Beras Singkong Menjadi Menu Khas Lebaran Di Sini

Beras Singkong Menjadi Menu Khas Lebaran Di Sini
info gambar utama

seminggu terakhir ini, ratusan santri di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi menumbuk singkong. Mereka bergiliran membersihkan dan merebus singkong yang baru dipanen dari kebun tak jauh dari pondok pesantren di Sukabumi tersebut. Santri lainnya bertugas menumbuknya singkong di dalam lisung (wadah untuk menumbuk padi yang terbuat dari kayu gelondongan yang dibuat persegi panjang) dengan menggunakan alu (pemisah kulit) dari kayu keras. Setelah tekstur singkong menjadi lembek, singkong yang telah ditumbuk kemudian dikeringkan di pelataran pondok.

"Sudah menjadi tradisi dipesantren Al Fath, kami menyiapkan singkong yang akan dijadikan beras singkong," kata Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al Fath, Fajar Laksana Selasa, 12 Juni 2018 lalu yang dikutip dari Pikiran Rakyat.

Fajar Laksana mengatakan beras singkong (atau bisa disebut bersin) biasa dikonsumsi seluruh santri pasca salat Idul Fitri. Mereka memburu bersin yang memang menjadi makanan kesukaan santri.

"Kami memiliki kebiasaan mengkonsumsi bersin usai salat Idulfitri. Makanan singkong yang diolah menjadi makanan pokok utama sebagai pengganti beras. Beras singkong atau bersin merupakan makanan favorit santri dan santriwati dewasa yang tidak pulang ke kampung halamannya," katanya.

Menu tersebut biasa dikonsumsi oleh para santri dewasa sampai 6 hari ke depan atau nyawalan (ibadah yang dilakukan saat bulan syawal) . Makanan ini disantap saat sahur dan buka nyawalan.

"Kami membiasakan mengkonsumsi bersin setelah sebelumnya terus menerus mengkonsumsi beras dengan berbagai lauk pauk," katanya.

Beliau mengatakan kebiasaan mengkonsumsi makanan tersebut telah berlangsung cukup lama. Kebiasaan tersebut sudah dilakukan secara turun temurun hingga nyawalan usai.

"Nyawalan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan menu makanan singkong beras" katanya.

Selain nyawalan dengan menu bersin, kata Fajar Laksana, para santri akan melakukan kegiatan silaturahmi tahunan. silaturahmi yang dikosentrasikan di lingkungan pesantren juga mengundang para orangtua santri.

Sumber : Pikiran Rakyat, shava-kitchen

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini