Sepenting apa sih sportifitas itu?

Sepenting apa sih sportifitas itu?
info gambar utama

Menjadi lebih baik adalah impian setiap manusia. Berlatih setiap hari adalah kunci menuju kesuksesan. Meraih bintang diakhir akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi diri kita. Indonesia sekali lagi menjadi tuan rumah Asian Games 2018 setelah berhasil menjadi tuan rumah pada tahun 1962. Berbagai macam lomba diadukan demi meraih satu juara sejati bagi benua tersbesar di dunia ini.

Dibuka pada 18 Agustus 2018, acara ini cukup sukses karena dimeriahkan oleh atlit-atlit dari negara peserta. Hal yang baru juga kita temukan pada saat pawai dari atlit negara Korea, bagaimana tidak, pada acara pembukaan kemarin Korea Utara dan Korea Selatan dipadukan menjadi satu negara, dan itu juga sekaligus mempererat hubungan antar kedua negara tersebut yang pada tahun ini resmi bersatu.

Disamping itu, aksi yang tidak kalah memukau adalah kedatangan presiden Indonesia menggunakan motor sport menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU-GBK). Tidak hanya masyarakatnya sendiri yang terpukau, bahkan banyak masyarakat dari negara sahabat ikut terpesona dengan aksi yang diberikan. Selain itu ada pula tarian Ratoh Jaroe dari Aceh yang disajikan dengan kompak, menunjukan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kompak.

Terlepas dari pembukaan yang meriah, setiap atlit dari berbagai negara mulai menunjukan kemampuan yang dimilikinya. Melalui perolehan emas, perak dan perunggu mereka mulai membuktikan bahwa mereka layak untuk mendapatkannya. Dengan perpaduan skill yang mereka miliki serta menjunjung tinggi nilai sportifitas, diharapkan mereka mampu untuk mendapatkan hasil yang terbaik setiap harinya.

Berbicara mengenai sportifitas ada beberapa hal unik yang dapat kita lihat pada setiap cabang olahraga. Tidak hanya di Asiang Games kali ini, pada saat Piala Dunia kemarin pun beberapa negara dapat dengan ‘maksimal’ menunjukan sportifitasnya. Mulai dari sportifitas di atas lapangan juga sportifitas diluar lapangan. Contohnya negara Jepang, tetangga satu benua ini menunjukan sportifitas tidak hanya di dalam lapangan, mereka juga menunjukannya saat di ruang ganti setelah kalah melawan Belgia di babak penyisihan 16 besar. Dengan membersihkan ruang ganti pemain, serta tidak lupa berterima kasih kepada tuan rumah, Rusia yang telah memberikan segala fasilitas bagi pemain serta jajaran staff nya.

Jepang menulis

Selanjutnya apakah kedepannya Indonesia bisa menjadi se-sportif Jepang? Ataukah bisa lebih baik lagi?. Jawabannya adalah YA!, mengapa? Karena Indonesia sendiri sudah menanamkannya pada atlit-atlit muda kita yang sudah memulai karier di kancah nasional. Tidak lupa pelatihan diri juga sudah mulai diterapkan oleh para pelatih-pelatih kita. Cara mudah mengetahuinya adalah dimana ada suatu perlombaan apakah atlit kita sudah bisa menjaga emosinya atau belum, jikalau mereka belum bisa menjaga emosinya sendiri, sportifitas itu akan sulit untuk dilakukan.

Lantas mengapa kita masih sering melihat di berita-berita bahwa ada beberapa penggemar olahraga yang masih menunjukan ‘kekuatan’ dengan cara yang negatif?. Hal itu disebabkan oleh dua faktor yaitu, internal dan eksternal. Penyebab internal adalah penyebab yang munculnya dari diri kita sendiri, misalnya kita tidak bisa menerima kekalahan maka kita akan protes dengan keras kepada wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Kita bisa ambil contoh dari liga 1 di Indonesia sendiri, sebagai penggemar mungkin memang kesal jika tim kesayangan kita tidak meraih hasil yang bagus dalam suatu pertandingan, namun hal itu harus ditahan agar tim, manajemen, serta grup dari pendukung tidak mencoreng nama baik dari sebuah tim itu sendiri.

Kericuhan pada saat pertandingan sepak bola

Untuk faktor eksternal itu sendiri bisa berasal dari teman satu penggemar ataupun musuh. Biasanya yang menjadi pemantik utama dari sebuah perselisihan adalah yang terdekat itu sendiri, ya teman. Mengapa saya katakan teman? Kita lihat bahwa di televisi sekalipun seringkali pihak lawan memprovokasi namun masih bisa diredam, tetapi bila teman kita yang memanas-manasi kita pasti akan ikut larut kedalam suatu keributan itu sendiri, meskipun kita tidak tahu penyebabnya atau bisa dibilang ikut-ikutan. Karena kita juga bisa mengetahui bahwa hasutan teman lebih berbahaya dari pada pancingan dari musuh, sejatinya pancingan dari musuh dapat kita redam, namun hasutan teman sendiri pasti kita terima.

Sejatinya kita mungkin tidak bisa memaksakan sportifitas yang kita miliki, terlebih jika kita berhadapan dengan sesuatu yang mungkin belum mengenal diri kita. Namun, hal itu dapat diakali dengan cara yang mudah agar sportifitas tetap berjalan dengan baik dan tanpa hambatan. Mudahnya adalah dengan cara membenahi diri kita sendiri agar tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal ringan yang dapat memicu perdebatan. Terlebih lagi negara kita tercinta ini sedang memasuki tahun yang sensitif, dimana ada gesekan sedikit maka api akan mudah sekali timbul.

Jadi pentingkah sportifitas itu? Bukan saya ataupun opini saya diatas yang menentukan, tetapi diri kita masing-masing. Masihkah kita mau menjunjung tinggi sportifitas?

Sumber :

https://www.independent.co.uk/sport/football/world-cup/world-cup-2018-japan-fans-vs-belgium-clean-up-stadium-team-changing-room-thank-you-note-a8428666.html

https://bola.kompas.com/read/2018/04/16/01200058/laga-arema-fc-vs-persib-ricuh-suporter-turun-penuhi-lapangan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini