Begini Lucunya si Kelinci Laut di Perairan Indonesia

Begini Lucunya si Kelinci Laut di Perairan Indonesia
info gambar utama

Jika kita mendengar kata kelinci, yang terbayang dalam kepala kita tentu hewan lucu menggemaskan, berwarna putih, pemakan wortel, mempunyai dua telinga panjang, serta berloncatan kesana kemari di rerumputan.

Pikiran itu memang 100 persen benar, jika kita membayangkan tentang kelinci yang hidup di daratan. Tapi ternyata ada juga kelinci jenis lainnya. Hidupnya di lautan, yaitu nudibranchia atau sea rabbit.

Sepasang kelinci laut jenis Chromodoris kunei di perairan Padangbai, Bali. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Karena hidup di lautan, maka ada banyak perbedaaan kelinci darat dan kelinci laut ini. Selain hidupnya di lautan, kelinci laut merupakan satwa dengan kategori filum molusca dan kelas gastropoda. Sedangkan kelinci darat adalah hewan vertebrata (bertulang belakang) dan termasuk kelas mamalia.

Sepasang kelinci laut berjenis Chromodoris annae di perairan Padangbai, Bali. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Di dunia ada sekitar 3000 jenis nudibranchia yang telah diketahui, dan banyak diantaranya sangat fotogenik dan diburu banyak pehobi foto underwater untuk diabadikan keberadaannya, karena mempunyai warna yang sangat cantik dan indah. Dan satu yang termasuk ke dalam golongan fotogenik itu adalah nudibranch bornella.

Tidak banyak penelitian ilmiah tentang si cantik ini, itu sebabnya, penjelasan biologi nudibranch jenis ini cukup minim ditemukan. Yang jelas, bornella sering ditemukan memangsa coral hydroid di dalam laut.

Bornella anguilla, salah satu kelinci laut (sea rabbit) atau nudibranch yang dijumpai di perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Kelinci laut yang satu ini, mempunyai corak dan bentuk tubuh yang sangat berbeda dengan tubuh nudibranchia lainnya. Selain berwarna-warni, tubuhnya juga terdapat banyak jari seperti cabang, serta di sekitar mulutnya juga terdapat tentakel-tentakel kecil, yang menambah keunikan si bornella ini. Selain itu, antenna di kepalanya yang menyerupai cabang pohon itu, membuatnya sekilas tampak seperti kijang mungil di dalam lautan.

Bornella anguilla, salah satu jeni kelinci laut di Perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Bornella anguilla merupakan salah satu jenis kelinci laut yang unik karena memiliki cabang seperti jari dan tentakel disekitar mulutnya yang berbeda dengan jenis kelinci laut lainnya | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Banyak ditemukan bersembunyi di bawah batu di dalam laut, nudibranch bornella tersebar di wilayah Indo Pasifik, termasuk di perairan nusantara. Walaupun, keberadaannya sendiri, tidaklah ada di semua lautan Indonesia. Ini mungkin karena bentuknya yang cukup mencolok, sehingga lebih menarik perhatian para predatornya dan manusia, untuk dijadikan penghuni aquarium. Nudibranch bornella hidup di kedalaman 1-20 meter saja, serta mempunyai panjang yang cukup bervariasi. Tetapi rata-ratanya adalah 1-5 cm saja.

Bornella anguilla, salah satu jeni kelinci laut unik di Perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Sementara sebagian besar spesies Bornella dapat berenang dengan fleksi lateral tubuh mereka. Beberapa jenis bornella berenang bagaikan sebuah sebuah gelombang otot bergerak ke bawah tubuh untuk menghasilkan gerakan seperti belut.

Para pehobi fotografi underwater pastilah tidak akan pernah bosan untuk memotret sang fotogenic lautan ini. semoga keberadaannya akan selalu lestari dan terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab, seperti reklamasi atau jaring pukat yang secara nyata menghancurkan habitat mereka.

Bornella anguilla, salah satu jeni kelinci laut unik di Perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini