Gugurnya Kisah Cinta Muda – Mudi Dayak dalam Tari Bopureh

Gugurnya Kisah Cinta Muda – Mudi Dayak dalam Tari Bopureh
info gambar utama

Indonesia merupakan negara dengan suku yang sangat banyak dan beragam. Menurut data dari BPS pada 2010 terdapat 1128 suku. Dengan jumlah suku yang sangat banyak, tentu akan melahirkan banyaknya adat – istiadat yang berbeda. Tak jarang perbedaan ini menimbulkan pertentangan antar kelompok etnis. Perbedaan adat – istiadat tak jarang menghadirkan kisah yang pilu. Seperti yang terkisahkan dalam Tari Bopureh.

Tari Bopureh berasal dari masyarakat Suku Dayak. Suku yang menetap di Kalimantan ini memilki subetnis yang cukup banyak. Tiap subetnis memiliki aturan yang berbeda – beda.

Bak telenovela, tak jarang cinta yang tumbuh terhalang oleh aturan adat. Sebuah kisah klasik yang menghiasi kehidupan masyarakat suku Dayak.

Tari Bopureh mengisahkan cerita cinta seorang pemuda Suku Dayak Jangkang. Pemuda ini mencintai wanita dari Suku Dayak Kanayan. Cinta yang tumbuh ternyata terhalang oleh adat. Dua sejoli yang terikat tali kasih ini tak bisa berbuat apa – apa. Memang sebuah pantangan bagi masyarakat Dayak untuk menikah dengan orang di luar kelompoknya.

Bopureh sendiri berasal dari bahasa Jangkang yang memiliki arti “sisilah”. Tari yang menceritakan kisah pilu pemuda Jangkang dan pemudi Kanayan ini masih ada hingga sekarang. Tari ini dibawakan oleh sepuluh orang. Delapan orang penari pelengkap dan dua orang penari yang berperan sebagai sepasang kekasih.

Gerakan tari Bopureh didominasi gerakan liukan tangan, dipadukan dengan gerak formasi penarinya. Pada bagian tengah pementasan, delapan orang penari perempuan akan membentuk formasi lingkaran, dengan penari pria menjadi pusat.

Keterangan Gambar (© kamerabudaya.com)

Kostum yang digunakan pada tarian ini merupakan pakaian adat Suku Dayak Kalimantan Barat. Meskipun merupakan pakaian adat, ternyata kostum yang digunakan telah dimodifikasi dibeberapa bagian. Tak ketinggalan hiasan kepala berupa mahkota burung tingang yang dikenakan pernari pria. Mahokta yang digunakan semakin memperjelas bahwa tarian bopureh merupakan kesenian Suku Dayak.

Kain warna – warni yang dibentangkan pada saat tarian dilakukan ternyata memiliki makna keberagaman dalam masyarakat Dayak. Namun sayangnya karena keberagaman ini yang menjadi penghalang Pemuda Jangkang dan Gadis Kanayan merajut cinta.


Sumber: kamerabudaya.com | indonesiakaya.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini