"Taiwan dan Indonesia ini punya banyak kesamaan. Salah satunya pernah dijajah oleh negara-negara adidaya. Lalu apa bedanya kita dengan Taiwan? Kita sudah merdeka, dan Taiwan belum. Tapi anehnya, meski Taiwan ini tidak diakui merdeka secara absolut oleh PBB (karena masih masuk dalam Republic of China) tapi mereka bangga menjadi bangsa Taiwan. Nah kita gimana? Sudahkah bangga menjadi Indonesia? Untuk itulah mari kita dengarkan penjelasan tentang Kebangsaan Indonesia bersama Prof. Dr. Mahfud M. D. setelah ini..." kata Robert James Bintaryo, Kepala KDEI di Taipei, dalam sambutannya (17/3) dalam agenda Seminar Kebangsaan yang diadakan oleh PPI Taiwan dan PCI Nahdlatul Ulama Taiwan.

Taipei Medical University (17/3), menjadi venue dari agenda pamungkas PPI Taiwan kepengurusan 2017/2018 yang dinahkodai oleh L. Tri Wijaya Nata Kusuma. Agenda yang direncanakan sejak akhir tahun 2017 ini menjadi agenda penting bagi kepengurusan PPI Taiwan, pasalnya hari ini akan menjadi gabungan dua agenda: Seminar Kebangsaan dan PPI Taiwan Award.

"Bhinneka Tunggal Ika itu dilandasi rasa nasionalisme yang tinggi. Indonesia - negara kesepakatan dari ratusan juta penduduk yang berasal dari puluhan ribu pulau, beragam suku, beragam bahasa, dan keragaman lainnya - adalah sebuah negara istimewa yang merebut kemerdekaan dengan perjuangan panjang dan melelahkan," ujar Prof. Dr. Mahfud M. D. membuka seminar pagi ini.

Hadirin Seminar Kebangsaan di Taipei Medical University
Hadirin Seminar Kebangsaan di Taipei Medical University

Dalam seminar kebangsaan ini, tak kurang dari 250 mahasiswa, pekerja migran Indonesia, dan perwakilan WNI lainnya menghadiri agenda pagi ini. Menurut moderator, bapak Adhe Farid, "tema yang diangkat pagi ini adalah Membangun Jiwa Kepemimpinan dan Nasionalisme Generasi Milenial, menjadi tema yang keren dan seksi untuk dibahas di hadapan hadirin yang mayoritas adalah generasi milenial Indonesia di Taiwan."

Antusiasme hadirin terhadap materi yang disampaikan Prof. Dr. Mahfud M. D. dalam acara ini terbukti dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Dari mulai tentang politik, kebangsaan, rasisme, hukum, dll menjadi penghangat suasana seminar. Bahkan ketika ditanya terkait hasil survey mengenai RI-2, Prof. Mahfud menjawabnya dengan berkelakar, "itu kan cuma survey, toh sampai saat ini saya belum ditawari," diikuti oleh tawa para hadirin.

#KotakAjaib

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu