Mbah Kasmo . . .

Mbah Kasmo . . .
info gambar utama

Malam tadi, entah mengapa saya bermimpi tentang sosok yang begitu penting dalam masa kecil saya. Namanya Mbak Kasmo, nenek yang mengasuh saya waktu kecil dulu. Waktu beliau meninggal 3 thaun lalu, saya tak sempat pulang ke Jogja, kampung halaman saya. Umurnya memang sudah udzur, mungkin di atas 90 tahun, dan beliau sejak 5 hari sebelumnya memang sudah sakit, tidak kerso makan dan minum.

Saya ingat, meninggalnya beliau memang sudah saya duga, meski memang tetap saja membuat saya begitu terpukul. Hampir 6 tahun saya diasuh oleh beliau, dari kecil hingga SD kelas 2. Tinggal di sebuah kampung terpencil di utara Yogyakarta, hijau, subur, dingin, dengan sungai-sungai berbatu yang berair jernih.

Mbah Kasmo adalah simpul besar memori masa kecil saya. Beliau yang tidak bisa baca tulis, tak bisa berbahasa Indonesia, dan tak pernah pergi jauh dari kampung halamannya, selalu mengajarkan pada saya, dan semua orang yang mengenalnya, akan bagaimana mencintai alam dan lingkungan sekitar, arti kerja keras tanpa lelah, dan arti welas asih terhadap sesama.

Dari beliau yang tak bisa baca tulis, saya diajari menggambar sapi, atau pohon kelapa, atau apa saja. Konon, hingga kini, coretan2 saya di kursi, atau meja, atau pintu-pintu rumah mbah Kasmo, masih ada. Dan dari beliaulah saya belajar percaya diri akan tindakan saya.

Saya masih ingat sekali, mungkin saya berumur 3 atau 4 tahun, mbah Kasmo memasukkan saya dalam tenggok, semacam keranjang anyaman dari bambu yang biasanya digendong oleh kaum wanita untuk membawa macam-macam barang, dan menggendongnya sambil berjalan berkilo-kilo. Saya masih ingat, saya tidak tidur sepanjang perjalanan yang memakan waktu beberapa jam itu.

Tenggok | tembi.net
info gambar

Entah bagaimana, mbah Kasmo yang bertelanjang kaki, dan waktu itupun tak lagi muda, mampu berjalan sejauh itu , melewati jalan berkerikil, hanya untuk mengirimkan makanan kepada suaminya yang bekerja di ladang, dan membantunya menanam benih kacang. Mbah Kasmo adalah generasi wanita-wanita Jawa yang perlahan mulai hilang. Wanita-wanita super tangguh, wanita-wanita yang jarang sekali mengeluh, tak pernah terlihat lelah. Mereka-mereka yang jarang sekali sakit, mereka yang makan hanya sedikit, mereka yang selalu menghindari konflik. Makin jarang kita menemukan orang-orang masa sekarang yang memiliki sikap dan karakter seperti generasi-generasi sebelum kita itu.

Sambil menulis ini, pagi ini di Surabaya, saya tak bisa lagi menahan airmata, mohon doa dari para pembaca semua, agar arwah mbah Kasmo damai di sisi Allah.

Amien

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini