Penanganan sampah merupakan permasalahan serius di Indonesia. Penanganan yang dilakukan biasanya menggunakan cara-cara konvensional: kumpul-angkut-buang lalu kemudian sampah akan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sebenarnya sampah sendiri bisa diolah menjadi barang yang berguna sehingga mampu memiliki nilai jual lebih. Selain itu, sampah juga bisa dilihat sebagai sumber energi yang belum termanfaatkan. Inilah yang disadari oleh pakar di Kelompok Keahlian (KK) Konversi Energi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Mereka memiliki ide untuk mengembangkan sampah kota menjadi bahan bakar terbarukan. Hal ini berdasarkan karena bahan bakar dapat dipasok dari sampah kota yang sudah diolah dan memiliki karakteristik serupa dengan bahan bakar konvensional. Dengan begitu, permasalahan volume sampah dapat diselesaikan sekaligus mendapatkan sumber daya bahan bakar terbarukan.

| Foto: Dok. ITB
Alat pengubah sampah menjadi bahan bakar | Foto: Dok. ITB

Dengan menggunakan prinsip hidrotermal, sampah kota campuran organik-plastik yang tidak terpilah dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu, cara pandang terhadap Tempat Pembuangan Sampah Sementara harus diubah menjadi tempat pengolahan akhir. Nantinya sampah yang telah terolah – dalam volume yang jauh lebih kecil – dapat dibawa ke stasiun penyimpanan untuk digunakan sebagai bahan bakar pembangkit atau pabrik.

| Foto: Dok. ITB
Proses yang cukup sederhana seperti memasak pakai panci presto | Foto: Dok. ITB

Konsep yang digunakan pada alat ini seperti memasak menggunakan panci presto. Pertama adalah memasukkan sampah padat ke dalam reaktor bersama dengan air. Setelah reaktor ditutup, proses dimulai dengan memanaskan reaktor hingga temperatur operasi hingga nanti akan terbentuk padatan berukuran kecil.

Dari sampah padat menjadi bahan bakar (briket) | Foto: Dok. ITB
Dari sampah padat menjadi bahan bakar (briket) | Foto: Dok. ITB

Keunggulan dari alat inovasi ITB ini adalah sampah kota yang diolah tidak memerlukan proses pemilahan maupun pencacahan terlebih dahulu.

“Produk yang diperoleh berupa padatan seragam yang berukuran lebih kecil yang dapat digunakan sebagai bahan bakar,” tambah Dr. Pandji Prawisudha dari tim pengembang.

Dari pemrosesan satu jenis produk seragam berisi campuran organik dan plastik yang dijadikan bahan bakar padat akan dibentuk menjadi briket dengan kalor tinggi. Selanjutnya, dua jenis produk organik dalam bentuk halus dan produk plastik terpisah yang nantinya dapat digunakan dalam proses recycling lebih lanjut.


Sumber: itb.ac.id

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu