Semangat Juang dan Rela Berkorban Masyarakat Indonesia untuk Asian Games 2018

Semangat Juang dan Rela Berkorban Masyarakat Indonesia untuk Asian Games 2018
info gambar utama

Pernah terjebak penutupan jalan di sekitar kompleks Senayan dan Gelora Bung Karno (GBK) akibat rangkaian seremonial Asian Games 2018 dan harus berjalan untuk mencapai titik tujuan?

Pernah terjebak kemacetan akibat penutupan dan pengalihan jalan ke jalur alternatif di ruas-ruas jalan ibu kota akibat rangkaian kirab obor dan imbas rangkaian kegiatan Asian Games 2018 lainnya?

Pernah ikut mengantri lama untuk memesan tiket pertandingan suatu cabang olahraga karena pemesanan tiket daring sudah ditutup, namun di tengah mengantri tiba-tiba tiket dikabarkan habis terjual?

Pernah datang pagi sekali untuk mengantri di toko merchandise Asian Games 2018 namun begitu tiba, ternyata antrian sudah mulai panjang dan harus menunggu kloter selanjutnya untuk masuk ke toko?

Pernah merasa jadwal siaran televisi favorit direschedule karena penayangan siaran langsung cabang olahraga Asian Games 2018?

Begitulah gambaran suasana dan animo masyarakat akan penyelenggaraan Asian Games 2018 yang dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Semua ikut memeriahkan dan meramaikan. Mumpung diadakan di negara sendiri, alasannya. Terlebih ini merupakan pesta Asia, pesta bersama, bukan hanya untuk kalangan tertentu.

Apalagi setelah menyadari bahwa Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games pada 56 tahun yang lalu. Tentu masyarakat tidak ingin menunggu selama itu sampai Asian Games 2018 kembali diadakan di Indonesia untuk mendukung atlit-atlitnya secara langsung ketika berlaga.

“saya berterima kasih kepada masyarakat, mereka semua ingin melihat secara langsung opening ceremony, padahal tidak semua tempat duduk bisa digunakan untuk publik, hanya 40 ribu dari 78 ribu”, jelas Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, saat ditemui di kantornya di kawasan Senayan.

Diadakannya Asian Games ini, selain menambah motivasi untuk berolahraga dan berprestasi, juga baiknya dimanfaatkan untuk melatih kesehatan jiwa. Misalnya ketika menghadapi persoalan-persoalan di atas, mari disiasati dengan tenang dan positif. Mari berpikir bahwa memang sudah sewajarnya acara terbesar se-Asia ini dipadati pengunjung dan berdampak ke beberapa sektor di luar lapangan.

“tidak masalah (merasakan macet dan lainnya), toh tidak setiap minggu, kan. Juga tidak tiap bulan. Ini 56 tahun sekali. Tentu saya sangat berterima kasih kepada masyarakat yang rela berkorban, sabar, mau antri”, tambahnya.

Event empat tahunan yang dihadiri oleh banyak tamu negara dari negara-negara Asia tersebut juga membuat kita lebih mawas diri dalam menjaga perilaku kita selaku tuan rumah. Banyak sekali hal-hal kecil dan sederhana yang dapat kita lakukan secara langsung terkait hal ini.

Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan dan senantiasa menghargai para staf dan kru yang bekerja tak kenal lelah sepanjang hari, baik petugas akomodasi, transportasi, keamanan mau pun kebersihan.

Budaya Indonesia yang ramah dan senang menyapa dapat sekali diaplikasikan dan menjadi histori tersendiri bagi para tamu negara dan wisatawan luar. Kesehatan jiwa melalui penyebaran energi positif tersebut juga menjadi keuntungan bagi masyarakat.

Kegiatan sukarelawan juga telah diinisiasikan oleh beberapa lembaga masyarakat, salah satunya adalah Indorelawan yang menginisiasi gerakan #KontingenKebaikan bersama dengan AQUA. Bagi yang ingin berpartisipasi untuk Asian Games 2018 secara langsung, kegiatan ini bisa menjadi pilihan.

Gerakan tersebut mengajak masyarakat untuk turut menjaga kebersihan lingkungan arena lomba dengan jadwal yang sangat fleksibel. Gerakan ini juga dipusatkan di GBK dan JIExpo Kemayoran. Tidak hanya meringankan beban para petugas kebersihan, juga sembari mengedukasi masyarakat mengenai pembagian jenis sampah dan pengolahannya.

Pelaku usaha dan pihak berwenang juga baiknya mengondisikan ajang empat tahunan ini sebagai fokus utama mereka. Misalnya dengan beberapa keluhan sulitnya masyarakat Indonesia Timur dan pedalaman mengakses siaran langsung perhelatan akbar tersebut. Antena biasa tidak dapat menjangkau, dan siaran acak pada antena parabola.

“memang sudah ada kontrak resmi antara Emtek, INASGOC dan OCA terkait parabola yang tidak dapat menayangkan siaran langsung. Namun melalui surat resmi bersama dengan Menkominfo, saya sudah mengajukan kepada OCA agar membuka seluas-luasnya siaran dan publikasi acara ke seluruh penjuru Indonesia, minimal saat Indonesia bertanding agar tidak ada pengacakan siaran”, jelas Imam Nahrawi.

Pun dimasukannya cabang olahraga baru seperti Pencak silat dan kartu bridge yang sangat sarat akan nilai non-fisik, yaitu religius dan kognitif, menjadi simbol promosi bahwa olahraga bukan hanya sekedar lapangan dan gerakan-gerakan ragawi tetapi juga pemaknaan dan penjiwaan, yang diharapkan juga disadari oleh masyarakat sebagai penonton.

Selain itu, menurut Imam Nahrawi, penyelenggaraan ajang kompetisi olahraga multicabang ini dapat menjadi spirit baru bagi segenap masyarakat Indonesia, untuk terus membumikan budaya Indonesia yang ramah dan gotong royong. Spirit ini harus tetap dijaga pasca Asian Games sekali pun.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini