Keberagaman yang Perlu Dimanfaatkan

Keberagaman yang Perlu Dimanfaatkan
info gambar utama

Panji Pragiwaksono dalam bukunya Menemukan Indonesia menulis bahwa masyarakat Singapura yang heterogen relatif mudah diatur. Bagaimana dengan Indonesia?

Sampai saat ini permasalahan dalam masyarakat multikultural sering dijumpai di Indonesia. Sesuatu yang sulit jika kita ingin mempersatukan seluruh suku, etnis, dan golongan Indonesia. Bukan sebuah ketidakmungkinan pula, jika masyarakatnya memiliki pola pikir yang sama.

Tak seperti Singapura yang terkenal sebagai “The Fine City”, fine dalam artian denda. Masyarakat yang tidak lebih dari followers Raditya Dika itu diatur dengan aturan yang sangat ketat. Pemerintah hampir selalu ikut campur dalam setiap lini. Sangat banyak aturan yang dibuat, dan setiap pelanggaran selalu diikuti dengan denda yang cukup tinggi. Bahkan demonstrasi massa dianggap sebuah kejahatan.

Berbeda dengan Indonesia yang menganut ideologi demokrasi. Masyarakat yang multikultural ini masih bisa menyuarakan pendapatnya. Setiap agama, golongan, suku bisa hidup di negara maritim ini. Selama tak berbenturan dengan Pancasila dan nilai – nilai masyarakat Indonesia.

Keberagaman masyarakat yang kita jumpai di Indonesia hampir sama dengan yang ada di kota London. Jumlah penduduk yang lahir di London memiliki perbedaan yang tipis dengan penduduk yang lahir di luar London. Jika dikelompokkan secara etnis, selain orang Inggris sendiri ada orang Bangladesh, Tiongkok, Ghana, Yunani, India, Irlandia, Jamaika, Nigeria, Jepang, Pakistan dan Turki yang tinggal di sana.

Sekitar 300 bahasa digunakan di kota ini, namun bukan bahasa asli penduduk Inggris. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki ratusan bahasa yang berbeda, dan kesemuanya berasal dari satu kewarganegaraan : Indonesia.

Perbedaan yang ada ini hendaknya bisa dimanfaatkan Indonesia. Menurut riset dari McKinsey & Company, bahwa perusahaan yang memiliki dewan direksi yang berbeda gender dan ras memiliki tingkat produktifitas yang lebih baik. Jika dibandingkan dengan dewan direksi yang cenderung homogen.

Indonesia perlu belajar tentang menghargai perbedaan. Menghargai setiap pendapat yang berseberangan. Dan menghargai pendapat tanpa memandang golongan si pemberi pendapat. Indonesia tak bisa menjadi satu, tapi bisa bersatu. Bersatu dengan caranya sendiri, bungkan menjadi satu dengan menghilangkan keragaman. Tetapi merangkul setiap perbedaan dengan ikatan yang bernama Bhinneka Tunggal Ika.


Sumber: Menemukan Indonesia (Panji Pragiwaksono)

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini