Warisan Megalit Lembah Bada

Warisan Megalit Lembah Bada
info gambar utama

Di Sulawesi Tengah terdapat tiga buah lembah dengan jejak peninggalan situs megalitik. Ketiga lembah tersebut adalah lembah Bada, lembah Napu, dan lembah Besoa. Lembah Bada sendiri berada di dataran tinggi yang dikelilingi oleh perbukitan dan persawahan yang dekat dengan pemukiman penduduk di sekitarnya. Tepatnya berada di Kecamatan Lore Selatan dan Lore Barat.

Mengingat wilayah geografis yang mengelilinginya, pada umumnya masyarakat di lembah Bada bermatapencaharian sebagai petani, pegawai negeri, dan wiraswata. Dapat terlihat hamparan kawasan persawahan dan perkebunan kakao sepanjang perjalanan menuju situs dari desa Pada.

Buah kakao yang ada di desa Pada | Sumber: Ekspedisi Palu Koro
Buah kakao yang ada di desa Pada | Sumber: Ekspedisi Palu Koro

Seperti yang dikutip melalui ekspedisi Palu-Koro, disebutkan oleh Iksam, seorang Arkeolog yang telah lama melakukan penelitian arkeologi dan sebagai wakil museum daerah Provinsi Sulawesi Tengah bahwa situs-situs megalitik yang terdapat di Lembah Lore (kawasan pusat situs megalitik) berusia diantara 2000-4000 tahun. Lembah Bosua yang berada di ketinggian 1200 mdpl memiliki situs berusia kisaran 3000-4000 tahun. Sedangkan lembah Bada dan lembah Napu yang berada lebih dekat dengan permukaan air laut sekitar 1000-1200 mdpl memiliki usia situs megalitik yang lebih muda yakni 2000 tahun.

Terdapat beberapa jenis bentuk situs megalitik yang terdapat di lembah Bada, jenis-jenis bentuk situs megalitik tersebut adalah antara lain:

Arca Menhir

Patung atau arca yang kebanyakan menyerupai bentuk manusia dengan penggambaran yang berbeda-beda. Ada yang digambarkan secara utuh dari kaki hingga kepala, badan hingga kepala, dan hanya bagian kepala saja. Gender sebagian arca menhir dapat diketahui jelas jenis alat kelaminnya. Umumnya arca Menhir dibuat untuk kepentingan pemujaan terhadap arwah leluhur, dan sebagai perwujudan dari arwah nenek moyang yang telah meninggal. Penggambaran bagian tubuh dimaksudkan untuk menghindari pengaruh jahat.

Arca Menhir | Sumber: Ekspedisi Palu Koro
Arca Menhir | Sumber: Ekspedisi Palu Koro

Kalamba

Memiliki bentuk silinder yang pada umumnya terdiri dari dua bagian yaitu; wadah dan penutup. Bagian wadah merupakan bongkahan batu besar yang berbentuk bulat lonjong dengan lubang di bagian tengahnya. Sedang pada bagian penutup berbentuk bulat melingkar dan terdapat tonjolan di bagian tengah. Namun sebagian Kalamba yang ada di lembah Bada tidak ada penutup dan sebagian sudah pecah.

Kalamba | Sumber: Ekspedisi Palu Koro
Kalamba | Sumber: Ekspedisi Palu Koro

Batu Dakon

Batu dengan bentuk tidak beraturan meskipun ditemukan juga yang berbentuk bulat, lonjong, atau bentuk lainnya dengan lubang pada bagian permukaannya. Jumlah lubang-pun bervariasi antara masing-masing batu dakon, ada yang hanya memiliki satu lubang hingga berjumlah banyak. Bentuk lubang-pun bervariasi meski pada umumnya berbentuk bulat, namun terdapat pula yang berbentuk persegi, lonjong, atau memanjang. Fungsi batu ini berkaitan dengan upacara kematian, sebagai contoh di Sulawesi Selatan yang digunakan sebagai permainan ketika menunggu jika ada yang meninggal.

Batu Dakon | Sumber: Ekspedisi Palu-Koro
Batu Dakon | Sumber: Ekspedisi Palu-Koro

Lumpang Batu atau Lesung Batu

Bagian permukaannya berbentuk cenderung datar dengan satu lubang atau lebih. Dibandingkan ukuran lubang yang ada pada Batu Dakon, lubang yang ada di Lumpang Batu umumnya memiliki diameter dan kedalaman yang lebih besar. Fungsi praktis dari lumping ini adalah untuk menumbuk biji-bijian selain juga berfungsi sebagai benda religious yang digunakan sebagai sarana pemujaan.

Berdasarkan penelitian ahli geologi, batu-batu tersebut memiliki jenis batu yang sama yaitu granit. Karena Granit merupakan batuan beku yang kuat atau keras maka diperlukan jenis batuan yang lebih kuat minimal sama kuat untuk memahat atau mengukir batu tersebut.

Lumpang Batu | Sumber: Ekspedisi Palu-Koro
info gambar


Sumber: Artikel asli merupakan tulisan dari peserta ekspedisi Palu-Koro Mei 2017 bernama Sushi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini