Zaman sekarang, traveling seringkali dijadikan pelarian untuk refreshing sejenak dari berbagai aktivitas yang membuat kepala pening. Traveling ke pantai atau ke gunung dijadikan pilihan bagi orang-orang yang sudah pening dengan pekiknya kondisi kota besar. Tujuannya selain untuk mencari pemandangan indah, suasana baru, juga tak lupa untuk panjat sosial mengisi feed di Instagram dan platform media sosial lainnya.

Ketika kamu memilih untuk pergi ke tempat yang sejuk, sepi, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, pernahkah kamu sesekali melihat kondisi masyarakat sekitar tempat wisata tersebut? Pernahkah kamu menemukan budaya yang menurut kamu jarang sekali bisa ditemukan di kota besar?

Waktu itu, saya berkesempatan untuk datang ke Pulau Gili Labak, ujung timurnya Pulau Madura. Mencari celah senggang waktu diantara banyaknya tugas besar perkuliahan yang harus diselesaikan. Gili Labak memanjakan mata dan pikiran saya untuk menikmati pasir putih, biota dalam laut yang indah, serta udara sejuk yang selama ini saya rindukan. Saya bertanya-tanya, mengapa pulau ini sangat terjaga keindahan dan kebersihannya.

Hingga pada akhirnya, saya dipertemukan oleh sesuatu yang menyita perhatian saya, yaitu tentang budaya masyarakatnya, bersih-bersih pulau. Saat terduduk manis di sebuah saung yang nyaman, saya mendengar seorang bapak-bapak meneriakkan sesuatu dengan bahasa Madura yang tidak saya mengerti sambil mengelilingi pulau dan saung-saung (re: rumah) warga. Hingga beberapa menit kemudian, dengan serentak dan kompaknya keluarlah orang-orang yang ada di dalam rumah tersebut.

Uniknya, saya tersentak kaget karena yang keluar dari rumah-rumah itu adalah belasan nenek-nenek yang sudah sangat lanjut usia. Dengan membawa beberapa peralatan kebersihan, walaupun dengan sulit berjalan dan bungkuk, saya melihat semangat muda dari semua nenek-nenek tersebut untuk berkeliling dan membersihkan semua tepian dari pulau tersebut.

Beberapa kali saya temukan, ada juga cucu-cucu mereka yang ikut membantu membersihkan, entah sebagai “tim hore” yang turut membantu atau justru malah “mengacaukan”. Ya, namanya juga anak-anak. Tetapi, saya melihat sebuah keharmonisan disana. Canda-tawa dan gelak senyum dari mereka yang membuat hati saya makin tenang berada di pulau ini.

Saya percaya, bahwa dengan biaya retribusi sebesar lima ribu rupiah untuk masuk pulau, tidak akan mencukupi untuk mengatasi permasalahan ekonomi dan aspek kebersihan dari pulau tersebut. Saya yakin, bahwa belasan nenek-nenek tersebut hanya ingin menjaga pulaunya supaya tetap bersih dan indah. Karena kepuasan para turis Gili Labak adalah sumber mata pencaharian mereka, entah sebagai pemandu wisata, penyedia peralatan snorkeling, sampai warung kopi. Saya tahu, jika pulaunya kotor hanya akan membuat turis tidak ingin untuk kembali ke pulau yang disebut “treasure island” ini.

Terakhir, saya juga menyadari, bahwa ketika saya di pulau itu, saya tidak berkontribusi apa-apa untuk membersihkan pulau tersebut dan tidak bisa mengarahkan teman-teman saya di sana untuk saling menjaga kebersihan dengan baik. Namun, semoga dengan saya buat tulisan ini, kita sama-sama tersadarkan dan saling mengingatkan. Bahwa ketika kita bepergian ke suatu tempat, apalagi yang terpencil, jangan lupa untuk peka terhadap kondisi masyarakat sekitar. Minimal, jangan sampai kita malah merusak ataupun mengotori tempat-tempat tersebut.

Karena sejatinya, di balik indah dan nikmatnya suatu tempat, selalu ada orang-orang baik yang berusaha menjaga itu dengan segala kekuatan dan kemampuan mereka.


Sumber: Fadel Yulian

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu