Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keterbatasan dalam hal aksesibilitas. Itu sebabnya berbagai teknologi berbasis satelit seperti untuk keperluan pencitraan dan penginderaan jauh banyak dibuat. Berkat kebutuhan ini kemudian banyak lahir peneliti-peneliti handal dalam bidang tersebut, salah satunya adalah ahli radar dan pesawat nirawak Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. 

Josaphat merupakan peneliti radar, pesawat nirawak dan teknologi satelit asal Bandung yang kini menjadi professor teknologi penginderaan jarak jauh (remote sensing) di Universitas Chiba, Jepang. Berbagai karyanya telah dipatenkan dan banyak digunakan di berbagai teknologi satelit. Tidak heran bila kemudian dirinya mendapatkan berbagai penghargaan baik dari Indonesia maupun dari Jepang dan dunia internasional. 

Menariknya, meski Joshapat telah banyak meraih banyak penghargaan, dirinya masih memiliki perhatian khusus pada Indonesia. Berbagai cara dilakukan untuk berkontribusi pada Tanah Airnya. Seperti dengan mendirikan Yayasan Pandhito Panji Foundation yang didedikasikan berdasarkan nama putranya, Pandhito Panji Herdento. 

Yayasan ini merupakan sebuah yayasan yang fokus pada penelitian ilmiah dalam empat bidang utama. Yakni penginderaan jarak jauh, telekomunikasi, seni rupa dan pendidikan. Yayasan ini pun beroperasi di Bandung sehingga seluruh manfaatnya bisa dirasakan untuk bangsa Indonesia. 

Dedikasi Joshapat pada Tanah Air tidak lepas dari latar belakangnya yang lahir dari keluarga TNI. Pria yang akrab disapa Josh itu lahir dari seorang ayah yang merupakan anggota TNI Angkatan Udara. Interaksinya dengan dunia militer dan aviasi membuatnya tertarik dengan teknologi radar dan pesawat nirawak. 

Diceritakan bahwa pada saat Josh masih berusia empat tahun, dirinya diajak sang ayah yang seorang anggota Pasukan Gerak Cepat TNI AU yang kini dikenal sebagai Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI Angkatan Udara untuk melihat-lihat alat-alat militer milik TNI AU. Josh yang melihat berbagai macam teknologi akhirnya sangat tertarik dengan teknologi radar. 

"Radar itu buatannya siapa? Buatan orang Indonesia, ya?" tanya Josh kecil kala itu. 

Sayangnya, kala itu Indonesia masih belum mampu untuk menciptakan teknologi radar sendiri. Josh pun akhirnya kecewa. "Padahal saya bangga kalau itu buatan orang Indonesia," ungkapnya seperti dikutip dari National Geographic Indonesia.

Uniknya Josh sendiri ternyata sempat terancam untuk gagal dalam dunia pendidikan akibat saat di bangku sekolah dasar dirinya terancam dikeluarkan dari sekolah. Penyebabnya adalah karena nilainya yang begitu jelek. 

Kala berusia 5 tahun, Josh kecil sempat pindah ke komplek Lanud Panasan Solo mengikuti dinas ayahnya. Di sanalah Josh mengenyam pendidikan SD hingga SMA. Josh yang tinggal di asrama pun terkenal bandel karena dirinya kerap kali berkelahi. Nilai sekolahnya pun jelek karena saat itu dirinya belum bisa membaca dan menulis meski sudah berada di bangku kelas 3 SD. Ibunya pun dipanggil pihak sekolah untuk mencari sekolah lain baginya. Josh terkejut saat mendapati ibunya menangis karena dirinya. 

"Sejak itulah saya bangkit dan belajar keras. Dari semula ranking ke-23, akhirnya berbalik menjadi ranking 1. Begitu selanjutnya saat  di SMA," ujar alumnus SMA Negeri I Surakarta itu seperti dikutip dari BeritaTrans

Hingga kemudian dirinya berhasil mendapatkan beasiswa ke Jepang usai mengenyam pendidikan sekolah menengah atas. Hanya saja kala itu, kesempatannya untuk belajar ilmu aeronautika tidak tercapai karena dia hanya bisa berkuliah di bidang elektronika di Kanazawa University. 

Namun minatnya pada teknologi penerbangan tidak surut. Mempelajari elektronika mungkin bisa dikatakan menjadi jalan tersendiri bagi Josh karena nyatanya dirinya masih bisa mempelajari teknologi radar bahkan dengan ilmu elektronika yang dia miliki dia bisa membuat teknologi radar sendiri. 

Hal tersebut diwujudkan saat mengenyam pendidikan tingkat doktoral, kala itu Josh meneliti tentang Synthetic Apperture Radar (SAR) yang akhirnya hingga kini menjadi salah teknologi unggulan yang dimilikinya. 

Drone buatan Josaphat dan tim (Foto: dok. Josaphat)
Drone buatan Josaphat dan tim (Foto: dok. Josaphat)

Karir dunia di akademisi Josh pun tidak kalah mentereng. Josh yang sejak berada di Jepang mengandalkan hidup dari beasiswa sangat aktif untuk menulis karya ilmiah. Hingga usia 25 dirinya telah mampu menghasilkan sebanyak 16 karya ilmiah yang diakui internasional. Jumlah tersebut tentu saja jauh lebih banyak dari jumlah yang disyaratkan untuk seorang pengajar di perguruan tinggi. 

"Saya tidak menyangka rekrutmen staf pengajar di Jepang dinilai dari jumlah paper yang dibuat. Saya langsung diangkat menjadi dosen, tanpa melalui tingkat asisten dulu," tuturnya.

Kegilaannya pada dunia pendidikan kemudian membuatnya dijuluki oleh seorang guru besar dari University of Illinois, Prof. em. Wolfgang-Marting Boerner sebagai seorang "academy of octopus". Julukan disematkan karena Josh begitu haus dan menggurita jika sudah terkait dengan ilmu dan pendidikan. 

Hasilnya, pada 1 April 2013, Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University. Dirinya telah berhasil berbagai macam teknologi seperti radar, satelit dan pesawat nirawak dan mengepalai sebuah laboratorium di Jepang bernama Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL). Di sanalah ia melakukan rekayasa dan riset radar, satelit serta pesawat nirawak dan mendapatkan banyak paten. Berdasarkan situs JMRSL telah terdapat 9 paten dan puluhan paten lainnya. 

Prestasinya yang begitu gemilang kemudian ingin ia tularkan pada anak-anak Indonesia. Dirinya sedih jika mengetahui anak-anak Indonesia tidak memiliki semangat untuk berprestasi. "Hal yang begitu menyedihkan ketika masih mendapati mata pemuda yang terlihat lesu, tatapannya kosong, seakan banyak masalah yang mesti dipikirkannya. Sempatkah mereka berfikir untuk dunia," keluhnya. 

Melalui yayasan yang ia dirikan itulah kemudian diharapkan agar anak-anak bangsa bisa turut mencapai apa yang Josh pernah capai. Caranya adalah dengan memberikan beasiswa bagi anak-anak berprestasi sedari bangku sekolah daras hingga master. Dana yayasan ini sebagian besar berasal dari uangnya pribadi. Tujuannya adalah agar orang Indonesia lebih maju. 

"Ini kesempatan saya memberikan banyak manfaat bagi anak-anak Indonesia untuk belajar di luar. Mudah-mudahan dalam 5-10 tahun ke depan, agen-agen saya ini bisa memperbaiki Indonesia. Saya kira bisa. Mungkin suatu saat juga ada pengganti saya," harap Josh.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu