Inilah 14 Cagar Biosfer di Indonesia yang Kamu Harus Tahu

Inilah 14 Cagar Biosfer di Indonesia yang Kamu Harus Tahu

© Marc Szeglat / unsplash.com

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan flora dan fauna yang sangat melimpah. Tidak heran bila kemudian Indonesia disebut sebagai negara dengan megabiodiversitas dunia. Sayangnya, predikat tersebut bisa hilang jika Indonesia tidak mampu untuk melestarikan lingkungan dan alamnya dari perusakan dan eksploitasi berlebihan. Salah satu langkah yang dilakukan untuk mencegah perusakan tersebut adalah dengan memasukkan wilayah-wilayah konservasi penting ke dalam program Cagar biosfer atau yang juga dikenal sebagai Biosphere Reserves..

Cagar biosfer merupakan suatu kawasan ekosistem yang keberadaannya diakui dunia internasional sebagai bagian dari program Man and Biosphere (MAB), Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, UNESCO). Program ini ditujukan untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan, dengan melibatkan peran serta masyarakat lokal berdasarkan ilmu pengetahuan. Sampai saat ini Indonesia telah memiliki 14 Cagar Biosfer yang diakui oleh UNESCO dan juga disebut sebagai Taman Nasional, berikut adalah daftarnya.

1. Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser biasa disingkat TNGL adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia seluas 1.094.692 Hektar yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Provinsi Aceh yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Aceh Barat Daya,Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, sedangkan Provinsi Sumatera Utara yang termasuk dalam wilayah TNGL meliputi Kabupaten Dairi, Karo dan Langkat. Taman Nasional ini telah menjadi Cagar Biosfer sejak tahun 1981, Cagar Biosfer Gunung Leuser sendiri memiliki kawasan inti seluas 792.675 ha yang ditetapkan pada tahun 1980.

2. Pulau Siberut

Ditunjuk tahun tahun 1981, Cagar Biosfer Siberut terdapat di Taman Nasional Siberut (Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat) dengan kawasan inti seluas 190.500 ha yang ditetapkan pada tahun 1993. Di Pulau Siberut tercatat antara lain 896 spesies tumbuhan berkayu, 31 spesies mamalia, dan 134 spesies burung.

3. Lore Lindu

Terletak di provinsi Sulawesi Tengah dan salah satu lokasi perlindungan hayati Sulawesi. Lokasinya terletak sekitar 60 kilometer selatan kota Palu. Lokasi ini ditunjuk sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1977 dan menjadi bagian dari Taman Nasional Lore Lindu (Sulawesi Tengah) dengan kawasan inti seluas 229.000 ha yang ditetapkan pada tahun 1993. Kawasan ini merupakan habitat mamalia asli terbesar di Sulawesi seperti Anoa dan babirusa.

4. Pulau Komodo, Labuan Bajo

Meski Taman Nasional Komodo baru diresmikan sebagai situs warisan dunia pada tahun 1991, wilayah kepulauan komodo telah ditunjuk sebagai wilayah Cagar Biosfer sejak tahun 1977. Cagar Biosfer Komodo ini menjadi bagian dari Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur) dengan kawasan inti seluas 173.300 ha yang ditetapkan pada tahun 1990. Kepulauan ini dihuni oleh sekitar 5.700 kadal raksasa yang tampak seperti naga sehingga disebut sebagai Komodo Dragon.

5. Gunung Gede Pangrango

Cagar Biosfer Cibodas ditetapkan pada tahun 1977. Saat ini, zona intinya adalah kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 22.851 hektar. Cagar Biosfer Cibodas terletak di Jawa Barat meliputi wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Wilayah ini menjadi habitat lindung dari satwa endemik seperti Elang Jawa dan Owa Jawa.

6. Tanjung Puting

A post shared by Romeo Gerli (@romeogerli) on

Cagar Biosfer Tanjung Puting ditetapkan pada tahun 1977, dan kemudian di tahun 1982 zona intinya ditetapkan sebagai Taman Nasional Tanjung Puting. Cagar Biosfer ini derletak di Propinsi Kalimantan Tengah yang meliputi Kabupaten Kotawaringin. Kawasan ini merupakan kediaman orang utan, bahkan saat ini menjadi pusat rehabilitasi orang utan terbesar di dunia. Beberapa diantaranya adalah Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey.

7. Giam Siak

Wilayah Giam Siak Kecil-Bukit Batu ditetapkan sebagai Cagar Biosfer pada tahun 2009. Kawasan ini terbilang paling menarik karena memiliki zona inti berupa taman nasional, sehingga berbeda dari Cagar Biosfer lainnya yang umumnya memiliki zona inti berada di dalam Taman Nasional.

Kawasan intinya terdiri dari Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (75.000 ha), Suaka Margasatwa Bukit Batu (24.800 ha), konsesi hutan produksi Sinar Mas (72.000 ha) serta eks HPH PT. Rimba Rokan Lestari. Total luas areal inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu sekitar 174 ribu hektar, sedangkan luas keseluruhan cagar mencapai 705,271 ha. Lokasi ini digunakan sebagai tempat dua konservasi besar seperti Konservasi Liar Giam Siak dan Konservasi Liar Bukit Batu untuk dua fauna khas Sumatra seperti Gajah Sumatra dan Harimau Sumatra.

8. Taman Laut Wakatobi

A post shared by My Ra (@graham_my) on

Cagar Biosfer yang satu ini adalah Cagar Biosfer laut yang miliki oleh Indonesia. Taman Laut Wakatobi baru ditetapkan pada tahun 2012 yang lalu dengan Zona inti cagar ini adalah kawasan Taman Nasional Wakatobi yang telah ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1996 dan memiliki luas 1.390.000 hektar. Kawasan ini terdiri dari 39 pulau, 3 gosong serta 5 atol, secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara.

9. Bromo-Semeru-Tengger-Arjuno

A post shared by Uasuki-Kenchin (@ukenchin) on

Untuk wilayah ini, siapa yang tidak mengenalnya. Jutaan wisatawan telah datang ke kawasan pegunungan terkenal ini. Meski sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1982, statusnya sebagai Cagar Biosfer baru diresmikan pada tahun 2015 yang lalu. Diwilayah ini terdapat 137 spesies burung, 22 spesies mamalia dan 4 spesies reptil yang dilindungi. Termasuk juga flora 'abadi', Edelweiss Jawa.

10. Taka Bonerate

A post shared by SULSELTA (@sulseltaa) on

Taman laut Taka Bonerate merupakan kawasan dengan atol terbesar ketiga di dunia. Luas total dari atol ini 220.000 hektare dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 km yang terletak di di Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

11. Blambangan

Cagas biosfer yang satu ini merupakan cagar biosfer yang terdiri dari tiga taman nasional: Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Meru Betiri. Ketiganya berada di daerah tapal kuda Jember, Lumajang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo Jawa Timur. Cagar biosfer yang diresmikan pada tahun 2016 ini memiliki luas hingga mencapai 778.647 hektar.

12. Berbak Sembilang

Lokasi cagar biosfer ini berada di pesisir timur pulau Sumatra yang terdiri dari Taman Nasional Berbak dan Taman Nasional Sembilang. Sebagian besar dari cagar biosfer ini merupakan tanah gambut dan hutan rawa-rawa dan muara sungai Musi. Cagar biosfer yang diresmikan baru saja diresmikan ini memiliki luas mencapai 205.750 hektar.

13. Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu

Cagar biosfer yang satu ini juga merupakan cagar biosfer terbaru yang dimiliki Indonesia. Wilayah ini terdiri dari dua Taman Nasional yakni Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum. Topografi dari cagar biosfer yang berada di Kalimantan Barat ini terdiri dari perbukitan hutan tropis yang banyak dihuni oleh flora dan fauna.

14. Rinjani-Lombok

A post shared by Meechan (@meechanmiiee) on

Cagar biofer Rinjani menjadi cagar biosfer keempat yang meliputi wilayah gunung dan merupakan salah satu dari tiga cagar biosfer terbaru yang dimiliki Indonesia. Terletak di Nusa Tenggara Barat, cagar biosfer ini terdiri dari berbagai macam vegetasi hutan, seperti hutan svana, gunung dan hutan hujan dataran rendah. Sebagian besar wilayah ini masih berupa hutan sehingga memiliki banyak sekali keanekaragaman hayati.

Sedikit mengenal tentang Cagar Biosfer, secara pembagian wilayah cagar biosfer terdiri dari 3 zona, yakni zona inti, zona penyangga dan zona transisi. Zona inti merupakan kawasan yang dilindungi untuk konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem. Dalam zona ini aktifitas yang diperbolehkan hanyalah penelitian yang tidak merusak dan kegiatan lain yang berdampak rendah pada lingkungan, seperti pendidikan.

Berikutnya adalah zona penyangga, yang merupakan area luar setelah zona inti. Zona ini pemanfaatannya lebih beragam dan lebih terbuka selama tidak terkait dengan aktifitas eksploitasi alam. Beberapa kegiatan tersebut diantaranya pendidikan, rekreasi, ekowisata dan penelitian. Pembagian Zona Cagar Biosfer (Gambar: UNESCO)

Terakhir adalah zona transisi. Zona ini merupakan area terluar yang mengelilingi Cagar Biosfer. Di dalam zona ini diperbolehkan kegiatan pertanian, pemukiman dan pemanfaatan lain. Namun untuk mengelola zona transisi harus terdapat kerjasama dan kesepakatan dengan berbagai pemangku kepentingan seperti masyarakat, ilmuwan, lembaga swadaya masyarakat, pemerhati ekonomi dan pemangku kepentingan lainnya.

sumber: Jurnal Bumi

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Potret Nabila Evandestiera Salah Satu Srikandi Indonesia di Asian Games 2018 Sebelummnya

Potret Nabila Evandestiera Salah Satu Srikandi Indonesia di Asian Games 2018

Kupang-Dili Kini Terhubungan Penerbangan Langsung Selanjutnya

Kupang-Dili Kini Terhubungan Penerbangan Langsung

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.