Santri Muallimin Tebuireng Tembus PTN Favorit

Santri Muallimin Tebuireng Tembus PTN Favorit
info gambar utama

Madrasah Muallimin Hasyim Asyari Tebuireng notabene adalah sekolah yang dikhususkan untuk mumpuni dibidang keagamaan dan kitab-kitab klasik. Namun hal ini tidak boleh menjadikan santri Muallimin berfikiran stagnan (kolot) terlebih menutup dari dari dinamika eksternal yang dinamis. Kepribadian ini dibentuk para lulusan Muallimin agar menjadi kiai-kiai muda yang moderat dan solutif terhadap masalah kontemporer keummatan.

Sehingga setelah lulus, para santri Muallimin Tebuireng dibebaskan untuk banyak pilihan melanjutkan di semua universitas di Indonesia manapun. Terkait ini, banyak pihak cenderung pesimis dengan kualitas santri Muallimin Tebuireng, terlebih dengan kemampuan pengetahuan umum yang minim. Banyak yang berpandangan santri Muallimin Tebuireng hanya akan berakhir di kampus swasta belaka. Namun siapa bilang santri Muallimin tidak bisa melanjutkan ke PTN Favorit.

Namun pada pada SBMPTN Tahun 2018 ini, Muhammad. Dzannuroin Aldivano, atau yang akrab disapa Gus Ivan membuktikan bahwa semua anggapan itu salah. Sungguh lengkap capaian putra KH. Fahmi Amrulloh Hadzik pengasuh pondok putri Tebuireng ini, lolos dijalur seleksi UMPTAIN masuk di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya jurusan sastra Arab. Sedangkan untuk jalur SBMPTN dia beruntung.

Menurut Gus Ivan keberhasilan ini tidak terlepas dari doa orang tuanya dan ketelatenan pengajar di Tebuireng Institute untuk menyiapkan dirinya siap mengikuti seleksi SBMPTN dan UMPTAIN. "Sebab modal pengetahuan umum di Muallimin Tebuireng minim, sehingga saya harus kerja keras" demikian dituturkan. Saat dikonfirmasi, Khudrotun Nafisah, selaku penanggungjawab program kelas intensif Santriversitas Tebuireng Institute membenarkan hal ini. "Tahun ini kami memiliki tiga santri bidang keagamaan dua dari Madrassah Muallimin Tebuireng yakni Gus Ivan dan, Ilham Maulan Ardin sedang yang satu lagi Variz Muhammad Mirza putra Gus Zaki Hadzik, dari Lirboyo alhamdulillah mereka lolos masuk PTN favorit yang diimpikan".

Dari penelusuran tim redaksi, tahun 2018 ini adalah tahun ke-3 bagi Tebuireng Institute membuka program persiapan seleksi SBMPTN/UMPTAIN bagi santri Tebuireng dan siswa umum lainnya. Dan meski tanpa proses seleksi sebelumnya namun mayoritas peserta dapat diterima dikampus favorit yang diimpikan. Disampaikan oleh Khudrotun Nafisah, alumni kelas intensif Santriversitas Tebuireng Institute telah berhasil menembus kampus kampus ternama seperti ITS, UB, UNAIR, UGM, UNEJ, IPB, Unesa, UM dan lain-lain.

"Alhamdulillah, iklim belajar yang baik di Tebuireng memudahkan kami berproses dengan semua peserta yang sengaja tidak kita seleksi sebelumnya demikian ditambahkan oleh perempuan yang akrab disapa Bu Nafis ini. Saat ditanya apakah proses tanpa seleksi memudahkan proses di kelas intensif Santriversitas Tebuireng Institute. Dijawab oleh Bu Nafis kalau dengan tanpa seleksi cukup menjadikan proses akan lebih seru. "Pekerjaan rumah yang selama ini kami lakukan di Tebuireng Institute tidak hanya transfer ilmu tetapi juga memompa motivasi, meyakinkan peserta dan hingga berdialog dengan orang tua santri. Bahkan turut menghadirkan terapis hipnoterapi untuk beberapa kasus kesulitan belajar yang terjadi."

Sebagai gambaran dijelaskan oleh Bu Nafis bahwa "Capaian passing grade awal santri tidak terkecuali Gus Mirza, Gus Ivan ataupun Ilham hampir semua selalu berada dibawah standar. Passing Grade 9, 12, sebagai contoh Gus Mirza waktu itu hanya bermodal passing grade 16. Dengan niat awal untuk tidak pernah pesimis dengan kondisi akademik santri, alhamdulillah kerja keras pengajar dan manajemen tidak sia-sia."

Kini Gus Ivan diterima jurusan sastra arab UINSA, Gus Mirza dijurusan sastra Arab UGM dan Ilham dijurusan ilmu politik UNESA.

Khusus bagi alumni Madrasah Muallimin Tebuireng atau keagamaan pembelajaran kombinasi materi dan soal menjadi solusi cepat mempersiapkan mereka. Hal ini senada dengan yang dituturkan oleh Gus Mirza dan Gus Ivan yang menuturkan bahwa jumlah tryout di Tebuireng Institute sangat banyak. "Bahkan kalau perlu kita bisa melaksanakan tryout itu seperti makan obat tiga kali sehari" tutur Gus Mirza sembari tertawa.

Dengan keberhasilan ini menurut Khudrotun Nafisah, tidak menjadikan Tebuireng Institute lantas berpuas diri. "Pekerjaan rumah kami masih banyak, terlebih kami masih belum mampu mengantarkan santri Tebuireng ke beberapa kampus-kampus favorit lain seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan lainnya. Mohon doa semua pihak agar khidmat saya dan teman-teman di Tebuireng Institute untuk berkontribusi kepada Pondok Pesantren Tebuireng dan masyarakat dapat selalu dimudahkan.",,


Sumber: MH

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini