Indonesia terkenal keberagamannya. Mulai dari bahasa hingga kebiasaan, Indonesia memiliki banyak ragam pada setiap daerahnya. Terbukti pada perayaan tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri atau yang biasa disebut lebaran, setiap daerah memiliki keunikannya sendiri untuk memperingati hari spesial tersebut.

Ini dia 3 tradisi dalam memperingati Hari Raya Idul Fitri di berbagai daerah di Indonesia.

  1. Bedulang

Bedulang adalah prosesi makan bersama dalam satu dulang yang terdiri dari empat orang duduk bersila dan saling berhadapan mengitari dulang berisi makanan yang disajikan dan dinikmati dengan tata cara dan etika tertentu. Makan bedulang biasanya dilakukan setelah bersilahturahmi dan bermaaf-maafan dengan sanak saudara. Dulang sendiri adalah sebuah nampan yang beralaskan serbet yang kemudian ditutup dengan tudung saji atau mentudong.

Makan bedulang memiliki arti filosofis yaitu menekankan konsep hubungan antar manusia dengan lingkungan alam sekitar yang sudah meyediakan kebutuhan manusia. Tradisi ini dapat kita temui di Pulau Belitung.

  1. Meugang

Tradisi ini berasal dari Aceh. Meugang sendiri dilakukan tiga kali pada setiap tahunnya, yaitu menjelang puasa, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha. Tradisi meugang merupakan tradisi berkumpulnya para warga di masjid untuk memasak daging dan menyantapnya bersama-sama.

Selain menyantap daging secara kolektif, daging juga biasanya dibagikan kepada sesame yang membutuhkan sebagai bentuk saling berbagi di bulan Ramadhan. Tradisi meugang sendiri dimulai sejak masa kepemimpinan Sultan Aceh terbesar yaitu Sultan Alaiddin Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636) di Kerajaan Aceh Darussalam.

  1. Festival Meriam Karbit

Tradisi ini dilakukan pada malam menjelang Idul Fitri atau biasa dikenal dengan malam takbiran. Tradisi yang berasal dari Pontianak ini sudah dilakukan oleh penduduk setempat selama 200 tahun lebih. Festival meriam karbit merupakan perayaan menyambut Lebaran yang dilakukan dengan cara menyalakan meriam-meriam besar. Meriam-meriam ini terbuat bambu dan diletakkan di pinggir Sungai Kapuas.

Pada zaman dahulu masyarakat setempat percaya bahwa menyalakan meriam ini dipercaya dapat mengusir hantu-hantu. Namun sekarang tradisi ini digunakan masyarakat untuk memeriahkan malam takbiran sekaligus menjadi nilai dongkrak wisata bagi daerah Pontianak. Festival ini juga telah masuk rekor MURI sebanyak 2 kali yaitu pada tahun 2007 dan 2009.


Sumber:liputan6.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu