Wow Sekolah Alam ini Sepenuhnya Terbuat dari Bambu!

Wow Sekolah Alam ini Sepenuhnya Terbuat dari Bambu!

Sungai Ayung yang menjadi salah satu tempat belajar di GSB © kulkulconnection.greenschool.org

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Dari bangunan sekolah ini, semua orang pasti memahami bahwa ini adalah sekolah ramah lingkungan. Bagaimana tidak, di sekolah ini tidak ada semen, beton, dan material buatan lainnya yang sering kita temui di sekolah-sekolah pada umumnya. Bangunan sekolah ini terbuat sepenuhnya dari bambu, sehingga konstruksi bambu ini disebut sebagai yang terbesar di Asia. Sebutan ini pantas disematkan, karena konstruksi bambu terdapat di seluruh fasilitas sekolah. Bangunan ini menggunakan 2.500 bambu jenis Bambusa sp yang jumlahnya cukup melimpah di tempat tersebut.

Ya, sekolah tersebut adalah Green School Bali (GSB) yang didirikan oleh John Hardy dan keluarganya. John dan sang istri – Cynthia Hardy – mengembangkan sekolah ini, begitu pula dengan putrinya yang turut mendesain konstruksi bambu di sekolah ini. Perjalanan sekolah ini dimulai ketika John Hardy yang mengeskplorasi Bali di tahun 2006 dengan tujuan untuk mencari lokasi yang tepat untuk membangun sekolah. Membuat sekolah menjadi ambisi pebisnis perhiasan tersebut sebelum pensiun nantinya. Telah tinggal di Bali sejak 1975 John kemudian memilih Bali sebagai tempat untuk membangun ambisinya. Akhirnya ia menemukan lokasi yang tepat dengan tanah lapang dan kontur yang naik turun di Sibang Kaja, Abiansemal, Badung. Tanah tersebut seluas 4,55 hektar dan berimpitan dengan Sungai Ayung, sehingga dirasa cocok untuk membangun sekolah alam. Tak lama, John memberinya dengan menjual sebagian saham di brand perhiasan miliknya. Kemudian dibuatlah sebuah sekolah alam bernama Green School Bali (GSB).

Salah satu bangunan dari Green School Bali | Sumber: greenteacher.com
Salah satu bangunan dari Green School Bali | Sumber: greenteacher.com

Latar belakang pembuatan sekolah ini adalah rasa kekecewaan John dengan pendidikan yang diterima oleh anaknya di masa lalu. Sehingga John dan Cynthia memiliki ide untuk membuat sebuah sekolah yang dapat mengajarkan arti sustainability, interaksi dengan masyarakat, dan kewirausahaan. Itulah yang tergambar apabila pembaca melihat bagaimana GSB berjalan. Seluruh siswa akan menyatu dengan alam, karena sekolah tempat mereka belajar berada di tengah hutan. Jalan setapak dari tanah, pepohonan bambu, dan bangunan dengan material alami mendorong siswa untuk memahami lingkungan sekitar.

Pembangunan GSB melalui beberapa tahapan. Sejak dibuka pada 1 September 2008, GSB memiliki 97 murid dari kelas 1 hingga 8. Kini, sekolah tersebut terdiri dari PAUD hingga SMA. Kini setidaknya terdapat 384 siswa yang berasal dari 33 negara. Jumlah murid yang cukup banyak juga diseimbangkan dengan jumlah pengajar. Di GSB terdapat 64 guru yang berasal dari 15 negara. Para pengajar juga terbilang mumpuni, karena terdapat 2 guru bergelar doktor, 20 guru bergelar master, dan 42 sisanya sarjana. Dengan komposisi yang campur aduk dari berbagai negara, tentu sistem pembelajaran akan lebih universal dan bisa diterima siapapun. Perhatian John dan Cynthia terhadap edukasi di Indonesia cukup tinggi, karena dari ratusan murid yang ada, terdapat 31 anak Indonesia yang mendapat beasiswa penuh untuk menimba ilmu di GSB. Sekolah ini juga menyediakan opsi after-school class, yang membebaskan murid-murid dari darah Sibang Kaja untuk belajar disana.

Suasana Kelas di GSB | Sumber: double-barrelledtravel.com
Suasana Kelas di GSB | Sumber: double-barrelledtravel.com

Dari ribuan bambu yang digunakan, terdapat satu bangunan yang terbuat dari kayu yang digunakan sebagai ruang yoga. Bangunan disamping Sungai Ayung menggunakan kayu bekas kapal sebagai bahan materialnya. Keunikan lainnya dari sekolah ini adalah tidak adanya pintu diseluruh bangunan, yang memberikan makna filosofis. John betul-betul menginginkan muridnya untuk sepenuhnya menyatu dengan alam tanpa batasan. Konsep tersebut juga diimplementasikan pada acara-acara adat di Bali, yang mana seluruh warga sekolah akan mengikuti perayaan Saraswati, Galungan, Nyepi, dan juga Kuningan.

Sembari belajar, murid juga bisa menikmati alam | Sumber: worldofbuzz.com
Sembari belajar, murid juga bisa menikmati alam | Sumber: worldofbuzz.com

Renewable energy dan eco-friendly adalah fokus utama dari sekolah ini. Sehingga ada aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan lingkungan seperti menanam sayuran secara organik. Bahkan siswa akan menanam padi yang nantinya akan dikonsumsi bersama di kantin sekolah. Kebutuhan listrik bangunan ini juga akan dibantu oleh solar panel dan juga pembangkit listrik tenaga air yang berada di tepian Sungai Ayung. Begitu pula dengan bus sekolah, yang berbahan bakar minyak bekas menggoreng. Sehingga kendaraan tersebut ramah lingkungan.

Inovasi yang dikembangkan di GSB mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan, sehingga sekolah ini mendapatkan berbagai penghargaan yang prestisius. GSB mendapat penghargaan “Greenest School on Earth” pada tahun 2012 oleh Center for Green School dari US Green Building Council. Dari segi arsitektur pun, GSB menjadi finalis dari Aga Khan Award for Architecture 2010.

Bangunan eco-friendly plus hutan yang menjadi lokasi sekolah itu tentu memaksa para siswa yang awalnya masuk sekolah konvensional di kota untuk beradaptasi. Namun, menurut Leslie, proses adaptasi siswa tidak membutuhkan waktu lama. Sebab, pada dasarnya, alam yang penuh petualangan itulah yang disukai anak-anak. Anak-anak bebas berlarian menerabas hutan. Juga berenang di sungai ataupun berendam di kolam lumpur.

Tidak hanya murid yang diberi kesempatan untuk menikmati suasana alam di GSB, ternyata orangtua murid pun memiliki kesempatan yang sama. GSB menyelenggarakan pertemuan guru dengan orangtua murid, kelas yoga, dan juga kelas bahasa Indonesia. Bentuk sekolah yang terbuka juga memberikan kebebasan bagi orangtua untuk sekedar nongkrong di wilayah sekolah.

Ban Ki-Moon ketika mengunjungi GSB | SUmber: greenschool.org
Ban Ki-Moon ketika mengunjungi GSB | SUmber: greenschool.org

Reputasi GSB yang mendunia membuat sekolah ini kerap didatangi oleh tokoh-tokoh dunia seperti aktivis lingkungan Alexandra Cousteau, aktris Daryl Hannah, kreator acara America’s Next Top Model Tyra Banks, dan lain sebagainya. Pemilik brand fashion DKNY, Donna Karan juga pernah mendatangi GSB. Ada juga magician yang sangat terkenal, David Copperfield yang mampir untuk melihat sekolah alam ini. Bahkan tokoh dunia seperti Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pernah berkunjung ke sekolah ini, tepatnya pada Agustus 2014 lalu.

”Ini adalah sekolah yang paling unik dan impresif yang pernah saya kunjungi,” ungkap pria 72 tahun itu seperti dikutip dari website GSB.

Sekolah ini juga membuka tur bagi yang ingin mengamati proses pembelajara di GSB. Bali yang menjadi sasaran wisatawan dunia otomatis turut mengenalkan GSB pada dunia. Sehingga banyak pengujung-pengunjung yang datang dari berbagai negara di dunia.


Sumber: Jawapos.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga30%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi30%
Pilih TerpukauTerpukau30%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Daya Tarik Indonesia Sebagai Pasar Teknologi Informasi Dunia Sebelummnya

Daya Tarik Indonesia Sebagai Pasar Teknologi Informasi Dunia

Gunakan Bahan Makanan yang Terbuang Percuma, Resto Indonesia di Jerman Jadi Idaman Selanjutnya

Gunakan Bahan Makanan yang Terbuang Percuma, Resto Indonesia di Jerman Jadi Idaman

Ilham Bafadal
@ilhammib

Ilham Bafadal

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.