Oleh : Taufik Wijaya*

Palembang merupakan kota tertua di Nusantara. Kota ini dibelah Sungai Musi dan dilintasi ratusan anaknya. Kota yang dibangun dari kebudayaan bahari, yang banyak dikunjungi dan ditempati berbagai suku bangsa di Asia dan Eropa sejak ratusan tahun lalu. Tahun ini, Palembang bersama DKI Jakarta ditunjuk sebagai kota hajatan Asian Games 2018. Bagaimana wajah kehidupan bahari di Palembang, Sumatera Selatan, saat ini?

Sebagai bangsa bahari, dari masa sebelum masehi, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang, Kesultanan Palembang, masa kolonial Eropa, hingga awal Indonesia, kehidupan masyarakatnya selalu terkait air. Ada ciri hampir sama kehidupan masyarakatnya, dari bangunan bertiang, perahu sebagai alat transportasi, serta mencari ikan sebagai sumber pangan.

Sungai Musi yang mengalir dari Bukit Barisan hingga Selat Bangka, panjangnya berkisar 750 kilometer. Di sepanjang Sungai Musi dan anak-anaknya, berbagai perkampungan dibangun masyarakat sejak ratusan tahun lalu.

Rumah-rumah panggung yang masih bertahan di kampung 14 Ulu, Palembang. Foto: Nopri Ismi
Rumah-rumah panggung yang masih bertahan di kampung 14 Ulu, Palembang. Foto: Nopri Ismi

Sejalan dengan pembangunan berorientasi daratan, kehidupan di Sungai Musi pun perlahan berubah. Banyak bangunan bergaya kontinental atau tidak bertiang dengan menggunakan batubata, semen dan pasir, mulai terlihat di sekitar Sungai Musi atau anak-anaknya. Perubahan ini diperkirakan setelah Kerajaan Sriwijaya melemah dan tenggelam. Bangunan bergaya kontinental ini dipelopori Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang, yang dipengaruhi kebudayaan India melalui ajaran Hindu dan Budha dari Jawa. Tapi itu hanya terlihat pada bangunan candi dan kompleks pemakaman.

Sementara bangunan yang sudah didiami manusia, dimulai dari Benteng Kuto Besak sebagai istana Kesultanan Palembang, dan Masjid Agung pada abad ke-18, saat dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin I dan diselesaikan penerusnya Sultan Mahmud Bahauddin. Selanjutnya pemerintahan Belanda secara masif membangun perkantoran, gudang, balai pertemuan, perumahan, rumah sakit, yang menggunakan batubata dan tidak bertiang. Pada saat ini jejaknya terlihat di kawasan Talang Semut dan Jalan Merdeka. Semua perubahan bangunan itu berlangsung di Palembang Ilir.

Hingga tahun 1950-an, masyarakat di tepi Sungai Musi tetap bertahan dengan bangunan bertiang, rakit, yang menggunakan kayu. Tapi bangunan bergaya kontinental terus dikembangkan Pertamina, PT. Pupuk Sriwidjaya, serta perusahaan pengolahan getah karet, yang membangun pabrik, perkantoran, dan perumahan karyawannya, yang secara perlahan mengubah karakter bangunan di sepanjang Sungai Musi.

Kapan rumah warga di tepi Sungai Musi bergeser tidak lagi panggung dan menggunakan kayu? Diperkirakan sejak tahun 1990-an, ketika kayu yang biasa digunakan untuk membangun rumah mulai sulit didapatkan atau berharga mahal, seperti meranti, ulin, dan tembesu.

Perubahan itu, umumnya pada bangunan atau rumah yang agak jauh dari tepi Sungai Musi. Rumah atau bangunan yang berada di tepi Sungai Musi tetap bertahan. Tapi rumah yang bertahan ini, umumnya karena daya tahan bangunan bukan karena dipertahankan pemiliknya. Artinya, jika kayu bangunan memburuk atau rusak, bangunan itu pun ditinggalkan.

Di seberang kampung 14 Ulu, tepatnya di Palembang Ilir, terlihat aktivitas pelabuhan Boom Baru. Seorang nelayan nyaris tak terlihat di antara kapal tongkang yang melintas. Foto: Nopri Ismi
Di seberang kampung 14 Ulu, tepatnya di Palembang Ilir, terlihat aktivitas pelabuhan Boom Baru. Seorang nelayan nyaris tak terlihat di antara kapal tongkang yang melintas. Foto: Nopri Ismi

Perubahan di Palembang Ulu yang sebelumnya lamban jika dibandingkan Palembang Ilir, sejak tahun 2000-an mengalami perubahan cukup dratis. Bentang alam berubah rawa gambut di Jakabaring, setelah direklamasi tahun 1990-an oleh pemerintahan Soeharto, berubah menjadi lokasi perumahan, perkantoran, hotel, mall, pasar, dan kompleks olahraga yang pernah digunakan penyelenggaraan Sea Games dan sebentar lagi untuk Asian Games.

“Itu gambaran sepintas terkait sejarah bangunan di Palembang, khususnya perubahan di sekitar atau tepi Sungai Musi. Memang dibutuhkan penelitian dan kajian mendalam terkait perubahan tersebut,” kata Dr. Yenrizal Tarmizi, pakar komunikasi lingkungan dari UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (04/8/2018).

“Perubahan bangunan juga diikuti dengan pembangunan jalan darat, mulai dari jalan utama hingga jalan setapak yang masuk ke perkampungan di tepi Sungai Musi. Alat transportasi air pun sebagian besar diitinggalkan. Kebutuhan alat transportasi warga pun berubah, dari perahu beralih ke mobil atau sepeda motor,” jelasnya.

Perubahan alat transportasi juga berdampak pada perlakuan warga terhadap anak-anak Sungai Musi. “Mereka sebelumnya sangat merawat sungai karena dijadikan sarana transportasi dan sumber air bersih, kini tidak lagi. Bahkan terkesan sungai adalah parit tempat lokasi pembuangan limbah dan sampah,” terang Yenrizal.

Melihat yang tersisa

Selama ini, jika ingin menikmati kehidupan masyarakat Palembang di sekitar Sungai Musi kita harus menyusuri Sungai Musi menggunakan kendaraan air, seperti perahu atau speedboat. Sebab memandang kehidupan masyarakat Palembang dari Jembatan Ampera atau Jembatan Musi II, tidak akan terlihat utuh. Melalui Jembatan Ampera, kita hanya melihat aktivitas masyarakat di Pasar 16 Ilir, Dermaga Ikan 10 Ulu, Plasa Benteng Kuto Besak, dan sebuah rumah makan di dekat rumah Kapiten 7 Ulu, yang semuanya berada di tepi Sungai Musi di Palembang Ilir dan Palembang Ulu.

Sementara melalui Jembatan Musi II, kita hanya melihat kehidupan masyarakat Palembang di tepi Sungai Musi, yang baru terbentuk setelah jembatan tersebut dibangun tahun 1990-an.

Menjelang penyelenggaraan Asian Games 2018, Palembang melakukan tiga pembangunan yakni jalur kereta LRT (Light Rail Transit) yang menghubungkan bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke Jakabaring, Jembatan Musi VI yang menghubungkan 32 Ilir dengan 1-2 Ulu, serta Jembatan Musi IV yang menghubungkan Kuto Batu dengan 14 Ulu. Targetnya, ketiga pembangunan ini dapat digunakan sebelum Asian Games digelar.

Pembangunan dua jembatan ini cukup menarik. Sebab dilakukan di tengah perkampungan tua, baik di Palembang Ilir maupun Palembang Ulu.

Dari Jembatan Musi IV yang masih dalam proses pembangunan, kita akan melihat jajaran rumah panggung tua yang berada di Palembang Ulu tepatnya di 14 Ulu hingga 10 Ulu. Kita pun melihat rumah-rumah rakit, yang umumnya digunakan warga tempat berdagang BBM dan warung kebutuhan para pengguna transportasi air. Pada pagi dan sore hari, sebagian besar warga juga mandi dan mencuci di tepian Sungai Musi. Kita pun akan menyaksikan nelayan yang mencari ikan dengan cara menjaring, menjala, dan memancing.

Berbeda dengan kampung 14 Ulu, melihat perkampungan Kuto Batu di Palembang Ilir kita tidak banyak melihat aktivitas warga mandi dan mencuci di Sungai Musi. Kita hanya melihat Pelabuhan Boom Baru hingga pabrik PT. Pupuk Sriwidjaya.

Tampak Jembatan Musi VI yang saat ini dalam proses penyelesaian. Ditargetkan pada Asian Games 2018 ini sudah dapat digunakan. Terlihat juga dua perahu ketek, angkutan penumpang di Sungai Musi, yang masih bertahan. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia
Tampak Jembatan Musi VI yang saat ini dalam proses penyelesaian. Ditargetkan pada Asian Games 2018 ini sudah dapat digunakan. Terlihat juga dua perahu ketek, angkutan penumpang di Sungai Musi, yang masih bertahan. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

Lokasi pabrik ini dulunya Kuto Gawang, keraton Kerajaan Palembang. Keraton hancur digempur VOC pada abad ke-17 (1659), tapi selanjutnya tetap menjadi perkampungan yang padat. Tahun 1950-an, pemerintahan Soekarno membebaskan kampung ini, dijadikan lokasi pabrik pupuk terbesar di Asia, saat itu. Selama proses pembebasan dan pembangunan, diduga banyak ditemukan artefak sejarah terkait Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Palembang, termasuk ditemukannya Prasasti Telaga Batu yang menjelaskan struktur pemerintahan dan kaum profesional di masa Kerajaan Sriwijaya.

Sejak booming eksplorasi batubara di Sumatera Selatan, dimulai awal 2000-an, warga 14 Ulu maupun Kuto Batu, selalu menyaksikan kapal tongkang yang membawa batubara, baik tengah melaju atau berdiam di Sungai Musi. “Tongkang itu jelas mengganggu. Tempat mencari ikan lebih banyak ke tepi, sebab takut ditabrak tongkang batubara,” kata Mang Din, seorang nelayan ikan yang berada di sekitaran tepian Sungai Musi di 14 Ulu.

Kondisi tak jauh berbeda ketika kita melihat Palembang dari atas Jembatan Musi VI yang juga dalam proses penyelesaian. Hanya, perkampungan di Palembang Ulu dan Palembang Ilir warganya tetap menggunakan Sungai Musi sebagai tempat mencuci dan mandi. Rumah-rumah panggung tua masih dominan di sepanjang tepian Sungai Musi. Rumah-rumah rakit juga lebih banyak terlihat. Sejumlah nelayan pun masih menggunakan perahu ketek atau perahu bermesin mengantarkan warga dari seberang ulu ke ilir.

“Semoga perubahan atas pembangunan di Palembang tidak menghabiskan jejak peradaban bahari di sepanjang Sungai Musi. Pemerintah pusat maupun daerah wajib memperhatikan hal ini. Palembang bersama Sungai Musi merupakan saksi bangsa di Nusantara ini yang bersahabat dengan lingkungannya,” kata Yenrizal.

*Artikel ini adalah repost dari Mongabay.co.id dengan judul asli "Asian Games dan Jejak Kehidupan Bahari di Sungai Musi" 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu