**Ditulis oleh M.F. Mukthi untuk Historia.id...

Selain sebagai produsen beras, Tangerang merupakan wilayah industri kerajinan seperti genteng dan tembikar. “Yang terpenting, ada beberapa gubuk industri, terutama memproduksi tekstil dan topi,” lanjut Margreet van Till dalam Banditry in West Java: 1869-1942.

Topi anyaman Tangerang, baik yang berbahan bambu maupun pandan, amat populer di dunia internasional sebagai bagian dari jenis topi Panama. Saking populernya, topi Tangerang sampai dijadikan lambang kabupaten. “Topi Tangerang adalah barang ekspor yang cukup signifikan,” ujar Margreet.

“Produksi topi di Hindia Belanda terpusat di dua wilayah Jawa. Distrik utama berada di sekitar Tangerang. Ketika harga menguntungkan dan tanaman padi sedang tak butuh perhatian, 200 ribu hingga 300 ribu lelaki, perempuan, dan anak-anak terlibat dalam mendapatkan dan menyiapkan serat pandan dan bambu dan merajutnya menjadi topi,” tulis konsulat perdagangan di Biro Perdagangan Luar Negeri dan Domestik dalam laporannya tanggal 31 Maret 1931, termuat dalam Commerce Reports Vol. 1.

Industri topi di Tangerang berawal dari abad ke-19. “Seni pembuatan topi dari bambu diperkenalkan ke Jawa oleh seorang Cina yang datang dari Manila sekitar setengah abad lalu,” tulis Arnold Wright dalam laporan pandangan mata berjudul Twentieth Century Impressions of Netherlands India: Its History, People, Commerce, Industries, and Resources.

Menurut laporan yang terbit pada 1909 itu, produksi topi berlangsung di rumah-rumah penduduk dan melibatkan seluruh anggota keluarga. “Beberapa anak kecil, hanya berusia lima tahun, turut mengerjakan pekerjaan tersebut.”

Sejumlah ibu rumahtangga di Tangaerang sedang mengayam topi, komoditas ekspor andalan Hindia Belanda awal abad ke-20/Foto: KITLV
Sejumlah ibu rumah tangga di Tangerang sedang mengayam topi, komoditas ekspor andalan Hindia Belanda awal abad ke-20 | Foto: KITLV

Butuh waktu lama untuk membuat sebuah topi. “Seorang perempuan bisa menyelesaikan sebuah topi dengan kualitas layak, yang di pasaran bernilai 12 hingga 15 sen, dalam dua hari. Banyak topi memerlukan seminggu upaya pengerjaan tetap sebelum diselesaikan, sementara topi kualitas lebih baik terkadang perlu waktu dua hingga tiga bulan untuk menyelesaikannya,” tulis Wright.

“Metode yang digunakan di Tangerang sangat berbeda dari yang digunakan di Eropa. Metode Tangerang dimulai dengan pembuatan mahkota (bagian atas) yang pembuatannya sangat sulit dan membutuhkan keterampilan dan kesabaran tinggi, biasanya dipercayakan kepada penenun tertua dan paling berpengalaman,” tulis buku The Netherlands Indies Vol. 3.

Proses produksi itu dipertunjukkan dan mendapat sambutan hangat di Exposition Universelle, Paris tahun 1889 dan Brussels International Exhebition tahun 1910. Di Paris, kontingen Hindia Belanda menampilkan “Kampung Jawa”, terdiri dari tiga gubuk Jawa berikut kehidupan keseharian di sekitar rumah-rumah itu.

Foto. Groepsportret met gevlochten hoeden, Tjikoepa (between 1920 and 1935)
Foto: Groepsportret met gevlochten hoeden, Tjikoepa (antara 1920 dan 1935)

“Gubuk pertama ditempati oleh penganyam topi dan keluarganya. Tak jauh dari sana, tukang topi lainya membuat topi lain yang anyamannya tak kalah bagus, dengan jerami yang dipotong pipih memanjang. Seperti topi terkenal 'Panama' yang dianyam dengan kulit kaya Quillaja Peru, topi jerami dari Jawa yang mutu serta orisinalitasnya sama banyak digemari nyonya-nyonya Eropa,” tulis buku yang dieditori Bernard Dorleans, Orang Indonesia dan Orang Prancis Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX.

Populer

Banyaknya topi berkualitas dengan harga miring di Tangerang menjadi surga bagi para pelancong Eropa, terutama asal Prancis, yang berkunjung ke Batavia. “Para perwira dan awak kapal uap Prancis membelinya dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga dua kali lipat. Banyak topi itu dibeli seharga dua gulden 50 sen di Batavia dan dijual seharga 12 franc di Marseilles, dijual kembali di Bordeaux seharga 30 franc, dan sekali lagi di Paris untuk harga 80 franc,” tulis Wright.

Hal seperti itu pula yang dilakukan Petit Jan, pelancong-pebisnis asal Prancis. “Para pembeli besar ini pada gilirannya memberikan pinjaman kepada orang-orang yang berkeliling desa untuk membeli langsung kepada penduduk,” tulis The Netherlands Indies, Vol. 3. Saking besarnya jumlah topi yang diperdagangkan Jan, orang-orang sampai menamakan topi Tangerang dengan Topi Petit Jan. “Jan tidak tahu pasti setiap tahun berapa juta topi dikirim ke Paris. Langsung dilempar ke pasaran. Mungkin saja topi ‘Panama’ yang dibeli orang Belanda sebenarnya berasal dari Tangerang,” tulis HCC Clockener Brousson dalam Batavia Awal Abad 20.

Para perempuan perajin topi anyaman bambu di Tangerang tempo dulu.Foto/Istimewa/KITLV
Para perempuan perajin topi anyaman bambu di Tangerang tempo dulu | Foto: Istimewa/KITLV

Besarnya laba dari bisnis topi Tangerang membuat banyak perusahaan Eropa memilih terjun langsung ke Hindia ketimbang melulu membeli di Prancis. Olivier, Muller & Co., berkantor pusat di Paris, sampai membuka kantor cabang di Batavia dan Tangerang pada 1901.  

Dari Prancis, topi-topi Tangerang menyebar ke berbagai tempat lain di Eropa hingga Amerika. Di Inggris, menurut John G. Dony dalam A History of the Straw Hat Industry, “Topi-topi Jawa yang datang melalui Prancis sudah ditenun dan perlu dipetikan dan dirawat setelah mereka tiba.” 

Amerika menjadi pemain penting yang meningkatkan popularitas topi Tangerang. Di Saint Louis, topi-topi itu dipercantik sehingga ikut menentukan jalannya industri fesyen. “Bentuk topi-topi buatan tangan diimpor dalam bentuk setengah jadi dari Meksiko, Jawa, dan Jepang,” tulis Majalah Hearings, Vol. 5. Setelah selesai, topi-topi itu dijual dengan harga tinggi. Para aktor dan aktris yang memakainya ikut mendongkrak popularitas topi tersebut. “Di banyak negara lain, Roy Rogers muda dan Dale Evans sekarang mengenakan topi buatan tangan orang Jawa atau Indian Mesksiko yang dibentuk ulang, dilukis, serta dipotong di St. Louis.”

Pemerintah Hindia Belanda tak menyia-nyiakan kesempatan mendulang laba dari bisnis topi. Promosi topi Tangerang digalakkan mulai 1910. “Topi anyaman pandan dan bambu merupakan industri rumahtangga penting di Hindia Belanda. Ekspor topi meningkat dari 23.538.000 di tahun 1928 menjadi 25.613.000 di tahun 1929,” tulis Commerce Reports Vol. 1.

Foto. Hoedenvlechtsters aan het werk in Balaradja (between 1920 and 1935)
Foto: Hoedenvlechtsters aan het werk di Balaradja (antara 1920 dan 1935)

Namun, penyertaan anak-anak dalam proses produksi menjadi noda di balik bisnis topi Tangerang. Beberapa moralis Belanda menyorotinya. Thomas B Pleyte, Menteri Urusan Jajahan dari 1913-1916, menganggap industri tak lebih dari upaya pemiskinan pekerja. "Di rumah tangga yang tak memiliki sumber penghasilan lain selain menenun topi, semua dipaksa untuk membantu, termasuk anak-anak yang sangat kecil, dan satu temuan bahkan menunjukkan anak-anak paling kecil, yang masih tergantung pada perawatan ibu, sudah terpaksa jadi rekan-budak dalam perjuangan untuk makan sehari-hari," tulisnya sebagaimana dalam buku Labour in Southeast Asia: Local Processess in a Globalised World suntingan Becky Elmhirst dan Ratna Saptari.

Dari segi ekonomi pun topi Tangerang dijual tanpa merk sehingga kesejahteraan para produsen tak pernah beranjak naik. “Padahal topi-topi dari bambu itu sangat ringan dan dianyam dengan rapi. Kalau saja diperkenalkan sebagai ‘Topi Jawa’ tentu tak akan semahal topi Panama. Jika sudah begitu, topi dari Tangerang akan merajai Paris,” tulis Brousson.

Kisah topi Tangerang akhirnya memasuki masa senja ketika Depresi Ekonomi menghantam dunia pada 1930-an. Meski sempat kembali menggeliat usai Depresi, topi Tangerang berhenti menyusul masuk dan berkuasanya Jepang. Setelah Indonesia merdeka, produksi Tangerang kembali berjalan namun tak lagi semasif masa pra-perang. Kisah topi Tangerang yang masyhur di negeri orang tinggal kenangan.


Sumber: Historia.id

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu