Poros Baru Dunia dan Simpul-simpul Masa Depan Indonesia

Poros Baru Dunia dan Simpul-simpul Masa Depan Indonesia
info gambar utama

Bagi banyak orang, ini terdengar biasa. Namun dibaliknya, ada kisah besar yang tak mungkin kita sepelekan. Tahukah anda, bahwa maskapai-maskapai terbaik di dunia, semuanya ada di Asia. Dari berbagai agensi rating, semuanya menempatkan maskapai-maskapai Asia di posisi tertinggi. Salah satunya adalah Skytrax, perating penerbangan dengan reputasi terbaik, menempatkan sembilan maskapai dari Asia menjadi maskapai terbaik dunia, yakni Singapore Airlines (Singapura), Qatar Airways (Qatar), ANA (Jepang), Emirates (UEA), Eva Air (Taiwan), Cathay Pacific (Hong Kong), Hainan Airlines (Tiongkok), Garuda Indonesia (Indonesia), dan Thai Airways (Thailand). Di 10 besar, hanya Lufthansa (Jerman) wakil dari luar Asia.

5-star airline
info gambar

Saya pernah terbang hampir 13 jam dari Tokyo ke Detroit dengan menggunakan salah satu maskapai penerbangan AS, dan ada satu hal menarik terjadi saat saya tanpa sengaja mendengar seorang penumpang (orang AS), bertanya kepada pramugari sambil bercanda santai dengan pramugari. Mengapa pesawatnya tidak ada ini dan itu, tidak menyediakan ini itu. Sang pramugari menjawab dengan santai dan ringan "Well, you really have to fly on Singapore Airlines, or other Asian Airlines" katanya memuji maskapai-maskapai Asia.

Contoh lain yang tak kita sadari adalah tak terbendungnya smartphone-smartphone dengan merk-merk Asia. Kita mungkin menganggap biasa bahwa di sekitar kita, kita tak lagi menemukan kawan yang memakai handphone merek Eropa, seperti Nokia (Finlandia) yang tak lagi merajai sektor ini, atau Ericsson (Swedia) yang sudah mati, atau Siemen (Jerman) yang tak lagi mampu bersaing. Masih ada produk-produk smartphone Eropa yang mencoba bersaing, namun tak juga berhasil melawan merk-merk Asia . Blaupunkt (Jerman), Alcatel-Lucent (Prancis) tak mampu berbuat banyak, meski produk-produk mereka adalah produk-produk bermutu baik. Blackberry (Kanada) pun kini tak lagi berdaya.

Saat ini, saat tulisan ini saya tulis, ada 5 (lima) merk smartphone yang menguasai dunia, dan 4 (empat)-nya adalah merk Asia, 1 adalah merk AS (namun dirakit di Asia). Mereka adalah Samsung, iPhone, Huawei, Xiaomi, dan Oppo. Bahkan jika kita perbesar menjadi 10 besar pun, kita akan mendapati merk-merk Asia yang lain seperti LG, Lenovo, Vivo, dan lainnya.

Kalau mau jujur, bisa jadi ini bukti yang tak terbantahkan bahwa ekonomi dunia sedang bergerak dengan Asia sebagai . Professor Kishore Mahbuabni dari National University of Singapore, mengatakan bahwa , “Europe represents the past, America represents the present, Asia represents the future.”

Menariknya, generasi muda di Asia memiliki kepercayaan diri seperti ini, meyakini bahwa dunia kini sedang menatap mereka. Menurut sebuah survey yang melibatkan hampir 20 ribu orang dari 17 negara, 5 negara Asia yakni Tiongkok (41%), Indonesia (23%), Saudi Arabia (16%), Thailand (11%) dan United Arab Emirates (10%) adalah negara-negara yang optimis yang meyakini bahwa masa depan akan lebih baik.

Keyakinan dan kepercayaan diri tersebut memang punya landasan amat kuat, yakni Asia is Rising !

Selain contoh maskapai dan smartphone di atas, tentu masih banyak contoh lain. Misalnya, kontribusi PDB negara-negara Asia terhadap PDB dunia berdasarkan purchasing power parity (PPP) telah naik secara dramatis, yakni dari 23.2% pada 1990 menjadi 39% pada 2014, dan dijangka akan menjadi 45% pada 2025. Dalam peringkat PDB berdasar PPP, Asia adalah rumah bagi 3 dari 4 ekonomi terbesar dunia, yakni China, Jepang, dan India.

Pusat ekonomi dunia, abad asia | dailymail.co.uk
info gambar

Juga, kontribusi Asia terhadap perdagangan global sudah naik cepat, dan pada 2014 sudah mencapai 32%, dengan pertumbuhan ekspor 3x lebih cepat dari rata-rata dunia dalam dekade-dekade terakhir. China bahwa menjadi negara dengan volume perdagangan terbesar dunia, sejak mengambil alih dari AS pada tahun 2013.

Robert D Kaplan juga mengatakan bahwa lambat tapi pasti, kekuatan geopolitik, termasuk militar, akan berada di Asia.

Siapkah Indonesia?

Inilah era yang tak bisa dibendung lagi. Mantan Dubes RI untuk AS, Dino Patti Djalal pernah mengatakan secara tegas "Saya yakin abad ke-21 ini adalah abad terbaik Indonesia dan di abad ini Indonesia ditakdirkan menjadi raksasa Asia".

Bisakah kita memanfaatkan abad Asia ini?

Kalau mau, tentu bisa. Kita punya semua, potensi alam, potensi geografis, dan lainnya. Dan yang terpenting adalah potensi demografi, di mana negeri ini adalah rumah bagi 170 juta angkatan muda yang berusia produktif, dan mampu menjadi mesin penggerak bangsa dalam banyak hal.

Generasi muda, modal besar Indonesia
info gambar

Generasi muda Indonesia yang kini dianggap sebagai bonus demografi, bonus 600 tahunan yang langka, harus mampu menangkap peluang besar ini, dan bersama negara-negara lain di Asia menuju kebangkitannya.

Apakah generasi muda kita siap?

Siapkah kita? | sbs.com.au
Siapkah kita? | sbs.com.au

Saya tak mampu menjawabnya, namun beberapa tahun terakhir ini saya bertemu dengan ribuan anak-anak muda Indonesia yang (menurut saya) banyak yang punya banyak ide dan inovasi, bekerja sama dengan anak anak muda yang lain bekerja tanpa pamrih, memperbaiki diri dan lingkungannya tanpa minta dilihat. Mereka-mereka inilah yang akan menjadi simpul-simpul penting menambatkan bangsa ini ke pergerakan besar menuju abad Asia yang makmur dan mensejahterakan.

Dan, ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan dari anak-anak muda itu, kini ada di sekitar kita.

Siapkah, Indonesia?

Referensi :

The Globalist | The Christian Science Monitor | The Economist | Republika.com | Sumber-sumber lain

Gambar utama : Tomswallpaper.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini