Kaka Slank dan Pandu Laut Kumpulkan 8,81 Ton Sampah di Makassar

Kaka Slank dan Pandu Laut Kumpulkan 8,81 Ton Sampah di Makassar

Titik 0 Makassar © Sumber: Suara Pembaruan

Pemandangan di Pantai Losari, Makassar, Sulsel, sore itu berbeda dengan hari biasanya. Ribuan orang dari berbagai komunitas berkumpul dengan satu tujuan yang sama: Bersih-bersih laut Pantai. Di panggung, di atas geladak Perahu Pinisi, terlihat Kaka Slank menyemangati peserta yang begitu antusias mengikuti kegiatan ini.

Aksi Bersih Pantai ini merupakan program Pandu Laut Nusantara bertema “Menghadap laut”, yang dicetus oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti, dilaksanakan serentak pada 73 titik di seluruh Indonesia pada Minggu (19/8/2018), sekaligus memperingati HUT Proklamasi RI ke-73.

Sapril Akhmady, Direktur YMS, menjelaskan kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat dan menjadi kolaborasi terbesar membersihkan laut dan pantai yang pernah ada.

Kehadiran Kaka Slank sebagai dinamisator menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta. Dari atas geladak perahu Pinisi, ia menyanyikan lagu ‘Ku Tak Bisa’. Musisi dari Makassar Anton Daeng Tompo atau Om Bob juga menyanyikan lagu tema kegiatan ‘Ke Laut Aja, Ka Lautan Tonji’.

“Ini memang diminta langsung oleh Kaka agar ada theme song, yang kemudian dibuat oleh Om Bob.”

Kaka Slank meramaikan aksi bersih pantai “Menghadap Laut” dari gerakan Pandu Laut Nusantara di Pantai Losari Makassar, pada Minggu (19/8/2018). Kaka Slank sendiri termasuk pencetus gerakan ini di tingkat nasional. Foto : Sapril Akhmady/Yayasan Makassar Skalia/ Mongabay Indonesia
Kaka Slank meramaikan aksi bersih pantai “Menghadap Laut” dari gerakan Pandu Laut Nusantara di Pantai Losari Makassar, pada Minggu (19/8/2018). Kaka Slank sendiri termasuk pencetus gerakan ini di tingkat nasional | Foto: Sapril Akhmady/Yayasan Makassar Skalia/ Mongabay Indonesia

Jumlah peserta kegiatan ini melampaui ekspektasi panitia. YMS mencatat ada 1.528 peserta, terdiri dari personel dari Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BBKIPM) Makassar, Anggota Dirpolair Polda Sulsel, TNI AL, PIP Makassar, beberapa unsur Maritim se-Kota Makassar dan ormas, perusahaan, masyarakat, serta dari Yayasan Makassar Skalia (YMS), salah satu pelopor gerakan ini di Makassar.

Sekitar 250 orang mendaftar online, sisanya berasal dari berbagai komunitas dan instansi. Sedangkan Pangkalan Utama Angkatan Laut VI, mengerahkan 300 personil, termasuk unit Sea Raider, perahu karet serta sekoci. Polair sekitar 150 orang, dari Mars Indonesia juga mengikutkan puluhan orang associate-nya, dan lainnya.

Aksi bersih-bersih ini dilakukan di 4 zona. Zona 1, dari Masjid Apung hingga anjungan City of Makassar. Zona 2, dari anjungan City of Makassar hingga anjungan Toraja. Zona 3, dari anjungan Toraja hingga Makassar Golden Hotel (MGH) dan Zona 4, dibagi dalam dua zona. Zona 4A, dari Dermaga Kayu Bangkoang dan Zona 4B di Dermaga Sari laut depan Benteng Rotterdam.

“Dari 4 zona ini kemudian dihitung, menggunakan metode sampling berdasarkan jenis dan kuantitas sampah. Hasilnya, paling banyak terkumpul di Zona 4A. itu karena sampah dari laut juga naiknya ke situ. Aksi pembersihan ini kan dilakukan di laut dan pantai. Kalau laut sendiri menggunakan perahu-perahu dari Lantamal VI, Polair, Tangkasa dan Komunitas Nelayan Kayu Bangkoang. Mereka ambil sampah di laut lalu dikumpul di Kayu Bangkoang.”

Peserta aksi bersih pantai dari gerakan Pandu Laut Nusantara di Pantai Losari, Makassar, Sulsel berjumlah sekitar 1.528 orang dari 50-an komunitas dan masyarakat umum. Ini melampaui ekpektasi panitia. Foto: Wahyu Chandra/ Mongabay Indonesia
Peserta aksi bersih pantai dari gerakan Pandu Laut Nusantara di Pantai Losari, Makassar, Sulsel berjumlah sekitar 1.528 orang dari 50-an komunitas dan masyarakat umum. Ini melampaui ekpektasi panitia | Foto: Wahyu Chandra/ Mongabay Indonesia

Menurut data YMS sendiri diketahui total sampah yang terkumpul sebanyak 8,81 ton. Paling banyak di Zona 4 A Kayu Bangkoang sebanyak 4 ton. Di Zona 1 sebanyak 7,1 kg, Zona 2 sebanyak 19 kg dan Zona 3 sebanyak 55 kg.

Berdasarkan jenis sampah hasilnya adalah sampah plastik sebanyak 5,6 ton, sampah pecahan kaca sebanyak 117 kg, sampah logam 90 kg, sampah styrofoam 263 kg, dan sampah lainnya sebanyak 1,9 ton.

Menurut Sapril, sampah-sampah tersebut umumnya berasal dari sampah pengunjung pantai dan sampah kiriman laut, kanal-kanal dan sungai.

“Ada dari kanal Bongaya, dan dua kanal lainnya juga. Apalagi dengan adanya reklamasi yang mengganggu sirkulasi putaran air terganggu. Kita sudah koordinasi dengan Pemkot Makassar, bagaimana nantinya kanal Bongaya ini harus diluruskan dan dibersihkan agar sirkulasi lebih bagus. Cuma memang recovery laut itu akan butuh waktu. Pihak Lantamal VI juga komitmen untuk membersihkan di bagian hulu sungai yang merupakan penyumbang sampah terbanyak,” jelas Sapril.

Menurut Sapril, kolaborasi bersih laut dan pantai ini memberi harapan baru, karena adanya kekompakan dari berbagai pihak terlibat. Selama ini gerakan bersih pantai dilakukan sendiri-sendiri.

“Saya baru merasakan ada kekompakan selama ini jalan sendiri-sendiri, ada sekitar 50-an komunitas bergabung, termasuk dari asosiasi profesi. Ini cukup melegakan. Nantinya akan ada aksi lanjutan di titik-titik lain. Lantamal VI misalnya berjanji akan menjadi tuan rumah gerakan ini di daerah Utara kota yang memang kondisinya padat penduduk. Ini semangatnya luar biasa.”

Total sampah yang dikumpulkan dari aksi bersih pantai dan laut sekitar 8,81 ton, didominasi oleh sampah plastik 5,6 ton, sampah pecahan kaca sebanyak 117 kg, sampah logam 90 kg, sampah styrofoam 263 kg, dan sampah lainnya sebanyak 1,9 ton. Foto: Sapril Akhmady/Yayasan Makassar Skalia/ Mongabay Indonesia
Total sampah yang dikumpulkan dari aksi bersih pantai dan laut sekitar 8,81 ton, didominasi oleh sampah plastik 5,6 ton, sampah pecahan kaca sebanyak 117 kg, sampah logam 90 kg, sampah styrofoam 263 kg, dan sampah lainnya sebanyak 1,9 ton | Foto: Sapril Akhmady/Yayasan Makassar Skalia/ Mongabay Indonesia

Sitti Chadidjah, Kepala BBKIPM Makassar, berharap dengan adanya kegiatan ini masyarakat dapat menyadari pentingnya tidak mengotori laut dan lingkungannya, misalnya dengan membuang sampah plastik di laut.

“Semoga ini bisa memberi kesadaran baru kepada masyarakat dan pihak mana pun agar tidak membuang sampah dan mengotori laut,” katanya.

Menurut Sapril, keberadaan sampah di laut, khususnya sampah plastik, memang sangat terasa dampaknya. Apalagi ketika musim Barat di mana terjadi gelombang besar yang ‘mengaduk’ dasar laut. Sampah-sampah dari dasar kemudian menyebar ke mana-mana termakan ikan dan penyu. Dampaknya akan dirasakan manusia yang mengonsumsi ikan tersebut.

“Dampaknya sangat terasa bagi kesehatan. Kemarin ada riset dari Unhas dan UI yang menemukan bahwa kandungan perut ikan di Indonesia sudah terkontaminasi dengan mikroplastik. ini dampaknya bagi manusia bisa menyebabkan anak-anak menjadi stunting, sulit bertumbuh.”

Menurut Sapril, di Sulsel, selain di Makassar, pelaksanaan kegiatan Pandu Laut ini juga diselenggarakan di sejumlah titik. Antara lain di Kurri Caddi, Kabupaten Maros, di Kabupaten Selayar dan Barru. Bahkan ada juga kegiatan dilakukan di pulau-pulau berupa penyelaman, mengumpulkan sampah-sampah dari dasar laut.

“Kita masih catat, di Sulsel ini jumlah titik lokasi lebih dari rencana awal. Kalau secara nasional sendiri targetnya di 73 titik, namun kemudian bertambah menjadi 89 titik, termasuk di pulau-pulau.”

Acara Gerakan Bersih Pantai & Laut (GBPL) di Pantai Kuri Indah, Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Marusu, Maros, Sulsel, Minggu (19/8/2018) yang diadakan BPSPL Makassar bersama stakeholder terkait. Acara ini bersamaan dilakukan oleh Pandu Laut Nusantara dan KKP di 73 pesisir di seluruh Indonesia. Foto : BPSPL Makassar/Mongabay Indonesia
Acara Gerakan Bersih Pantai & Laut (GBPL) di Pantai Kuri Indah, Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Marusu, Maros, Sulsel, Minggu (19/8/2018) yang diadakan BPSPL Makassar bersama stakeholder terkait. Acara ini bersamaan dilakukan oleh Pandu Laut Nusantara dan KKP di 73 pesisir di seluruh Indonesia | Foto: BPSPL Makassar/Mongabay Indonesia

Gerakan Terbesar

Di tempat terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebagai pembina gerakan Pandu Laut Nusantara mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas penyelenggaraan aksi bersih laut “Menghadap Laut” di 73 lokasi di seluruh Indonesia.

“Menghadap laut ini, bukan hanya di 73 titik saja, tapi juga banyak di titik lainnya. Saya sebagai Pembina daripada Pandu Laut Nusantara mengucapkan apresiasi dan terimakasih sebesarnya kepada partisipan dan semua organisasi yang mencintai dan merawat laut,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Susi mengklaim gerakan “Menghadap Laut” ini merupakan kepedulian terbesar terhadap laut karena melibatkan hingga 20.000 orang secara sukarela untuk membersihkan laut dan pesisir pantai.

Susi sendiri mengikuti aksi ini di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung, Sulawesi Utara, bersama Ketua Umum Pandu Laut Nusantara Bustar Maitra, dan Ridho Slank.

Dari kegiatan tersebut berhasil dikumpulkan sekitar 1.143,7 kg sampah dengan rincian 45,2 kg sampah karet; 138,58 kg sampah plastik; 144,17 kg tali jaring/tambang; dan 815,75 kg sampah campuran.

Di Jakarta, Aksi “Menghadap Laut” dilakukan di Ancol Timur pada Minggu (19/8), diikuti sekitar 650 peserta dari berbagai pihak baik pemerintah, LSM, komunitas dan masyarakat. Turut hadir beberapa publik figur seperti Monita Tahalea, Bayu Risa, Prita Laura, dan Isabel Yahya.  Dalam waktu 2 jam, peserta berhasil membersihkan sepanjang kurang lebih 1 km pantai dan mengumpulkan 2,86 ton sampah. Umumnya sampah yang dikumpulkan berasal dari arus laut seperti bekas tali jangkar, baju lapuk, plastik kemasan dan sedotan, kaleng/beling, sampah lainnya.  Untuk mengurangi sampah plastik, Susi menghimbau seluruh pemerintah daerah, agar membuat Perda terkait penggunaan sampah plastik. Beberapa wilayah yakni Banjarmasin dan Balikpapan sudah mengeluarkan perda terkait penggunaan kantong plastik.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membagikan google pada anak-anak dalam acara “Menghadap Laut’ di Dermaga Pelelangan Ikan Bitung, Sulut, Minggu (19/8/2018) | Foto: Themmy Doaly/Mongabay Indonesia

Di Jakarta, Aksi “Menghadap Laut” dilakukan di Ancol Timur pada Minggu (19/8), diikuti sekitar 650 peserta dari berbagai pihak baik pemerintah, LSM, komunitas dan masyarakat. Turut hadir beberapa publik figur seperti Monita Tahalea, Bayu Risa, Prita Laura, dan Isabel Yahya.

Dalam waktu 2 jam, peserta berhasil membersihkan sepanjang kurang lebih 1 km pantai dan mengumpulkan 2,86 ton sampah. Umumnya sampah yang dikumpulkan berasal dari arus laut seperti bekas tali jangkar, baju lapuk, plastik kemasan dan sedotan, kaleng/beling, sampah lainnya.

Untuk mengurangi sampah plastik, Susi menghimbau seluruh pemerintah daerah, agar membuat Perda terkait penggunaan sampah plastik. Beberapa wilayah yakni Banjarmasin dan Balikpapan sudah mengeluarkan perda terkait penggunaan kantong plastik.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Di Daerah Ini, Sebelum Disembelih Kambingnya Digendong Berkeliling Desa Sebelummnya

Di Daerah Ini, Sebelum Disembelih Kambingnya Digendong Berkeliling Desa

Mercusuar Yang Ada Sejak 1806 Selanjutnya

Mercusuar Yang Ada Sejak 1806

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.