengecam pernyataan sepihak tersebut.

Dalam pidato pembukaan Bali Democracy Forum 2017 di International Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD), pernyataan presiden Trump tentang ibukota Israel dinilai mencederai semangat demokrasi yang saat ini sedang dirayakan Indonesia bersama negara-negara delegasi. Sebab menurut Menlu Retno, demokrasi memiliki nilai-nilai seperti dialog. Tidak hanya itu, Demokrasi juga memiliki aspek menghormati hukum dan kesepakatan internasional. Karena itu, pengakuan Amerika Serikat tentang ibukota Jerusalem tidaklah menghormati hasil resolusi Dewan Keamanan PBB. 

Untuk mempertegas sikap Indonesia, dalam pembukaan BDF 2017 ini, Menlu Retno mengenakan syal berbendera Palestina dan Indonesia. 

"Saya berdiri di sini, memakai syal Palestina untuk menunjukkan komitmen kuat Indonesia, rakyat Indonesia bersama dengan rakyat Palestina, untuk hak-hak mereka. Indonesia akan selalu bersama dengan Palestina" serunya. 

Tidak hanya itu, Menlu Retno pun memanggil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Untuk menjelaskan sikap dan langkah apa yang akan diambil Indonesia atas pernyataan presiden AS. 

Pernyataan sikap ini berawal dari dari pernyataan Presiden Trump yang mengatakan bahwa ibukota Israel adalah Jerusalem dan akan memindahkan kedutaan besarnya ke kota suci milik tiga umat beragama monoteis tersebut. Bagi Presiden AS tersebut, langkah ini dianggap sebagai sebuah pendekatan baru untuk menyelesaikan konflik Israel dan Palestina. 

Syal digunakan Menteri Retno Marsudi saat pembukaan BDF 2017 (Foto: Bagus DR/GNFI)
Syal digunakan Menteri Retno Marsudi saat pembukaan BDF 2017 (Foto: Bagus DR/GNFI)

Padahal, mengutip BBC, pendudukan Israel terhadap Jerusalem tidak pernah diakui secara internasional. Dan sampai saat ini seluruh negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel menempatkan Kedutaan Besarnya di Tel Aviv. 

Pernyataan ini tentu saja memantik reaksi dari negeri-negeri Islam dan bahkan sekutu Amerika Serikat sendiri. Saudi Arabia misalnya, Raja Salman mengungkapkan bahwa pernyataan ini akan memprovokasi muslim di seluruh dunia. Perdana Menteri Inggris, Theresa May pun mengungkapkan bahwa pihaknya tidak mendukung keputusan tersebut, karena dianggap tidak membantu proses perdamaian di wilayah tersebut. 8 dari 15 anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti dikutip dari BBC pun berencana untuk melakukan pertemuan darurat membahas terkait hal ini. 

Indonesia dengan Palestina sendiri memiliki hubungan diplomatik yang cukup lama karena wilayah Palestina merupakan salah satu pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Pada masa itu, proklamasi Indonesia disebarluaskan oleh seorang Syekh Muhammad Amin Al-Husaini untuk dikabarkan pada negara-negara arab. Sejak saat itu hubungan Indonesia dengan Palestina cukup erat meskipun negara Palestina sendiri secara de facto diakui berdiri pada tahun 1988. Kedekatan ini kemudian membuat Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu