Prediksi demi prediksi berusaha untuk menjawab seperti apa masa depan ekonomi digital di wilayah yang dianggap paling berpotensi di dunia saat ini, Asia Tenggara. Google pun kemudian menggandeng Temasek dari Singapura untuk meneliti dan melansir laporan terbaru seberapa besar potensi Asia Tenggara. 

Berdasarkan data yang dilansir oleh Google dan Temasek, diperkirakan bahwa pengguna internet di Asia Tenggara akan tumbuh dari 260 juta jiwa menjadi 480 juta jiwa pada tahun 2020. Itu artinya akan ada pertumbuhan mencapai 184% hanya dalam waktu beberapa tahun. Sementara nilai ekonominya, diperkirakan akan mencapai US$200 miliar pada tahun 2025 dengan syarat tingkat investasi bisa mencapai US$50 miliar. 

Angka di atas tentu saja hal yang mengejutkan dan membuat Asia Tenggara menjadi semakin menarik bagi pihak-pihak yang ingin meraih kesempatan di wilayah yang akan menjadi salah satu pemimpin ekonomi dunia ini. 

Secara lebih detail, dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa 90 persen pengguna internet nantinya akan menggunakan ponsel pintar sebagai alat utama mengakses situs. Dan menariknya dijelaskna pula bahwa pengguna ponsel pintar di Asia Tenggara dan India menghabiskan waktunya secara rata-rata 3,6 jam per hari untuk mengakses internet dibandingkan dengan pengguna Cina yang hanya 3 jam, pengguna Amerika 2 jam dan 1 jam per hari oleh pengguna Jepang. Pengguna dari Thailand merupakan pengguna yang paling sering berponsel dengan waktu 4,2 jam per hari diikuti oleh pengguna dari Indonesia yang mencapai 3,9 per hari. 

Tidak cukup sampai pada berapa lama pengguna menggunakan ponsel pintarnya. Google dan Temasek meneliti lebih dalam berdasarkan potensi industri. Hasilnya menjelaskan bahwa banyak industri yang tumbuh dengan kuat. Industri perjalanan atau travelling bisa mencapai US$ 26,6 miliar berkat pertumbuhan penerbangan dan pemesanan hotel daring. Kemudian media daring bisa mencapai US$ 6,9 miliar berkat iklan daring dan permainan. E-commerce atau jual beli elektronik akan mencapai US$ 10,9 miliar tahun ini dan industri pemanggilan kendaraan atau ride hailing bisa mencapai US$ 5,1 miliar. 

Angka-angka tersebut diprediksi akan mampu tumbuh pesat pada tahun 2025. Industri perjalanan akan mencapai nilai US$ 76,6 miliar. Sementara media daring akan mencapai US$ 19,5 miliar dan jual beli elektronik akan mencapai US$ 88,1 miliar. Di sektor terakhir, pemanggilan kendaraan akan mencapai US$ 20,1 miliar. 

Nilai-nilai tersebut tentu saja menggambarkan betapa potensialnya pasar ekonomi digital di Asia Tenggara. Namun Google dan Temasek masih menyoroti beberapa hal yang masih menjadi kendala pada perusahaan-perusahaan digital di Asia Tenggara, yakni kebutuhan tenaga ahli yang masih sedikit. Utamanya tenaga kerja yang memiliki kompetensi setingkat perekayasa senior (senior engineering). Akibatnya beberapa perusahaan digital besar di Asia Tenggara harus menjaring perekayasa dari beberapa negara seperti Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu